
"Hai ... Ukhti ... Apa kabar?"
Naya menoleh pada sosok laki-laki yang menyapanya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Wah, sepertinya suara mu mahal sekali. Susah sekali mengajakmu bicara. Apa aku ini tipe penggangu?" tanya Aldi
"Tidak" ucap Naya namun dalam hatinya dia bilang "Iya".
"Baca apa?"
"Panduan dasar psikologi"
"Bagaimana kuliah mu? Nyaman belajar disini"
Naya hanya tersenyum. Nyaman sih jika tidak ada kamu, batinnya. Dia tak memperdulikan keberadaan Aldi yang duduk disampingnya.
"Ini orang tidak ada kerjaan tah, sehingga kelayapan mengganggu orang melulu" batin Naya.
"Kamu cantik sekali" Aldi makin mendekatkan dirinya.
Naya melotot dan menutup bukunya. Dia hendak beranjak pergi. Namun Aldi merarik tangannya.
"Aku suka caramu. Membuat aku makin tertantang. Awalnya malu-malu kucing. Tapi aku yakin kamu akan bertekuk lutut padaku, cantik" Aldi makin berani mendekati Naya. Dia makin tertantang melihat penolakan Naya padanya.
"Lepaskan aku! Jangan lancang" ancam Naya.
"Waw... Kamu semakin menarik. Aku semakin suka padamu"
Naya bergegas meninggalkan Aldi seorang diri dia masuk kedalam ruang kelas. Perkuliahan belum dimulai. Namun beberpa mahasiswa sudah duduk dalam ruang kelas.
"Kamu kenapa, Naya?" tegur seorang temannya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja orang itu membuatku tak nyaman"
"Orang itu? Siapa?" Dima penasaran dengan cerita Naya. Dia duduk disebelah Naya yang sedang kesal.
"Laki-laki yang menyebalkan itu. Mahluk planet yang aneh bin ajaib itu'
__ADS_1
"Laki-laki menyebalkan? Mahluk planet?"
"Iya" jawab Naya singkat.
"Iya, siapa?"
"Aldi Mahesa"
"Apaaa!!!?" Dima berteriak terkejut.
Dia berdiri melotot. Seisi kelas menoleh pada mereka berdua. Naya tertunduk malu melihat kelakuan Dima. Naya menarik tangan temannya itu. Dima kembali duduk.
"Sekalian saja pakai toak mesjid kamu ngomongnya. Biar satu kampus dengar semua" sewot Naya.
Dima tertawa perlahan.
"Aah... Maaf. Lalu apa yang dia katakan. Dia menggoda mu?"
Naya menganguk.
"Aldi memang idola dikampus. Kamu beruntung kalau dia mengejarmu. Bisa-bisa mahasiswi sekampus ini jadi patah hati"
"Masa iya kamu tak tertarik. Dia tampan. Jago musik. Gagah dan juga kaya. Sempurna"
"Masa bodo"
"Kamu tidak tertarik?"
Naya menggelengkan kepalanya.
"Yang benar?"
"Sepuluh ribu persen benar"
"Kamu tidak lesbi kan, Naya?"
"Enak saja. Aku ini perempuan normal"
__ADS_1
"Jangan-jangan kamu punya pacar diluar sana?"
"Ya, pacar dunia akhirat ku. Dan aku menunggunya kembali"
Dima tak paham apa maksud ucapan Naya. Dan Naya tak meladeni lagi ucapan Dima. Dosen sudah masuk dalam ruang kelas. Perkuliahan siang itu dimulai dan baru selesai pukul dua siang.
******
"Hai ... Mau pulang?" sapa Aldi yang sudah bertengger diatas sepeda motornya.
"Ya" jawab Naya yang langsung pergi menghindari Aldi.
"Aku antar?"
"Tidak, terima kasih"
"Ayolah, sekali-kali kita jalan sebentar. Tidak bosan apa belajar melulu?!"
"Maaf ... Aku tidak bisa"
"Kenapa?"
Tak lama mobil yang menjemputnya datang. Seorang pengawal membukakan pintu untuk nya. Naya masuk kedalam. Lalu segera menjauh dari Aldi yang menatapnya sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.
"Sepertinya kamu tak punya kesempatan" ucap Dima.
"Apa maksudmu?" tanya Aldi.
"Dia sudah punya pacar. Dan tampaknya dia sangat mencintai pacarnya itu"
"Selama janur kuning belum melengkung, tak ada yang tak mungkin untuk ku mendapatkannya. Selama dia belum jadi istri orang, aku tak akan menyerah"
"Kami yakin sekali. Bagaimana kalau Naya tetap menolaknya"
"Tak akan mungkin itu terjadi" sesumbar Aldi.
Dima hanya tertawa kecil melihat kepercayaan diri laki-laki yang ada dihadapannya. Dia sudah tergila-gila pada Naya, batin Dima.
__ADS_1
"Tapi kenapa Naya sama sekali tak menggubris Aldi, ya. Seperti apa sih pacarnya itu sampai-sampai dibelanya mati-matian?!"
******