Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Pembagian Rapor


__ADS_3

"Kak ... " Naya mencari suaminya setelah selesai sarapan.


"Ya, Dek"


"Kak Rian, hari ini banyak pekerjaan atau tidak"


"Ada apa, Sayang? Ada hal penting?"


"Hari ini aku bagi rapor semester dua. Jadi orang tua atau wali yang harus mengambilkannya. Kak Rian bisa datang kesekolah ku nanti pukul sembilan"


"Baiklah, Sayang. Untuk istriku tersayang apapun akan aku lakukan"


Naya merangkul leher suaminya. Bermanja-manja pada laki-laki yang disayanginya itu.


"Tapi nanti kalau kamu tidak naik kelas bagaimana?" goda Rian pada perempuan halalnya yang sedang bermanja-manja padanya.


"Tidak mungkin" ucap Naya yakin.


"Yakin sekali, Sayang"


"Tentu. Karena aku kan memang anak pintar" Naya mencium pipi Rian lalu berlari kedalam kamar.


Rian berusaha mengejar nya namun Naya lebih dulu mengunci pintu kamarnya. Rian gemes dan makin gemes diledek seperti itu.


Tok ... Tok...


"Buka pintunya, Dek" pinta Raya.


"Tidak boleh"


"Awas kamu ya, nanti Kak Rian kasih hukuman baru kapok ya ..."


"Tidak takut"


Hahahahaaa....


Aduh... Anak ini makin mengemaskan, pingin aku gigit bibirnya, batin Rian.


Cekreeeeekkk ...


Naya membuka pintunya. Dia keluar dan sudah siap dengan seragamnya. Kali ini ada yang berbeda dari penampilannya. Dia mengenakan hijab putih yang senada dengan baju seragamnya. Raya terperangah melihat nya.


"Bagaimana, Kak? Pantas tidak?" tanya Naya.


"Kamu cantik sekali Sayang. Sumpah kamu seperti bidadari mengenakan hijab itu. Kak Rian suka kamu seperti ini"


"Kak Rian bohong"


Lagi, saat Rian hendak menarik Naya dalam pelukannya, Naya mengelak sambil tertawa-tawa manis. Lalu mengambil tas sekolahnya diatas tempat tidur.


"Ayo, Kak. Nanti Kak Rian terlambat masuk kantor"

__ADS_1


"Tunggulah didepan, Kak Rian ambil jaket dulu"


Naya memutuskan untuk mengenakan hijab, Raya sangat mendukung perubahan istrinya itu.


Tak lama Rian menghidupkan motornya. Naya naik diboncengan belakang, tangannya sudah melingkar di pinggang suaminya. Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai disekolah Naya.


"Nanti Kak Rian akan datang mengambil rapor mu" ucap Rian saat berpamitan.


"Ya, Kak"


Rian memutar motornya kearah kantor. Pagi ini dia harus absen dulu baru pukul sembilan tepat dia sudah ada disekolah Naya. Dia berkumpul bersama para orang tua lainnya. Naya melihatnya dari luar kelas.


"Kanaya Davilla Myezha"


Rian berdiri saat nama istrinya dipanggil, lalu duduk dikursi berhadapan dengan guru kelasnya Kanaya.


"Maaf, Mas ini siapanya Kanaya?"


"Eh.. saya kakaknya bu" ucap Rian.


Naya yang berdiri disampingnya tersenyum sendiri mendengar ucapan suaminya itu.


"Kakak? Sandiwara yang bagus kakakku sayang" ucapnya dalam hati.


Wali kelasnya memberikan lapor Kanaya, dia memberitahu Rian kalau nilai Kanaya terbaik dikelasnya. Ada rasa bangga dihati Rian terhadap istrinya.


******


Cekreeeeekkk ...


"Kak Rian kembali kekantor lagi ya, Dek. Hati-hati dirumah. Kunci semua pintu" Rian kembali kekantornya setelah mengantarkan perempuan halal kebanggaannya itu.


"Ya, Kak. Hati-hati dijalan"


Seperti biasanya, sepulang sekolah Naya melakukan perkerjaan rumah tangga. Dia sudah terbiasa melakukannya. Dan hati nya senang dan iklhas melakukan semua kewajibannya sebagai istri. Dia bahagia dengan suami pilihan kakeknya itu.


Baru pukul empat sore semua pekerjaannya selesai. Naya pergi membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu duduk santai didepan televisi.


Tok... Tok ...


Naya melihat siapa yang datang dari balik jendela. Dia melihat Rian di balik pintu depan.


Cekreeeeekkk ...


"Sudah pulang, Kak. Tumben cepat sekali pulangnya hari ini?"


"Iya, Dek. Kak Rian punya kejutan untukmu. Kamu ganti dulu pakaianmu. Kita pergi setelah Kak Rian mandi"


"Mau kemana?"


"Ra... Ha... Si.. aaa..."

__ADS_1


Naya menuruti perintah suaminya. Selepas pukul tujuh malam mereka pergi kesebuah kafe di pusat Kota Pekan Baru.


"Kenapa kita kesini, Kak?"


"Duduk lah dulu"


Naya duduk berhadapan dengan suaminya. Rian memanggil pelayan dan memesan makanan.


"Selamat ulang tahun istriku tersayang"


Naya menoleh pada suaminya. Rian menyodorkan sebuah kotak kecil padanya.


"Maaf ya, Kak Rian cuma bisa memberikan ini untukmu. Semoga kamu menyukainya, sayang"


Naya hampir lupa kalau dia ulang tahun. Sebenarnya ulang tahunnya tiga hari yang lalu. Namun karena sedang sibuk dengan pekerjaannya, Rian baru sempat memberikan ucapan selamat pada istrinya. Naya membuka kotak kecil itu. Seuntai kalung emas dengan liontin bertuliskan namanya.


"Kak ... Ini .."


Rian mengambil kalung itu dan memakaikannya pada leher istrinya. Naya terharu mendapatkan hadiah istimewa itu di ulang tahunnya yang ke tujuh belas.


"Masih ada lagi, sayang"


"Masih ada lagi? Apa?"


Rian mengeluarkan sebuah amplop coklat. Didalam nya ada sepasang buku nikah atas nama mereka serta sebuah KTP atas nama "Kanaya Davilla Myezha".


"Buku nikah dan KTP?" tanya Naya terkejut.


"Ya, sebenarnya buku nikah itu sudah lama jadi. Namun Kak Rian sengaja memberikannya di hari ulang tahunmu ini. Susah loh meyakinkan pihak catatan sipil kalau kamu ini adalah istriku. Untung saja ada bukti buku nikah"


"Kak Rian ... "


"Masih ada lagi sayang kejutannya"


"Masih ada lagi?" Naya mengerutkan alisnya.


"Hmmm..."


"Apa itu??"


"Kak Rian di promosikan menjadi manager penjualan dikantor, Dek?"


"Benarkah"


"Ya ... "


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Selamat ya, Kak"


"Ini semua berkat kamu, Sayang. Kamu pembuka pintu rezeki. Kak Rian makin sayang sama kamu. Beruntung sekali memiliki istri seperti kamu, Dek"


Naya tertunduk malu. Rian menggenggam tangan istrinya dengan kedua tangannya lalu menciumnya. Wajah Naya makin tersipu. Begini toh rasanya pacaran setelah menikah, batin Kanaya.

__ADS_1


******


__ADS_2