Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Kembali Ke Bandung


__ADS_3

Doni sedang duduk di teras rumah kontrakan Naya saat kakak iparnya pulang kantor. Rian memasukkan motornya kedalam rumah.


"Sedang apa, Dek?" sapa Rian setelah memarkirkan motornya diteras rumah.


"Menikmati senja, Kak. Kak Rian baru pulang kantor?"


"Iya, Mana teteh mu?"


"Teh, Naya didalam" jawab Doni.


"Ya, sudah. Kak Rian masuk dulu ya, Dek"


Doni mengangukkan kepala. Rian masuk dan membersihkan diri. Lalu dia duduk diteras bersama adik ipar nya. Membicarakan banyak hal. Bercerita banyak hal. Mereka tertawa dan bercanda. Naya memperhatikan dari dalam. Sepertinya dua laki-laki itu akur sekali, senang melihatnya, batin Naya. Dia tak ingin menggangu kesenangan dua orang itu. Naya meneruskan pekerjaannya. Setumpuk gosokan baju yang menjadi PR nya.


******


Malam harinya pun mereka berdua masih melanjutkan keseruan mereka tadi sore sambil menonton televisi.


"Kalian berdua dari tadi seru sekali ngobrolnya. Cerita apaan sih" tanya Naya yang ikut bergabung bersama suami dan adiknya. Rian dan Doni saling pandang lalu mereka tertawa.


"Ini mah urusan laki-laki teh. Perempuan tak usah ikut campur. Pamali" celoteh Doni. Doni dan Rian saling menepukkan kedua telapak tangganya tanda kompak. Naya memonyongkan bibirnya.


"Ya, sudah sana kamu tidur saja, Dek. Istirahatlah" ucap Rian yang tak ingin keseruannya bersama Doni diinterupsi oleh istrinya.


"Belum ngantuk. Kalian berisik sekali" sewot Naya.


"Kak Rian tidur disini?" tanya Doni.


"Hmmm..."

__ADS_1


"Kenapa tidak sama Teh Naya dikamar?" tanya Doni lagi.


Rian dan Naya saling berpandangan. Naya bingung harus menjawab apa. Rian hanya cengengesan mendengarnya.


"Masih belum boleh, Dek" jawab Rian sambil mesam-mesem.


"Kenapa belum boleh. Kalian kan sudah menikah?!"


"Bawel banget sih kamu, Dek" colek Naya pada adik tirinya.


"Apa Kak Rian tahan?" bisik Doni.


"Sebenernya sih, tidak. Cuma kondisinya belum memungkinkan"


"Sabar ya, Kak" Doni cengengesan melihat tingkah Rian.


Mereka berdua berpura-pura tidak mendengarkan dan memalingkan wajahnya dari Naya. Naya kesal sekali. Dua lawan satu adalah curang pikirnya. Dia kembali kekamar dan tidur.


******


"Doni pulang dulu ya, Teh. Teh Naya baik-baik disini" ucap Doni saat di Bandara


"Kamu juga jaga diri baik-baik disana, dek"


Mereka berpelukan. Entah kapan bisa bertemu lagi pikir, Naya.


"Kak Rian... Doni pamit ya, Kak. Tolong jaga Teh Naya!"


"Tenang saja,Dek. Teh Naya mu sudah jadi tanggung jawab Kak Rian. Kamu tidak usah khawatir" Rian menyalami adik iparnya.

__ADS_1


Doni kembali ke Bandung setelah memastikan Teh Naya nya dalam keadaan sehat walafiat. Dia senang Teh Naya bersama seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab seperti Kak Rian. Pesawat yang di tumpangi Doni segera terbang landas menuju Bandung. Naya dan Rian kembali ke rumahnya.


"Entah kapan, aku bisa ketemu lagi sama Doni. Dia adik yang baik. Walaupun hanya adik tiri tapi dia sangat perhatian" ucap Naya sedih


"Sabar, Dek. Jika kita ada rezeki kita akan ke Bandung sama-sama. Kamu beruntung sekali mempunyai adik tiri seperti dia. Laki-laki yang pemberani, kuat dan bertanggung jawab. Aku kagum padanya. Walaupun dia baru kelas dua SMP tapi sifat nya sangat menyenangkan" puji Rian pada adik iparnya.


"Kalian berdua sepertinya kompak dan cocok sekali"


"Hmmm..."


"Semoga saja kita bisa ke Bandung ya, Kak"


"Aamiin.... Aku juga ingin bertemu dengan Papimu, mertuaku, dan Mami tiri mu. Aku belum pernah meminta restu mereka menikahi anaknya yang berhati bidadari ini" Rian sangat berharap bisa bertemu dengan keluarga perempuan halalnya itu.


"Mereka tak se-istimewa itu, Kak. Aku sendiri bahkan kehilangan sosok Papi sejak aku dalam kandungan. Papi orang nya keras kepala dan juga keras hati. Dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada perasaan putrinya"


"Sabar ya, Sayang. Suatu saat Papi mu akan terbuka hatinya. Dan kita akan mendapatkan restu dari Papi. Kak Rian yakin, semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Cuma cara bertindak mereka berbeda dengan kita yang berdarah muda ini"


"Kak ..." panggil Naya lembut.


"Hmm...."


"Kak Rian bijaksana juga ya"


"Jadi kamu makin jatuh hati pada suamimu ini ya, Sayang?!"


"Jangan ge er ah ...".


******

__ADS_1


__ADS_2