Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Pindah Menuju Hidup Baru


__ADS_3

Pengurusan surat pindah dan surat pengantar berkas pernikahan mereka sudah selesai. Sebulan lagi buku nikah mereka selesai. Rian langsung mengurus berkas pernikahan mereka untuk segera mendapatkan buku nikah karena mereka akan pindah keluar kota. Mereka butuh dokumen itu untuk berkas kependudukan mereka.


"Sudah semua di masukkan kemobil, Dek?" tanya Rian.


"Sudah, Kak. Aku sudah mengeceknya lagi tadi" jawab Naya.


"Ayo, masuk. Kita harus berangkat sekarang"


Naya memandang sekali lagi rumah tua peninggalan kakeknya itu, dari tiap sudut ke sudut. Merekam semua kenangan itu di ingatannya. Menyimpannya kedalam hatinya yang terdalam. Rian membukakan pintu mobil buat istrinya. Mobil travel itu membawa mereka ke bandara. Lalu melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat selama kurang lebih empat jam perjalanan udara.


Pukul sembilan malam mereka tiba di rumah kontrakan Adrian. Rumah kecil yang hanya memiliki satu kamar, dan ruangan lebar di depannya yang digunakan sebagai ruang tamu sekaligus dapur.


"Nanti saja dibereskan barang-barang nya. Kamu bersihkan dulu dirimu lalu beristirahat lah. Besok pagi kita urus sekolah barumu" ucap Rian. Naya menuruti perintah suaminya, dia mengambil handuk dan pakaian ganti dari dalam tasnya. Lalu pergi membersihkan diri di kamar mandi yang terletak diujung ruangan.


Rian masuk kamar mandi setelah Naya selesai membersihkan diri. Naya masuk kekamar dan membersihkan kamar. Lalu membawa masuk koper dan tas pakaiannya. Dia menyimpannya diujung kamar. Selesai itu dia kembali keruang depan, Rian sudah rapi dengan baju ganti.


"Kak Rian mau minum sesuatu?" tanya Naya.


"Tolong, buatkan coklat hangat ya, Dek"

__ADS_1


Naya tersenyum dan mengangguk. Dia masak air lalu menyeduh bubuk coklat yang ada di meja dekat kompor.


"Ini, Kak. Minumlah mumpung masih hangat" Naya meletakkan cangkir coklat itu didepan suaminya.


"Terima kasih, Sayang" Rian menyeruput coklat hangat itu. Wajahnya berubah cerah. Ini coklat terenak yang pernah dia minum, racikannya pas di lidahnya.


"Ini adalah coklat terenak yang pernah aku minum" puji Rian pada gadis manis itu.


Perempuan berparas cantik itu tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia menggeser posisi duduknya. Bersisian dengan suaminya. Menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.


"Kak ... " panggilnya lembut.


"Hmm..."


"Untuk apa?" tanya Rian.


"Untuk semuanya yang sudah Kak Rian lakukan buatku"


"Sayang, kamu sekarang adalah istriku, hidupmu adalah tanggungjawab ku"

__ADS_1


"Hmmm..." Kanaya tersenyum. Bahagia menyelimuti hatinya saat itu memiliki suami lemah lembut dan penyayang seperti Adrian.


"Sudah, malam. Kamu tidurlah dikamar biar aku tidur diruang depan. Tampaknya Aku harus menahan diri untuk tidak menyentuh mu sampai sekolah mu selesai" ucap Rian. Dia mengantarkan Naya ke kamarnya. Lalu dia mengambil bantal, guling dan sebuah selimut.


"Selamat tidur, Sayang ..." Rian mengecup kepala istrinya, lalu menutup pintu kamar perlahan-lahan.


******


Matahari pagi belum bersinar, Naya sudah bangun dari tidurnya. Dia membuka pintu kamar perlahan-lahan. Dia melihat suaminya tertidur didepan televisi. Dia menuju dapur untuk masak untuk makan pagi mereka. Sebelum adzan subuh berkumandang semua sudah beres dikerjakan. Rian terbangun dan melihat semuanya sudah tersedia dimeja. Naya membersihkan diri setelah solat subuh berjamaah. Dia siap dengan seragam sekolahnya.


"Sarapan dulu, Kak" ajaknya pada suaminya.


"Hmm... "


Tak ada meja makan. Naya menata makanannya di atas sebuah taplak dilantai. Dia mengambil piring dan mengisinya dengan tiga sendok nasi goreng dan sepotong telur ceplok. Lalu dia meletakkan segelas air di hadapan suaminya. Rian sangat menikmati masakan yang dibuatkan istrinya. Dia bahagia sekali dilayani seperti ini dengan istri yang disayanginya.


Naya membereskan piring makannya lalu, dia dan Rian menuju sebuah sekolah. Semua surat menyurat kepindahan Naya sudah selesai. Dia bisa segera mengikuti pelajaran disekolah barunya.


"Kak Rian, kerja dulu ya Sayang. Yang rajin sekolahnya. Ini uang jajan mu"

__ADS_1


"Hati-hati ya, Kak" Naya mencium punggung tangan suaminya saat mengantarnya diparkir sekolah. Rian mengendari motornya menuju kantornya di pusat kota. Setelah mengantar kepergian suaminya diparkiran, Naya kembali kekelasnya.


******


__ADS_2