
Naya termenung manatap gumpalan awan yang beriringan dari balik jendela pesawat. Dia teringat kejadian saat dia berpamitan dengan Papinya. Baru kali itu papinya memeluknya. Perasaan hangat yang mengalir keseluruh tubuhnya itu tak bisa ia lupakan. Laki-laki hebat yang bersembunyi dibalik topeng kerasnya hati itu akhirnya menunjukkam sisi rapuhnya. Naya jadi sangat sedih berpisah dengan papinya.
"Dek ... " panggil Rian.
Naya tersentak dari lamunannya. Dia menoleh ke arah suaminya.
"Ya, Kak... Ada apa?" jawabnya kikuk.
"Sedang memikirkan papi?"
"Ya"
"Sabar Sayang, nanti kita akan mengunjungi nya saat aku libur nanti. Jauhnya jarak tak akan memutus pertalian hati kita, Sayang"
"Terima kasih ya, Kak"
Dalam waktu dua jam pesawat mereka sudah sampai di bandara internasional Hang Nadim, Batam. Sebuah Toyota Alphard menunggu mereka di parkiran. Tak butuh waktu lama mereka sampai disebuah komplek perumahan elit di Batam. Perumahan yang bagus dan elit, merupakan hunian kelas atas di Batam. Lokasi dekat dengan pusat pemerintahan, bandara, kawasan industri dan pelabuhan Ferry Batam Center. Perumahan ini mengusung konsep one stop living Fasilitas internalnya sangat lengkap.
Naya melangkahkan kakinya kedalam rumah suaminya. Rumah yang besar dan nyaman.
"Rumah ini aku beli dengan hasil tabunganku dari usaha waralaba, ini hadiah untuk menyambut kedatanganmu kembali disini, Sayang"
"Kak ... Dulu di rumah kontrakan kita yang sederhana pun kita sangat bahagia. Aku sangat bahagia. Ini semua lebih dari cukup untukku, Kak"
__ADS_1
*****
Rian sangat sibuk mengurus perusahaan peninggalan Oom Yusuf. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pelaksanaan mekanikal (instalasi pipa gas dalam bangunan, konstruksi perpipaan migas dan energi/pekerjaan rekayasa termasuk perawatannya). Terkadang dia harus membagi waktu untuk ke Pekanbaru meninjau jalannya usaha dia disana.
Sementara Naya fokus pada menyelesaian skripsi nya. Segala perbaikan skripsinya dilakukan via email. Dia sudah meminta izin dosen pembimbingnya untuk berkomunikasi jarak jauh mengenai penyelesaian skripsinya, dengan alasan turut suami ke Batam. Untung nya dosennya mau mengerti. Dan akhirnya Naya bisa ikut suaminya ke Batam namun tetap bisa menyelesaikan skripsinya.
Pukul sembilan malam, susana kota Batam sangat cantik. Lampu-lampu yang terang benderang menghiasi langit malam di kota Batam. Naya masih berada didepan laptopnya. Revisi bab terkahir membuatnya harus bekerja keras mengejar jadwal wisuda bulan depan.
"Belum tidur, Dek?" tanya Rian.
"Tanggung, Kak ... sedikit lagi. Kak Rian baru pulang? Mau aku buatkan sesuatu?"
"Tidak usah. Nanti saja. Teruskan saja pekerjaan mu, Sayang"
"Alhamdulillah .... Lembar terakhir selesai di cetak. Tinggal naik ke percetakan saja"
"Syukurlah, Kak Rian senang mendengarnya. Ya, sudah ... beristirahatlah. Besok dampingi Kak Rian diacara kantor ya, Sayang?!" pinta Rian sambil membelai lembut rambut indah Naya.
"Acara kantor? Acara apa, Kak?" tanya Naya.
"Acara peresmian proyek terbaru Kak Rian sekalian, Kak Rian mau memperkenalkanmu pada rekanan bisnis Kak Rian juga seluruh karyawan"
"Haaaahh...."
__ADS_1
"Kanapa?" Rian mengerutkan kedua alisnya.
"Aku harus bagaimana? Waduh, aku takut membuat Kak Rian malu nantinya. Aku bingung harus bagaimana? Bajunya? Dandannya? Trus disana ngapain?" Naya panik mendengarnya. Dia tak pernah menghadiri acara resmi para pebisnis.
Hahahahaha....
Rian tertawa melihat Naya yang mendadak panik seperti itu.
"Tugasmu disana adalah mendampingi suamimu. Cukup pakai pakaian yang pantas dan riasan yang tidak berlebihan. Kamu pasti akan jadi kebanggaan Kak Rian didepan orang-orang nantinya" ucap Rian sambil mencium pucuk kepala Naya.
******
Pukul lima sore Rian sudah sampai dirumah. Dia bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelan jas hitam senada dengan sepatunya, serta dari polos berwarna biru dongker menghiasi leher kemejanya. Rian tampak gagah dengan pakaiannya itu. Naya pun tampak anggun dengan balutan gamis berwarna hijau tosca dengan hijab senada. Terlihat elegan dan anggun.
"Masya Allah ... cantik sekali istri Kak Rian", Rian mengecup kening istrinya. Rian menangkupkan kedua tangannya dipipi perempuan halalnya itu.
"Pantas tidak, Kak" tanya Naya.
"Sempurna, Sayang. Ayo, kita berangkat"
Tepat pukul tujuh malam mereka meluncur ke ballroom sebuah hotel bintang lima. Naya menggandeng tangan suaminya. Mereka berjalan beriringan. Semua mata tertuju pada kedua pasangan ini. Rian memperkenalkan Naya sebagai istrinya didepan seluruh tamu undangan, para karyawan dan koleganya. Naya merasa tersanjung atas perlakuan suaminya itu. Baginya Rian adalah laki-laki hebat yang paling tahu cara memperlakukan istrinya dengan baik, paling tahu cara memuliakan istrinya dimata umum.
******
__ADS_1