
"Begitu rupanya? Apa kamu yakin tidak salah orang?!" tanya David pada orang suruhannya.
"Yakin, Tuan. Kami sudah memantaunya selama seminggu ini. Tidak salah lagi. Itu adalah Nona Naya"
"Naiklah, lusa kita berangkat ke Pekanbaru siapkan segalanya dengan matang" titah David pada orang-orang kepercayaannya.
"Baik, Tuan!!"
David mencengkram lengan kursi yang didudukinya itu. Wajahnya berubah sangat menakutkan.
"Menikah? Bisa-bisanya dia menikah tanpa restu dariku. Aku tak izinkan putriku menikah dengan laki-laki miskin itu. Aku tak mengizinkan darah keluarga Myezha tercampur dengan darah manusia rendahan seperti itu" geram David yang baru mengetahui kalau Naya benar-benar telah menikah dengan laki-laki yang dulu pernah diceritakannya.
******
Kanaya sejak semalam tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya sangat gelisah. Entah apa ini? Firasat apa yang dia rasakan. Hatinya merasa tidak tenang sekali. Kedua telapak tangannya dingin seperti orang ketakutan. Wajahnya pias.
"Ada apa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Rian.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku baik-baik saja. Hanya saja hati ini kok tidak tenang ya"
Rian mendekati istrinya yang duduk ditepi tempat tidur. Dia merangkulkan tangannya dipundak Naya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu jadi gelisah seperti ini?"
"Entahlah, Kak. Sudah beberapa hari ini aku tak bisa tidur. Hatiku tak tenang. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk. Aku takut, Kak" Naya benar-benar pias malam itu. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Mimpi buruk dan rasa cemas menyelimuti hatinya.
Rian memegang tangan istrinya. Dia terkejut, tangan Naya benar-benar dingin. Dia sangat ketakutan. Rian menggengam kedua tangan Naya. Memberinya kekuatan hati.
"Sayang, semoga apa yang kamu takutkan tidak terjadi. Percayalah! Kak Rian akan berada disisimu"
"Kak ..." panggil Naya lirih.
"Hmmm..."
__ADS_1
"Aku takut..."
"Jangan takut, Sayang. Kak Rian ada disini"
"Aku takut akan terjadi apa-apa. Aku takut kehilanganmu. Beberapa hari ini aku mimpi buruk, Kak. Aku takut sendirian"
Rian memeluk istrinya. Mencium keningnya. Mencoba menenangkan perempuan kesayangannya itu.
"Dek, pasrahkan semuanya pada, Tuhan. Kita hanya tinggal menjalankan takdir darinya saja. Percayalah, apapun yang terjadi, Kak Rian akan tetap menjadi Kak Rian yang sekarang. Akan tetap menjadi suamimu yang akan menjaga dan melindungimu. Kak Rian tak akan memberikan kesempatan pada perempuan manapun untuk masuk kedalam hati ini. Dalam hati Kak Rian cuma ada kamu, istri kak Rian yang sangat Kak Rian sayangi dengan seluruh jiwa dan raga. Percayalah, sayang" Rian memeluk perempuan halalnya.
"Ya, Kak. Aku percaya sama, Kak Rian. Aku pun demikian, Kak. Aku akan menjaga hati ini, jiwa raga ini bahkan tubuh ini hanya untuk laki-laki yang paling aku sayang. Aku janji akan tetap setia pada cinta kita. Percaya pada kekuatan cinta kita, Kak" papar Naya.
Rian begitu bahagia mendengarnya. Sekali lagi dia menyandarkan tubuh Naya dalam dadanya. Memeluknya penuh kasih. Bagi mereka kekuatan terbesar adalah saling menjaga hati satu sama lain. Menjaga kepercayaan pasangannya.
"Dengar Sayang, Kak Rian juga begitu. Apapun yang terjadi nantinya. Jiwa raga Kak Rian hanya untukmu. Akan tetap terjaga untukmu"
"I love you, Kak ... "
"I love you too, my dear ... Aku sayang padamu, Naya ..."
******
Tok... tok.... tok ....
Suara pintu di gedor dengan kasar oleh seseorang. Rian bangkit dari duduknya dan membukakan pintu depan.
"Siapa kalian?" tanya Rian pada tiga orang laki-laki berubuh tinggi besar yang ada dihadapannya.
Tiga laki-laki itu menyerobot masuk. Lalu dibelakangnya ada empat orang laki-laki lagi mengikuti mereka. Salah satu di antaranya adalah seorang laki-laki tua berambut ikal dan berbadan besar dan tinggi. Gayanya sangat perlente. Dia berjalan mendekat pada Rian.
"Apa kamu yang bernama Adrian?" tanyanya pada Rian.
"Anda siapa? Ada perlu apa dengan saya?"
__ADS_1
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Rian.
"Dimana Naya!?" tanyanya tanpa memperdulikan pertanyaan Rian.
"Ada perlu apa anda mencari Naya?"
Naya yang sedari tadi mendengar keributan di luar itu bergegas keluar. Sepertinya dia sangat mengenali suara itu Dan benar seperti dugaannya itu. Dia terkejut melihat siapa yang datang.
"Papi ..." ucap Naya yang terkejut melihat sosok Papinya yang muncul dihadapannya. Rian menoleh pada istrinya.
"Papi?" ucapnya perlahan. Rian memandang pada laki-laki yang ada dihadapannya.
"Ya, aku David Myezha. Papi nya Kanaya"
Kali ini Rian lah yang dibuat terkejut. Rupanya laki-laki yang ada dihadapannya adalah Papi mertuanya sendiri. Naya mendekat kearah Rian. Menggandeng lengan suaminya. David memandangnya dengan pandangan tidak suka.
"Ada apa Papi kesini?" tanya Naya.
"Kamu harus ikut Papi kembali ke Bandung"
"Tidak, Pi. Naya tidak mau. Naya mau disini bersama Kak Rian, suami Naya"
"Suami? Papi tidak sudi punya menantu seperti ini. Kamu harus kembali ke Bandung bersama Papi. Untuk apa kamu hidup susah disini bersama laki-laki miskin ini"
"Naya sangat mencintai Kak Rian, Pi. Kami sudah menikah. Sekarang Naya adalah istri Kak Rian. Jadi Naya harus ikut kemana Kak Rian pergi" sangkal Naya.
Wajah David menjadi merah padam mendengar ucapan putri kandungnya. David menarik tangan Naya. Rian berusaha mencegahnya namun dua orang laki-laki tadi menahannya.
"Tidak ada kata tidak. Kamu harus ikut Papi" David menyeret Naya kemobil. Dua orang penjaga langsung memblokade pintu mobil.
Lalu pergi meninggalkan Rian yang berusaha mengejarnya. Namun lima orang pengawal tadi mengepungnya. Dua diantaranya memegang tangannya dan yang lainnya menghajar Rian habis-habisan. Mereka tak memberikan kesempatan pada Rian untuk melawan.
Rian bisa saja dengan sangat mudah melawan. Namun kedua tangannya dicekal dan dihajar bertubi-tubi. Lima lawan satu adalah perkelahian yang tak seimbang. Rian tumbang dan tergeletak di jalan penuh luka dan darah. Dia dibiarkan begitu saja. Hujan deras pun turun membasahi bumi. Pada centeng tadi pergi meninggalkan Rian yang tak sadarkan diri di jalanan.
__ADS_1
******