
Sudah hampir satu bulan Rian tak pernah menelepon Naya, pesan WhatsApp jarang dibalas. Telepon pun selalu di reject. Naya merasa tidak tenang.
"Maaf, Dek. Kak Rian sedang ada urusan penting" selalu kata-kata itu yang dia dengar dari suaminya. Entah apa yang membuat Rian sepeti itu. Naya menjadi gelisah dan uring-uringan dibuat nya.
"Teh Naya tidak kekampus?" tanya Doni.
"Teh Naya sedang tidak enak badan, Dek"
"Teteh sakit? Doni antar ke dokter ya?"
"Tidak usah. Tadi bibi sudah membuatkan air jahe. Sebentar lagi juga Kak Naya akan sembuh. Kamu tak usah khawatir, dek"
"Ya, sudah Teh. Doni tinggal ke kampus dulu ya. Hari ini Doni mau daftar ulang. Teh Naya istirahat saja dikamar"
Naya menganggukkan kepalanya. Dia kembali kekamar dan mencoba untuk tidur. Rasa cemas dan gelisah dihatinya yang membuat kesehatannya menurun. Pikirannya selalu tertujua pada suaminya. Adrian.
"Kak Rian, aku rindu ... " gumamnya perlahan. Lalu matanya terlelap. Lelah dia menunggu jawaban dari Rian.
******
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk
Doni membuka pintu kamar Naya perlahan-lahan. Dia melihat teteh nya sedang tidur. Dia mendekatinya.
"Ya, Tuhan ... Teh Naya demam" teriaknya kaget.
Dia langsung membawa Naya kerumah sakit. Dia sangat khawatir dengan keadaan tetehnya itu.
"Teh Naya tidak apa-apa, Dek"
"Tidak apa-apa bagaimana, teh. Badan Teh Naya seperti api. Panas sekali. Ayo kita kerumah sakit. Doni tidak mau terjadi apa-apa dengan Teh Naya" Doni membantu Naya bangun dari tidurnya. Doni dengan sigap mengendarai mobilnya menuju klinik 24 jam. Dokter memeriksa kondisi Naya dan memberi obat penurun panas serta beberapa vitamin.
Sesampainya dirumah Doni pun langsung menjadi perawat pribadi Kanaya. Dia dengan sigap memberi minum obat buat kakak perempuannya.
"Ini air minumnya, Teh. Minumlah obat nya lalu beristirahat lah" Doni memberikan air dan obat pada Naya. Naya meminum obat itu sekaligus.
"Ada apa sebenarnya, Teh? Teh Naya belakangan ini murung sekali. Bahkan sampai jatuh sakit" tanya Doni.
__ADS_1
Naya tidak menjawab. Dia hanya diam.
"Masalah Kak Rian?" terka Doni.
Lagi, Naya tak menjawab. Hanya airmatanya yang mengalir dikedua pipinya.
"Ada apa, Teh?"
"Sudah hampir satu bulan ini Kak Rian aneh. Dia jarang menelepon teh Naya. Pesan WhatsApp pun jarang dibalas. Dia selalu bilang sibuk dengan pekerjaannya"
"Barangkali memang benar Kak Rian sibuk, Teh!?"
"Entahlah, Dek" jawab Naya lesu. Dia tak bersemangat lagi seperti sebelumnya.
"Teh Naya, kangen sama Kak Rian?" tanya Doni.
Naya mengangukkan kepalanya.
Tuuuuut .... Tuuut ...
Doni menelepon seseorang melalui ponselnya. Satu kali tidak ada respon. Dua kali pun tidak ada respon. Bahkan tiga kali juga tidak ada respon. Doni melihat jarum jam. Baru pukul delapan malam. Terlalu sore untuk tidur, pikir Doni.
Ponselnya berbunyi. Dengan cepat Doni mengangkatnya.
"Halo... " sapa seseorang diujung telaponnya.
"Kak Rian?!" panggil Doni.
"Ini siapa?"
"Ini Doni Kak. Ramadhoni Myezha"
"Ooo... Kamu Dek. Apa kabar? Maaf, Kak Rian baru sampai dari bandara. Jadi baru melihat handphone"
"Kabar Doni baik kak. Hanya saja keadaan Teh Naya yang membuat Doni khawatir"
"Ada apa dengan Naya?"
"Sudah beberapa hari ini dia sakit, Kak. Badannya panas sekali. Baru saja Doni mengantarnya ke dokter"
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Rian berubah menjadi panik.
Doni menyerahkan ponselnya pada Naya. Naya memandang pada Doni, dia mengambil ponsel itu setelah Doni mengangukkan kepalanya.
"Halo... Dek ..." panggil Rian.
Naya menangis mendengar suara suaminya diujung telepon.
"Halo... Doni?!"
"Kak ..." ucap Naya perlahan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? Bagaimana keadaanmu?"
"Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya demam biasa"
"Ya, Tuhan... Maaf kan Kak Rian, Sayang. Kak Rian membuatmu jadi begini ya?"
"Kak ... " panggil Naya dengan suara serak.
"Ya , Sayang ... "
"Aku kangen sama Kak Rian?!"
"Kak Rian juga Sayang, Kak Rian kangen sekali sama kamu. Kak Rian Sayang sama kamu"
Treekkk.....
David muncul dan merampas ponsel itu lalu memutus sambungan teleponnya. Dia menonaktifkan handphone Doni. Naya dan Doni bukan main terkejutnya melihat kedatangan Papi mereka yang tiba-tiba.
"Rupanya kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu, Naya!!!" David meradang melihat Naya menghubungi suaminya. Dengan kasar dia menarik tangan putrinya.
"Papi ... Naya ..." ucap Naya terpotong.
"Papi kecewa sama kamu Doni. Kenapa kamu membantu teh Naya mu dengan laki-laki miskin itu"
"Papi ... Kak Rian itu suami Teh Naya. Papi tega melihat Teh Naya sakit seperti ini karena merindukan suaminya?" bela Doni.
David tidak mendengarkan perkataan Doni. Dia pergi begitu saja meninggalkan kedua anaknya itu. Doni terdiam. Naya berusaha menahan perasaannya. Dia tak ingin Doni terbawa emosi karena masalah pribadinya itu.
__ADS_1
******