Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Rindu Yang Terobati - Bagian Tiga


__ADS_3

"Teh ... " Doni turun dari kamar nya menuju ruang tengah, dia mencari kakak tirinya itu.


"Teh Naya mana Kak?" tanya Doni yang menjumpai kakak iparnya diruang tengah.


"Oo.. dia sedang ganti baju dikamar"


Naya keluar dari kamarnya sudah rapi lengkap dengan tas dan buku kuliahnya. Dia turun menuju ruang tengah rumah.


"Sudah siap, Dek?" tanya Naya.


"Eehh... "


"Kenapa?" tanya Naya heran.


"Teh Naya diantar Kak Rian saja hari ini. Doni sedang ada urusan lain ya, nanti siang baru ke kampus"


Doni pergi ke ruang kerja Papi nya mengambil sebuah kunci mobil dari dalam laci kerja Papinya. Lalu memberikannya pada Kak Rian.


"Ini Kak kunci mobilnya. Kak Rian pakai mobil yang dibagasi saja"


"Kamu mau kemana, Dek?" tanga Naya yang penasaran atas penolakan Doni tadi.


"Mau ke puskom sebentar ada yang mau Doni cek"


"Puskom kan masih di kampus juga, lagian kita kan satu kampus, Dek" protes Naya. Doni terkekeh-kekeh mendengar protes kakak tirinya, dia melirik pada Rian.


"Ya, sekali-sekali Doni libur dong Teh. Kan sudah ada Kak Rian, sopir pribadinya. Masa tidak mau diantar sama suaminya?!" goda Doni.


"Ya, mau dong" sipu Naya yang langsung merangkul tangan laki-laki halalnya itu.


"Ya, sudah. Ayo berangkat. Nanti terlambat" ajak Rian.


Mereka bertiga menuju halaman depan. Doni pamit lebih dulu menaiki mobilnya. Dia berjalan duluan kekampus. Naya dan Rian menaiki mobil yang satunya. Doni sengaja agar memberi kesempatan pada mereka berdua.

__ADS_1


Rian membukakan pintu mobil buat istrinya. Naya naik dan duduk di kursi depan. Rian siap dibalik kemudinya. Mereka menempuh perjalanan santai. Rian sengaja membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, agar bisa menikmati waktu lebih lama dengan istrinya.


******


"Yang semangat kuliahnya ya, Sayang" ucap Rian sambil mencium kening istrinya.


Naya mengambil tangan Rian, lalu mencium punggung tangannya. Meminta restu dari suaminya. Rian turun dan membukakan pintu mobil. Lalu kembali naik dan melajukan mobilnya kerumah.


Naya berjalan menuju gedung fakultas psikologi, menaiki tangga-tangga gedung. Dipojok gedung ada beberapa mahasiswa yang duduk mengobrol. Dia masuk dan melewati lorong lalu naik ke lantai tiga, menuju ruang kelasnya pagi ini.


"Pagi, Naya..." sapa Dima diruang kelas.


"Pagi, Dima ..." jawab Naya sambil tersenyum.


Dima melotot melihat suatu yang aneh pada temannya itu. Tumben sekali anak ini lebih ceria, batin Dima.


"Kenapa kemarin kamu tidak masuk kuliah. Tumben sekali, biasanya kamu paling rajin"


"Suamiku pulang"


"Apaan sih, Dima. Ya tentu saja aku mengurus semua keperluan suamiku dong. Dia kan baru datang. Masa mau aku tinggal"


Dima menyenggol lengan Naya. Dia senang menggoda temannya itu. Pantas saja Naya terlihat ceria dan bahagia, pikir Dima.


******


Perkuliahan selesai pukul tiga sore. Rian menjemput nya didepan halaman kampus. Naya segera mendekati mobil Rian. Rian menyambut istrinya dengan kecupan mesra dikeningnya. Lalu mereka pergi meninggalkan halaman kampus.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengamati mereka. Aldi.


"Rupanya orang itu yang telah mengikat hatimu, Naya. Laki-laki itu yang membuat kamu selalu menghindar dariku" Aldi mengepalkan tinjunya ke udara. Hatinya kesal dan panas melihat kemesraan Naya dan suaminya.


******

__ADS_1


Rian tidak langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah. Dia mampir kesebuah restoran mewah dipusat kota. Mereka masuk dan memesan makanan.


"Kenapa kita kesini, Kak?" tanya Naya heran.


"Merayakan pertemuan kita, Sayang"


"Apakah ini tidak berlebihan, Kak?"


"Tidak apa-apa. Sekali-kali"


Pelayan restoran mengantarkan pesanan mereka. Mereka menikmati makan sore berdua.


"Dek, ... Kak Rian ingin mengatakan sesuatu padamu"


"Ada apa, Kak"


"Bagaimana kuliahmu?"


"Minggu ini terkahir perkuliahan disemester ini. Tinggal menunggu nilai keluar, Kak. Semua mata kuliah sudah selesai, aku sengaja mengambil kuliah semester pendek, agar cepat habis semua mata kuliah. Jika disetujui, semeter besok aku akan mengajukan judul skripsi ku"


"Syukurlah"


"Kenapa, Kak?"


"Kalau hanya tinggal skripsi kamu bisa mengerjakannya disana bersamaku. Jadi Kak Rian tidak perlu mengkhawatirkannya kamu lagi. Kita tak perlu berjauhan lagi"


"Disana dimana?" tanya Naya


"Batam"


"Batam?"


"Ya, Dek. Oom Yusuf mengalih namakan perusahaannya atas nama Kak Rian sebagai satu-satunya keluarga yang dia punya. Jadi Kak Rian harus mengurus perusahaan itu dengan baik. Sementara itu Kak Rian juga harus membagi waktu dan pikiran serta tenaga dengan bisnis waralaba yang Kak Rian rintis sendiri. Jadi jika kamu ada disana, mendampingi Kak Rian, Kak Rian akan merasa sedikit tenang. Kamu mau kan ikut kemana pun suamimu pergi?" Rian menggengam tangan istrinya. Naya tersenyum dan mengangguk. Rian menarik nafas lega.

__ADS_1


"Terima Kasih, Sayang"


******


__ADS_2