
Sudah beberapa hari Adrian pulang larut malam. Pekerjaannya akhir-akhir ini menuntutnya untuk lembur. Namun hari ini sudah hampir pukul dua dini hari Rian belum pulang. Naya menunggunya dengan cemas dirumah.
Cekreeeeekkk ...
Pintu terbuka. Naya buru-buru melihat siapa yang datang.
"Kak Rian ... Malam sekali pulangnya"
"Iya, Dek. Tadi meninjau kantor cabang diluar kota. Sedikit melakukan observasi lapangan disana"
"Kak Rian sudah makan?"
"Sudah tadi. Kak Rian mau mandi dulu"
"Tunggu sebentar, Kak. Aku masak air panas buat mandi dulu"
"Hmmm..."
Naya menuju dapur. Dia memasak air panas untuk mandi suaminya. Menyiapkan handuk bersih yang diambilnya dilemari. Lalu memberikannya pada Rian.
Drrrr..... Drrr...
Ponsel Rian berbunyi. Naya melihat pada layar ponsel itu. "Ratna Kartika" sebuah nama perempuan.
"Siapa dia?" batin Naya.
Dia tidak menghiraukan panggilan telepon itu. Tapi dalam hatinya sungguh sangat penasaran. Setelah selesai mandi, Rian duduk di ruang depan lalu mengambil ponselnya. Dia keluar rumah dan menelepon seseorang.
Naya sedari tadi mengamati perilaku suaminya. Rasa penasaran makin menumpuk diujung hatinya. Namun dia mencoba mengendalikan dirinya.
__ADS_1
******
Seperti biasa pagi hari Naya menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Naya melihat ponsel suaminya yang tergeletak dimeja. Rian sepertinya masih dalam kamar mandi. Nekat Naya mengambil ponsel itu dan membukanya. Matanya melotot melihat banyak sekali pesan WhatsApp dari perempuan yang bernama."Ratna Kartika". Dia membacanya.
"Hi, Mas Rian... Apa kamu sudah bangun?"
"*Maaf ya, semalam kamu terpaksa menemaniku observasi lapangan. Terima kasih ya sudah mau mengantarku pulang"
"Nanti siang kita ketemu di kantin ya, aku traktir kamu makan siang sebagai ucapan terima kasih*"
Ada sedikit rasa kesal, sedih dan sakit di ujung hati Naya membaca pesan WhatsApp itu. Buru-buru dia meletakkan kembali ponsel Rian. Sepanjang perjalanan kesekolah Naya tidak banyak bicara, dia lebih memilih berdiam diri. Saat pelajaran berlangsung konsentrasinya terbagi. Dia tak bisa tidak memikirkan tentang pesan WhatsApp itu. Dia tidak membawa ponsel kesekolah. Disekolah dilarang membawa ponsel.
Mendekati waktu makan siang hati Naya semakin gusar. Dia makin tidak tenang.
"Kak Raya sedang apa, ya. Apa benar dia makan siang dengan perempuan centil itu?!" gumamnya.
Seharian dia uring-uringan disekolah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke pusat kota untuk menghilangkan rasa kesal dihatinya. Sekedar berjalan-jalan mencuci mata. Cuci mata?? Ya cuci mata. Mata Naya melotot saat melihat disebuah kafe dia melihat suaminya makan siang bersama seorang perempuan. Cantik. Gayanya elegan dan terawat. Beda sekali dengan dirinya yang kucel, pikir Naya. Naya kesal lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia lebih baik melihat-lihat kesebuah toko aksesoris. Menyenangkan mata dan hatinya barangkali. Sebenarnya dia tak ingin beli apapun disana. Dia hanya menghibur dirinya sendiri.
"Sudah pulang sekolah, Dek" tanya Rian.
Naya menganguk. Matanya melirik ke arah perempuan yang ada disamping suaminya. Perempuan yang sama dengan yang dia lihat di kafe tadi. Naya berusaha mengontrol dirinya. Dia menyalimi suaminya seperti biasa.
"Siapa dia, Mas Rian. Adikmu?!" tanya Ratna.
Rian terdiam sesaat. Dia mengangguk.
"Hai, aku Ratna Kartika. Satu divisi dengan Mas Rian"
"Hm.. aku Naya" jawab Naya singkat.
__ADS_1
"Baru pulang sekolah?"
"Iya?"
"Sedang mencari sesuatu?"
"Ah, tidak. Hanya menghilangkan suntuk saja"
"Ooo..."
"Aah... Aku duluan ya. Sudah sore" Naya hendak pergi menjauh dari mereka.
"Tunggu, Dek" cegah Rian.
"Ada apa, Kak?"
"Kamu pulang dengan siapa?"
"Naik angkutan umum saja"
"Kak, Rian antar pulang?"
"Tidak usah, Kak. Kak Rian harus kembali kekantor lagi bukan. Nanti terlambat kalau harus mengantarkan pulang"
"Tidak apa-apa pulang sendiri, Naya. Kebetulan kami bawa mobil kantor. Biar diantar saja sekalian" Ratna menawarkan tumpangan pada Naya. Kesal sekali Naya mendengar itu.
"Tidak usah, terima kasih" tungkas Naya.
Naya menghentikan angkutan umum yang melintas, lalu naik kedalamnya. Ada bom yang terus berpacu dalam hatinya. Rasa kesalnya melihat kejadian hari ini.
__ADS_1
******