
Lia panik ketika kedatangan walikelas dan guru bimbingan konseling Una kerumahnya. Mereka mengatakan kalau Una sudah seminggu ini tidak sekolah tanpa keterangan. Padahal beberapa bulan lagi mereka sudah akan menghadapi UN.
Beberapa kali surat panggilan tidak pernah direspon oleh orang tua, sehingga pihak sekolah memutuskan untuk melakukan home visit. Lis sendiri hanya mengetahui kalau anaknya sedang ada kegitan sekolah, dia menginap dirumah teman kelasnya untuk belajar kelompok.
Namun hal ini membuat Lis gelisah, pasalnya bukan hanya masalah sekolah Una saja namun putrinya sendiri sudah seminggu tidak pulang kerumah. Lis berkali-kali menghubungi ponsel Una namun tak ada jawaban.
******
"Doni ..." panggil Lis.
"Kamu tahu dimana teteh, kamu?" tanya Lis lagi.
"Teh Una?"
"Iya, sudah seminggu ini dia tidak pulang kerumah. Mami jadi cemas"
"Memangnya Teh Una tidak pamit sama Mami?"
"Dia hanya bilang akan menginap dirumah temannya"
"Sudah coba hubungi ponselnya?"
"Tidak aktif"
Permbicaraan mereka terhenti saat seorang pelayan masuk dan memberitahukan kedatangan para polisi kerumah mereka.
__ADS_1
"Selamat siang ibu"
"Selamat siang. Maaf ada apa bapak-bapak polisi kerumah saya?"
"Apa benar kalau anak ibu bernama Chaterine Una Murillo?"
"Benar, Una adalah anak saya. Ada apa dengan anak saya, Pak"
Para polisi terdiam dan saling berpandangan. Seorang dari mereka akhirnya berkata.
"Anak ibu Una, ditemukan tewas di sebuah villa di daerah Batu. Untuk lebih jelasnya ibu bisa ikut kami melihat di TKP"
"Tewas? Dia dibunuh?" teriak Lis tak percaya.
"Hanya saja apa, Pak?" tanya Lis.
"Hanya saja ditemukan jejak kejahatan sexual pada saudari Una. Diduga dia diperkosa lalu terjatuh dari lantai dua dan tewas seketika" jelas polisi tadi.
Lis histeris mendengarnya. Doni yang berada disampingnya pun tak kalah panik melihat maminya yang histeris seperti itu. Lis langsung tak sadarkam diri. Doni membaringkannya diatas sofa. Dia menghubungi Papinya yang berada di Lembang. Mereka semua melihat ke TKP. Lis tak kuat melihat keadaan anaknya itu. Berkali-kali dia tak sadarkan diri. Doni membawa mami nya kembali ke rumah.
Polisi kehilangan jejak pelaku, villa itu disewa atas nama Una dan dia sendirilah yang membayar lunas villa itu untuk satu bulan kedepan. Sedangkan mobil yang tertinggal di TKP adalah mobil Una. Sidik jari yang tertinggal dirumah itu hanya milik Una.
"Tidak ada jejak yang bisa kita selidiki disini, Pak. Sidik jari yang tertinggalpun hanya milik korban. Baik di TKP ataupun gelas dan botol minuman yang tertinggal. Sepertinya hal ini sudah direncanakan dengan rapi"
"Bagaimana mungkin tak ada satupun sidik jari?" tanya Lis
__ADS_1
"Sepertinya pelaku memakai sarung tangan karet, sehingga tidak tersisa jejak di TKP"
David tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya terpana melihat semua kejadian ini. Una sudah diasuhnya sejak bayi. Dia sangat memanjakan Una. Bahkan melebihi anak kandungnya sendiri. Sementara itu Lis yang tidak bisa menerima kenyataan ini sangat terganggu jiwanya. Dia menjadi sangat depresi dan stress. Sehingga dia bisa membahayakan dirinya sendiri.
Mau tak mau David harus membawanya kerumah sakit jiwa untuk di obati. Dan David sendiri sangat trauma dengan semua kejadian ini. Dia kehilangan anak sekaligus harus menyaksikan istrinya yang terbelenggu dirumah sakit jiwa.
******
Naya yang mendapat kabar dari Doni sangat terkejut. Doni mencetitakan semuanya sambil terisak-isak. Walaupun dia tak suka perangai maminya, namun dia sangat menyayangi mami nya.
"Doni harus bagaimana, Teh" tanya Doni.
Naya seketika kehilangan kata-katanya. Dia juga begitu shock mendengar kabar itu.
"Teh Naya juga tidak tahu harus bagaimana, Dek. Teh Naya harap kamu sabar ya. Kamu harus mendoakan mami Lis agar dia bisa segera sembuh"
"Iya, teh. Doni akan berusaha tegar. Doni harap teteh jaga diri baik-baik disana. Cuma tinggal teh Naya, saudara yang Doni punya sekarang"
"Ya, Dek. Kamu juga baik-baik disana ya. Tolong jaga Papi dan mami Lis buat teh Naya"
"Ya, Teh"
Naya menutup teleponnya. Dia terdiam. Hatinya masih belum percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Rian yang ada disampingnya bertanya pada istrinya. Dengan tangan gemetar dan terbata-bata Naya menceritakan semuanya, percis seperti apa yang dikatakan Doni.
******
__ADS_1