Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Tamu Dari Jauh


__ADS_3

"Maaf, apa benar kamu yang bernama Adrian?" sapa seseorang pada Rian.


"Iya, saya Adrian"


"Adrian Fauzy Nugraha?" tanya orang itu lagi.


"Iya, benar. Saya Adrian Fauzy Nugraha. Maaf... Bapak ini siapa ya?"


"Kamu lupa padaku, Rian?"


"Maaf.. saya tak bisa mengingat nya"


Laki-laki paruh baya itu tersenyum. Dia menepuk pundak Rian.


"Wajar kamu tak ingat lagi wajah Pamanmu ini, terakhir kita bertemu saat kamu masih kelas satu SMP"


"Paman?"


"Aku Yusuf Nugraha. Adik kandung ayah mu"


"Astagfirullah, Oom Yusuf. Benar ini Oom Yusuf" tanya Rian meyakinkan.


Yusuf menganguk, dia memeluk keponakannya satu-satunya itu. Yusuf adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Dia adik kandung ayah Rian. Sejak Rian SMP, istrinya meninggal bersama bayi yang dikandungnya, setelah itu Oom Yusuf merantau ke Batam dan tak pernah kembali.

__ADS_1


Baru kali ini Rian bertemu lagi dengan Oom kandungnya itu. Rian mengajak Yusuf masuk ke toko kelontongnya itu.


"Usahamu maju juga, Rian" puji Yusuf.


"Baru merintis Oom. Awalnya hanya emperan dipasar. Alhamdulillah sekarang sudah jadi toko sendiri"


"Oom senang mendengarnya. Kamu sama percis dengan ayah mu. Gigih dalam bekerja. Oom bangga padamu"


"Oom Yusuf apa kabar? Kenapa baru kembali sekarang?"


"Panjang ceritanya. Oom memulai usaha di Batam dari nol. Alhamdulillah ... Setelah tujuh belas tahun usaha Oom maju pesat. Namun, Oom sadar sekarang usia Oom semakin menua. Sedangkan Oom tak punya keluarga disana. Yang Oom ingat adalah kamu satu-satunya keluarga Oom yang masih hidup. Makanya Oom mencari kamu. Dan syukurlah akhirnya, Oom menemukan mu disini, Rian" Yusuf merangkul pundak Rian.


"Rian juga bersyukur, Oom. Sudah tujuh belas tahun kita tidak bertemu. Rian mengira kalau Oom sudah tidak ada lagi. Karena ayah pun tak tahu dimana alamat Oom berada"


"Tidak apa-apa, Oom. Yang penting sekarang Rian tahu kalau Oom sehat walafiat"


"Kamu sendiri bagaimana, Rian? Bagaimana keadaanmu selama ini"


Rian hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Oom yusuf. Dia tak tahu harus bercerita dari mana.


Mereka berdua menghabiskan malamnya dengan sebuah obrolan hangat antara Oom dan keponakannya. Rian bercerita tentang hari-harinya selama ini. Juga tentang Naya. Perempuan kesayangannya itu.


"Oom, tidak terima kamu di perlakukan seperti ini, Rian. Oom harus balas perbuatan kejam mertuamu itu"

__ADS_1


"Jangan Oom. Bagaimana pun juga, dia adalah ayah kandung istriku. Berarti dia juga sudah menjadi ayah ku. Aku tak ingin Naya sedih karenanya. Aku ingin melihat Naya bahagia, Oom"


"Kamu sangat menyayangi istrimu itu, Rian?"


"Ya, Oom.. dia lah satu-satunya perempuan yang aku sayangi didunia ini"


"Baiklah, kalau begitu kamu harus mengejarnya. Kamu harus jadi orang sukses dihadapan mertuamu itu. Oom akan bantu kamu semampu Oom. Karena Oom tahu benar rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi"


"Terima kasih, Oom ... "


******


Pagi itu saat matahari sudah bersinar dan memberi kehangatan pada seisi bumi, Adrian sudah berada dibandara mengantarkan Oom Yusuf kembali ke Batam.


"Kamu yakin tak mau ikut Oom ke Batam, Rian"


"Tidak, Oom. Rian akan memulai usaha disini. Nanti Rian akan sering-sering menelepon Oom. Hati-hatilah dijalan Oom?!"


"Ya, ... Jaga dirimu baik-baik Rian"


Pesawat yang membawa Yusuf kembali ke Batam sudah lepas landas. Rian memacu motornya kembali ke toko kelontongan miliknya. Dengan kerja kerasnya selama ini usahanya itu membuahkan hasil. Kini dia sudah punya toko sendiri. Dia ingin membuktikan pada Papi mertuanya bahwa dia layak mendampingi dan melindungi Kanaya.


******

__ADS_1


__ADS_2