
Rian terdiam. Dia tak bisa menduga apa yang terjadi diseberang sana. Sambungan telepon nya tiba-tiba terputus dan tak bisa dihubunginya lagi.
Dia hanya membolak balik surat pemecatan yang ada ditangannya. Dia seperti habis jatuh terpimpa tangga pula, perusahaannya memberhentikan dirinya secara sepihak. Mungkin ini ada campur tangan mertuanya disana sehingga dia di-PHK.
Belum selesai nasib malang yang dialaminya, pemilik kontrakan tadi pagi datang mengatakan bahwa dia tak memperpanjang kontrakannya, dan Rian diminta mencari kontrakan lainnya. Rian mengemasi baju-baju nya. Sudah dua hari dia luntang-lantung dijalanan. Tak ada orang yang mau menerimanya bekerja. Sisa uang gaji bulan ini pun habis untuk makannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana aku bisa menjemputmu Sayang? Untuk bertahan hidup disinipun aku tak tahu harus bagaimana?" gumam Rian.
Terpaksa dia harus menjual barang-barang yang dia miliki sekarang, pakaian, sepatu, bahkan ponselnya untuk menyewa sebuah gubuk kecil berukuran tiga kali empat meter. Ruangan kecil dan reot itulah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Jauh dari keramaian kota. Letaknya diujung kampung sebelah.
"Kak Rian harap kamu baik-baik saja disana, Sayang. Tunggah sampai Kak Rian datang menjemputmu. Jalani hari-hari mu dengan tabah. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Kak Rian tetap sayang padamu"
******
Naya baru saja selesai makan pagi. Semua kegiatannya dibatasi oleh para pengawal. Dia tak leluasa bergerak.
"Kak Rian, aku baik-baik saja disini. Kak Rian tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan setia menunggu Kak Rian menjemput ku. Aku akan tegar dan tabah Kak. Aku percaya padamu, Kak Rian. Aku sayang padamu, Kak. Aku merindukanmu"
Naya bertekad untuk tetap tegar dan tak mengeluh dengan semua ini. Dia percaya pada kesetiaan cinta mereka.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Papi ..."
David menoleh kearah pintu masuk. Naya memberanikan diri untuk bicara.
"Naya ingin bicara dengan, Papi"
David memberi kode agar para penjaga meninggalkan mereka berdua.
"Bicaralah" ucap David dingin.
"Maaf kalo ini merepotkan, papi. Naya mau minta sesuatu pada, Papi"
"Katakan!"
"Naya ingin melanjutkan kuliah, Pi. Naya ingin meneruskan pendidikan, Naya... Pi"
"Kuliah ... Selama ini kamu tetap sekolah? Laki-laki itu mengizinkan kamu sekolah?" tanya David.
"Iya, Pi. Kak Rian mengizinkan Naya sekolah, les atau mengikuti apapun kegiatan yang ingin Naya lakukan. Kak Rian memberikan kebebasan pada Naya untuk menikmati masa remaja Naya, seperti apa yang Naya inginkan. Dia yang membiayai semuanya, sekolah, les, kegiatan apapun itu dan semua hidup Naya disana menjadi tanggung jawab Kak Rian. Makanya Naya ingin sekali bisa melanjutkan kuliah Naya"
"Naya janji tidak akan mengecewakan, Papi. Naya ingin menjalankan kehidupan normal, tidak dalam belenggu seperti ini. Sampai Kak Rian datang menjemput ku"
David mendekat, memegang pundak putri nya.
"Baiklah. Kamu boleh kuliah. Tapi dengan syarat harus dalam pengawasan Papi"
Naya mendekat pada Papinya, mengambil punggung tangannya dan menciumnya. Meminta restu dari papinya. David hanya terdiam. .
"Naya. .." panggil David
__ADS_1
"Ya, Pi..."
"Kamu bilang selama ini kamu tetap bersekolah?"
"Benar, Pi"
"Apakah laki-laki itu tak pernah melakukan apapun padamu? Dia tak pernah menyentuh mu?" tanya David.
"Tidak, Pi. Kak Rian tak ingin mengganggu pendidikan Naya dulu. Kak Rian ingin aku menyelesaikan sekolahku dulu, menikmati masa remajaku dengan tenang"
David terdiam. Itu artinya putrinya masih perawan, karena Naya mengatakan kalau suaminya tak pernah menyentuh nya sedikitpun. Dia tak banyak bicara. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengurus ijazah Naya dan mendaftarkan nya di perguruan tinggi ternama di Bandung.
Naya lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di UNPAD dengan nilai yang baik di fakultas psikologi jurusan ilmu psikologi. David boleh bangga dengan pencapaian Naya itu.
******
Tok... Tok...
Cekreeeeekkk ...
"Teh ... " panggil Doni
"Ya, Dek" jawab Naya dari balkon kamarnya.
"Sedang apa, Teh Naya"
"Sedang membaca majalah. Oiya, bagaimana hari pertamamu di SMA?"
"Biasa aja, Teh. Tidak ada yang istimewa"
"Teh ... " panggil Doni.
"Hmmm..."
"Teh Naya kuat sekali. Doni kagum sama Teh Naya"
"Teh Naya hanya memasrahkam diri sama, Tuhan"
"Teh Naya mau sampai kapan begini?!"
"Maksudmu?!"
"Teh Naya kan sudah bersuami. Kenapa tidak kembali pada suami teh Naya. Teh Naya bisa kapan saja kabur dari sini. Dampingi suami teh Naya" ucap Doni.
Naya terdiam. Dia hanya tersenyum kecil.
"Teh Naya sudah berjanji akan menyelesaikan kuliah sama, Papi. Dan teh Naya juga menunggu Kak Rian menjemput. Dua peran dalam satu raga Teh Naya. Bakti seorang anak pada ayahnya dan juga pengabdian seorang istri pada suaminya. Teteh disini menunggu Kak Rian datang dan juga berusaha menyenangkan hati Papi"
"Teh Naya percaya pada, Kak Rian?"
"Iya, Teh Naya percaya pada Kak Rian seperti Kak Rian percaya pada teh Naya. Biarlah Tuhan yang menjaga Kak Rian dimanapun dia berada"
Doni menatap Naya dengan pandangan sendu. Dia tahu kakak tirinya sedang berpura-pura kuat. Berpura-pura tegar. Padahal dia tau setiap sholat Naya selalu menangis, dia sangat merindukan suaminya. Mengkhawatirkan keadaan laki-laki yang amat disayanginya. Doni pun tak bisa banyak membantu, dia hanyalah seoarang anak SMA biasa.
__ADS_1
******
Pasar sangat ramai hari itu, Rian masih duduk dikiosnya yang sepi. Hari-hari setelah kepergian Naya dirasakannya begitu sepi. Sepertinya ada yang hilang dari dirinya.
"Hei .. melamun saja. Awas ketempelan loh nanti"
"Aaah... Mang Usen bisa aja. Bikin buyar lamunan saya saja, Mang"
"Hmmmm.... Pasti lagi ngelamun jorok yaa...."
"Enak saja. Emang nya Mang Usen..."
"Mikirin apa sih. Serius amat sepertinya. Mikirin seseorang ya ...??!"
Rian mengangukkan kepalanya. Dia menyandarkan tubuhnya di tembok kios.
"Siapa? Pacar mu?" tanya Mang Usen cengengesan.
"Bukan, Mang! Istriku"
"Istri? Becanda kamu? Kamu sudah menikah?"
"Ya, kami menikah hampir tiga tahun yang lalu. Saya kangen Mang. Kangen sama istri saya"
"Istri mu kemana, Rian?"
"Kami dipaksa berpisah, Mang! Papinya tidak merestui hubungan kami"
"Sekarang dimana istrimu?"
"Dia dibawa papinya ke Bandung"
"Bandung? Mang Usen berasal dari Bandung. Dimana alamat mertuamu?"
"Itulah, Mang. Sejak kecil istriku tidak pernah bersama Papinya, tidak tinggal dengan almarhum kakeknya. Aku juga tidak tahu dimana dia sekarang. Yang aku tahu dia adalah anak dari seorang pengusaha susu sapi ternama di Bandung"
"Pengusaha susu mah banyak di Lembang, siapa nama keluarganya"
"David Myezha" ucap Rian menyebut nama mertuanya.
Mang Usen hampir memuntahkan kopi yang diminumnya. Dia terkejut mendengar nama David Myezha disebut.
"Tuan besar David Myezha?" tanya Mang Usen meyakinkan.
"Iya, dia papi kandung Naya. Istriku"
"Waaahhh.... Kamu melawan orang hebat. Kamu bukan tandingannya Rian. Dia bukan hanya penguasa, dia juga kenal dan punya hubungan baik dengan pejabat pentinf dinegeri ini. Keluarga Myezha sangat terpandang dan terkenal"
"Itulah, Mang"
"Sabar, Rian. Pasti ada hikmahnya dari semua ini"
Rian tersenyum kecil. Berusaha tegar dan kuat. Walau dalam hatinya sakit dan hancur. Tapi dia terus berusaha berjuang. Dulu, saat dia di PHK, beberapa lama menjadi gelandangan, akhirnya menyewa gubuk dan sebuah kios kelontongan. Dia mengambil semua tabungannya dan menyewa sebuah kios. Dia mencoba mengadu nasib dengan berdagang.
__ADS_1
Semula hanya ngampar di dalam pasar dan sekarang Alhamdulillah bisa menyewa kios kecil. Rian bertekad untuk mengumpulkan uang agar bisa menjemput dan membawa Naya dari rumah mertuanya.
******