
Naya memasukkan semua berkas-berkas kedalam tas nya. Dia senang sekali pengajuan judul skripsinya di ACC dosen pembimbingnya. Dia bergegas keluar ruang dosen. Hari ini Rian datang dari Batam. Lusa mereka akan terbang ke Batam. Naya akan mengikuti suaminya pergi.
"Aaahh... " Naya berteriak. Seseorang menarik tangannya, membawanya masuk keruang kelas yang kosong.
"Aldi ... " Naya terkejut melihat Aldi yang ada dihadapannya.
"Lama tidak berjumpa Naya"
"Mau apa kamu? Maaf aku harus pergi!"
Aldi menarik tangan Naya dan memeluk pinggang perempuan itu. Mendesaknya hingga kepinggir dinding.
"Lepaskan aku, Aldi!" Naya berusaha melepaskan diri dari dekapan Aldi. Namun Aldi makin memperkuat dekapannya.
"Tinggalkan laki-laki itu, Naya. Pergilah bersamaku. Aku mencintaimu, Naya"
"Aldi. Lepaskan aku. Aku ini istri orang. Aku sudah menikah. Aku tak mungkin ... "
"Tak mungkin meninggalkan suamimu? Begitukah Naya?"
"Iya" jawab Naya tegas.
"Lalu bagaimana dengan ku, Naya? Bagaimana dengan perasaanku ini?"
__ADS_1
"Maaf Aldi. Kamu tak boleh melakukan itu. Carilah perempuan lain yang bisa menerima mu, Aldi. Lepaskan aku. Lupakan aku, Aldi"
Aldi makin erat memeluk Naya. Naya berusaha berontak namun tenaga Aldi begitu kuat mendekapnya. Aldi makin menggila, dia berusaha mencium Naya. Memaksanya melakukan hal yang tak ingin dia lakukan selain bersama suaminya. Naya meronta. Hati dan tubuhnya menolak perlakuan Aldi.
Braaakk... Bruuuhgg....
Dua buah pukulan keras mendarat diwajah Aldi. Dia tersungkur dilantai. Rian berdiri dihadapannya. Wajahnya merah padam. Dadanya penuh sesak dengan amarah dan rasa cemburu. Dia hendak mencengkram kerah baju Aldi lalu menghadiahinya lagi dengan bogem mentahnya, namun Naya berteriak dan menarik lengannya.
"Kak Rian ... Cukup kak... Hentikan ..."
Rian menoleh ke arah istrinya. Dia melotot menatap Naya. Hatinya belum puas sampai dia bisa membuat Aldi babak belur.
"Sudahlah, ayo kita pergi" ajak Naya.
Rian masih memandang Aldi dengan wajah kesal. Naya membawa suaminya menuju mobil. Sepanjang perjalanan Rian hanya diam tak bicara sepatah katapun. Naya juga tak berani menegur suaminya.
Rian menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Nafasnya masih memburu. Rasa kesal dihatinya belum hilang. Naya meletakkan tas dan berkas-berkasnya diatas meja. Lalu menuju wastafel untuk membasuh wajahnya.
"Jadi selama ini kamu selalu bersama laki-laki itu dibelakangku?"
"Kak ..." ucap Naya setengah kesal.
"Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri. Dia memelukmu lalu hendak menciummu. Matanya penuh nafsu. Apa aku salah?"
__ADS_1
Naya diam dia tidak menjawab. Dia tahu suaminya sedang dilanda cemburu.
"Atau jangan-jangan kamu juga punya perasaan sama laki-laki itu?! Kamu selingkuh sama dia, Iya??!!!"
"Kak Rian!!!. Kamu keterlaluan. Selama ini aku sudah payah mempertahankan hati ini untukmu tapi kamu menilaiku serendah itu. Apa yang Kak Rian lihat tadi itu hanya sepihak. Dengarkan dulu penjelasanku?!" Naya mengatur nafasnya. Mengontrol emosinya.
"Kalau memang aku berniat selingkuh, kenapa tidak dari dulu aku lakukan" protes Naya.
Rian terhenyak mendengar ucapan istrinya. Naya benar, bertahun-tahun mereka hidup berjauhan namun Naya dengan setia menunggunya, menjaga cinta dan kesetiaannya, bahkan kesuciannya hanya diberikan Naya padanya, suaminya yang sah.
Rian bangun dari duduknya, dia mendekati Naya dan memeluknya. Menghujani istrinya dengan ciuman diwajah, kening, kepala dan lehernya. Dia sangat menyesal mengucapkan kata-kata itu.
"Maafkan Kak Rian, Sayang. Kak Rian tak rela laki-laki itu memeluk tubuh indahmu. Mencium bibir mungilmu itu. Kak Rian takut kehilanganmu"
"Kak ... Aku juga minta maaf. Aku tak berdaya melawannya. Aku juga takut Aldi bertindak kurang ajar tadi. Tapi Kak Rian selalu ada untukku. Selalu melindungi ku. Aku juga tak ingin kehilangan mu, Kak"
"Ya, Sayang ... Kak Rian yang salah. Seharusnya Kak Rian menemanimu tadi"
Akhirnya emosi kedua orang itu mereda. Mereka bisa berbicara dengan kepala dingin. Dengan hati yang terbuka. Naya menyandarkan kepalanya pada pelukan Rian.
"Aldi memang sejak awal mengejar-ngejar ku, namun aku tak memberikan respon apapun padanya"
"Kamu terlalu cantik, Sayang. Tapi aku tak mau kecantikan mu dinikmati laki-laki lain. Kalau sampai itu terjadi kuhajar dia sampai mati"
__ADS_1
"Aku tak mau Kak Rian melakukan itu. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan Kak Rian. Aku tak mau sendirian lagi, Kak"
******