Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Awal Perjalanan


__ADS_3

Sepulangnya dari sekolah Naya langsung membereskan rumah serta barang-barang nya kemarin. Mencuci semua piring dan baju. Lalu menyapu semua bagian rumah. Hari ini Adrian pulang agak malam, ada rapat koordinasi di kantornya. Baru pukul sembilan malam dia tiba dirumah.


Mereka membagi kunci rumah, sehingga Rian bisa masuk tanpa harus membangunkan istrinya. Dia menutup pintu perlahan-lahan. Naya tertidur di depan televisi. Rian berjongkok lalu mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya kekamar.


"Kak ..." ucap Naya separuh sadar dari tidurnya.


"Maaf ya, Sayang ... Membangunkan tidurmu?"


Naya bangun dari tidurnya. Lalu duduk ditepi tempat tidur. Rian duduk bersisian didekatnya.


"Kak Rian baru pulang" tanya Naya.


"Hmm....."


"Mau ku buatkan sesuatu?"


"Tidak usah. Tidurlah. Besok kamu harus sekolah, bukan" Rian menyelimuti istrinya. Mengecup keningnya. Dia pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Baru dia tidur diruang depan.


******


"Kak ... " panggil Naya sebelum berangkat kesekolah pagi itu.


"Ya, Sayang ..."


"Aku minta uang, perlu beberapa buku. Sepulang sekolah nanti aku akan mampir di toko buku"


"Ambil saja didompet. Didekat televisi" jawab Rian yang masih merapihkan rambutnya didepan cermin dikamar.


"Ini dompet nya, Kak" Naya datang mendekati suaminya sambil menyodorkan dompet hitam.


"Sudah kamu ambil uangnya?" tanya Rian. Naya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa" tanya Rian sambil mengerutkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Tidak berani" jawab Naya sambil tersenyum. Adrian tertawa. Dia gemes sekali melihat pola istrinya yang manis itu.


"Ambil saja, Sayang" Rian membelai kepala perempuan halalnya itu.


"Boleh??" tanya Naya meyakinkan.


"Tentu saja. Tadi sudah Kak Rian izinkan, bukan?" ucap Rian kemudian. Naya tersenyum lalu mengambil dua lembar uang seratus ribu. Rian meliriknya dari balik cermin. Naya lalu memberikan lagi dompetnya pada suaminya.


"Cukup, Dek?" tanya Rian.


"Cukup, Kak" Naya memberikan dompet pada Rian. Rian menerima dompet itu. Lalu mengambil beberapa lembar lagi. Dari dalam dompetnya. Dan memberikannya ketangan istrinya.


"Buat apa ini, Kak"


"Kemarin Kak Rian gajian, sudah di potong sewa rumah serta listrik. Ini sisanya buat belanja kita sehari-hari dan uang jajan kamu sekolah. Maaf ya, gaji Kak Rian tidak besar. Jadi Kak Rian hanya bisa memberimu sedikit. Doakan saja semoga Kak Rian bisa mendapat kesempatan yang lebih baik untuk memperbaiki kehidupan kita, Sayang?!"


"Aamiin .. tidak apa-apa, Kak. Segini pun aku sudah sangat bersyukur"


"Terima kasih Sayang, atas pengertianmu"


*****


Pukul enam sore Rian sudah sampai dirumah. Naya menyambutnya dengan senyuman, menyalami suaminya lalu menyiapkan air hangat buat Rian membersihkan diri. Rian yang sudah rapi berpakaian dengan baju kokonya dan sarung, seperti biasanya dia pergi sholat berjamaah di masjid jika dia sedang berada dirumah. Naya menunggunya dirumah sambil mengerjakan PR nya.


"Sedang apa, Dek?" tanya Rian pada Naya.


"Buat PR, Kak" Naya menyalami suaminya lalu pergi ke dapur membuatkan minuman suaminya.


"Minumnya, Kak" Naya meletakkan segelas minuman dihadapan laki-laki halalnya.


"Terima kasih, Sayang"


Naya kembali duduk dan fokus pada PR nya.

__ADS_1


"Fisika?" tanya Rian.


"Iya, susah sekali"


"Coba Kak Rian lihat!"


"Hmmm.... Ini seperti ini, Dek. Cara mu salah makanya tidak ketemu hasil nya. Sini Kak Rian jelaskan"


Naya memperhatikan dengan seksama penjelasan Rian. Diam-diam dia kagum juga dengan sosok suaminya itu. Selain soleh, rajin, gigih, Rian juga pintar. Dia lulusan Teknik Pertambangan ITB dan melanjutkan gelar megister nya di The University of Western Australia dengan jurusan yang sama.


"Kenapa kamu melihat seperti itu" Rian menatap heran pada istrinya.


"Kak Rian pintar sekali"


"Biasa saja, Dek. Asal kita rajin pasti kita bisa. Kuncinya hanya ketekunan"


"Kak, Rian kan lulusan S2 luar negeri. Kenapa kerjanya hanya jadi seles, Kak?"


"Sudah jalan nasibnya seperti ini, Dek. Yang penting aku punya tanggung jawab untuk menafkahi istriku tercinta. Kamu tak malu kan punya suami yang kerjanya hanya seorang seles penjualan, Dek?"


"Banyak sedikitnya tergantung hati kita menyikapinya, yang penting berkah nya. Seperti ini pun aku sudah sangat bersyukur punya suami seperti Kak Rian. Kak Rian begitu baik" ucap Naya sambil tersenyum.


"Kak, Rian juga sangat beruntung punya istri berhati bidadari seperti kamu, Sayang. Kamu itu anugrah terindah dari Tuhan untuk Kak Rian. Perempuan tercantik yang paling Kak Rian sayangi, yang paling ingin Kak Rian lindungi"


Rian memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya. Membelainya dengan lembut. Dia mendekatkan wajahnya pada Naya. Mereka saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat. Rian tak bisa mengontrol nada nafasnya, detak jantungnya. Dia makin merapatkan tubuhnya pada istrinya. Mendekatkan bibirnya pada bibir manis Kanaya, mengajak bibir manis itu bermain-main. Mengigit kecil bibir bawah Kanaya. Lalu dia mulai menjelajahi leher Naya dan makin tak bisa mengendalikan dirinya.


"Kak ..." Naya nyaris terteriak merespon perbuatan suaminya.


Rian tersadar. Dia duduk dan mengatur nafasnya, mengatur hatinya. Naya merapihkan pakaiannya. Rian memeluk istrinya mencium kepalanya dan meminta maaf pada istrinya.


"Maafkan, sayang. Kak Rian hampir saja tak bisa mengendalikan diri" Rian merasa bersalah pada Kanaya.


"Maaf ya, Kak. Aku menyusahkan Kak Rian" Naya pun merasa tak enak hati pada laki-laki halalnya itu.

__ADS_1


"Tidak Sayang, Kak Rian yang tak bisa mengendalikan diri. Kamu kembali lah kekamarmu. Beristirahatlah. Kak Rian takut makin brutal dan makin tak bisa mengendalikan diri" pinta Rian pada Naya.


******


__ADS_2