
"Nanti pulang nya, Doni jemput Teh Naya ya. Hari ini Doni kuliah pagi saja" ucap Doni didalam mobil.
"Ya, Dek" Naya memasuki gedung kampusnya. Berjalan melewati lorong kampus. Kelasnya berada di lantai dua. Saat dia hendak menaiki tangga, seseorang menarik tangannya.
"Aldi ... " Naya berteriak saat Aldi menarik tangannya.
"Aku ingin bicara padamu, Naya"
"Maaf aku sedang ..."
"Sedang buru-buru? Kamu selalu menghindar dariku. Sekarang aku tak akan memberi mu kesempatan untuk melarikan diri" kali ini mimik wajah Aldi lebih serius dari biasanya. Naya berusaha menghindar dan hendak lari dari Aldi. Namun Aldi menari tangan Naya dan membawanya kebalik tembok bawah tangga. Naya terpojok.
"Aku hanya minta waktumu sebentar saja , Naya. Ada hal penting yang ingin aku katakan"
Naya diam. Dia menundukkan wajahnya. Kali ini Aldi tak seperti biasanya. Aldi mendekatkan tubuhnya kearah Naya. Dia membelai pipi perempuan yang ada dihadapannya. Naya mengelak. Dia menggeser langkahnya kesamping. Namun, lagi-lagi Aldi bergerak lebih cepat.
"Kenapa kamu menghindar dariku?" tanya Aldi.
"Menyingkirlah. Biarkan aku pergi, Aldi"
"Tidak sebelum kami menjawab pertanyaan ku, Naya" Aldi memegang dagu Naya. Dia menatap mata perempuan itu dalam-dalam, Naya memalingkan wajahnya.
"Naya ... Aku mencintaimu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Naya. Semula aku hanya menggodamu saja. Namun, akhirnya aku sadar aku benar-benar mencintaimu. Aku harap kamu mau menerima ku, Naya"
Naya menepis tangan Aldi dan mundur beberapa langkah.
"Maafkan, aku. Aku tidak bisa Aldi"
"Kenapa? Apa karena pacar mu itu? Aku serius dengan hubungan ini Naya!?"
__ADS_1
"Maaf Aldi, aku tak bisa"
"Katakan alasannya?" Aldi berkata dengan sedikit menaikkan nada suarany.
"Aku ... Aku sudah menikah. Aku sudah punya suami. Kami menikah enam tahun yang lalu"
Aldi terperanjat mendengarnya. Naya menunjukkan cincin kawin yang dipakainya di jati manis tangan kanannya.
"Kamu pasti bohong"
Aldi kalap, dia memeluk Naya lalu berusaha menciumnya. Naya berontak dan mendorong Aldi hingga terjatuh. Naya berlari sekuat tenaga. Dia terduduk di bawah kursi taman yang ada di depan gedung fakultas nya.
Tubuhnya gemetar. Jantungnya berdegup kencang dan airmatanya menetes.
"Kak Rian, aku takut ..." gumamnya.
"Naya ..." panggil Dima. Naya masih gemetar dengan kejadian yang baru dia alami. Naya masih mengatur nafasnya yang tersengal.
"Kamu kenapa, Naya?" tanya Dima lagi.
"Aldi ... " ucap Naya.
"Aldi kenapa?"
Dima duduk di hadapan Naya. Dia mendengar dengan baik cerita Naya.
"Sudahku duga, Aldi benar-benar mencintaimu sampai-sampai nekat berbuat seperti itu. Dia pasti shock mendengar kamu sudah punya pacar"
"Suami" jelas Naya.
__ADS_1
"Apa?? Suami?! Kamu bercanda, bukan?" Dima separuh tak percaya mendengar ucapan Kanaya.
"Tidak, aku serius Dima. Aku sudah menikah. Aku sudah jadi istri orang. Aku tak mau menghianati suamiku. Dia begitu baik padaku" tegas Naya.
"Ya, Tuhan ... Jadi kamu benar sudah menikah?!"
"Ya, enam tahun yang lalu"
"Kasihan Aldi.. dia pasti akan benar-benar patah hati sekarang ini"
Obrolan mereka harus terhenti dengan kedatangan sebuah fortuner hitam berhenti dihadapan mereka, Naya berpamitan pada Dima. Doni sudah menjemputnya.
"Sudah lama menunggu, Teh?" tanya Doni.
"Baru saja, Dek"
"Kita mampir dulu sebentar ya, Teh. Doni lapar nih. Kita makan di kafe langganan saja"
Naya menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa lapar. Ketegangan dikampus tadi menguras semua energinya. Membuat lambungnya lebih cepat mencerna makanan.
Doni memarkirkan mobilnya di halaman depan kafe. Lalu membukakan pintu mobil buat tetehnya. Mereka mencari kursi yang kosong lalu memesan makanan.
"Kita jangan lama-lama, Dek. Papi malam ini mau berangkat ke Malaysia"
"Aahh... Iya, Kak. Pesawatnya baru akan berangkat pukul lima nanti Kak"
"Ya, sudah habiskan makananmu. Lalu kita segera pulang" ucap Naya. Entah apa yang membuat Naya kali ini ingin pulang lebih cepat kerumah. Dia seperti merasakan sesuatu, tapi entah apa.
*****
__ADS_1