
Rian menutup pintu kamar. Dia menaburkan pandangan keseluruh isi kamar. Disignnya yanv minimalis dipadu dengan warna pink dan putih memberi kesan manis dan feminim pada kamar itu. Juga jejeran boneka-boneka lucu di sisi kanan lemari. Pernak-pernik khas perempuan lainnya juga menghiasi kamar. Rian duduk diatas kasur. Naya mengambil koper yang dibawa Rian. Mengeluarkan isinya dan menyusunnya dilemari.
"Kamar ini nuansanya perempuan sekali" komentar Rian saat memasuki kamar Naya yang tertata indah khas perempuan.
"Kak Rian tidak suka?"
"Suka. Feminim dan manis. Sama seperti kamu, Sayang"
Naya tersipu malu mendengar pujian suaminya. Rian merebahkan tubuhnya diatas kasur. Naya masih sibuk membereskan koper pakaian Rian. Dia menyimpan koper kosong itu di dalam wardrobe. Naya duduk dikursi didepan meja riasnya. Dia melepas kerudungnya. Melepas ikatan rambutnya. Lalu pergi ke wastafel untuk membasuh wajahnya.
Dia kembali lagi untuk membersihkan make up nya dengan removal. Lalu menyisir rambutnya. Rian bangun dari tempat tidur dan mendekati istrinya.
"Jangan diikat, Sayang. Biarkan seperti ini. Biarkan Kak Rian memandang keindahan yang ada pada dirimu"
Rian membelai rambut panjang Naya. Rambut ikal, hitam dan indah milik istrinya. Dia mencium kepala istrinya dengan lembut, lama dan lebih lama.
"Rambutmu wangi sekali, sayang. Kak Rian suka sekali. Kamu terlihat lebih dewasa dan lebih berisi. Bikin Kak Rian gemes melihatnya"
Naya memeluk pinggang Rian dengan manja. Rian tak tahan melihatnya. Dia sangat suka sekali melihat istrinya bermanja-manja padanya.
"Kak Rian kangen sekali, Dek. Kak Rian sangat beryukur kamu masih mau menunggu Kak Rian selama ini, bukan?"
Naya mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak .. " panggil Naya lembut.
"Hmmm..."
"Aku percaya Kak Rian pasti datang menjemput ku. Sampai saat ini aku masih menjaga hatiku, jiwa raga dan juga kesucianku yang menjadi hak mu sebagai suamiku, Kak"
Rian tesenyum bahagia.
"Apakah ... Boleh Kak Rian meminta hak Kak Rian atas tubuhmu?"
Naya tertunduk. Rona muka nya bersemu merah muda. Dia mengangguk kan kepalanya perlahan. Rian mendekatkan bibirnya pada bibir Naya. Perlahan-lahan dia mencium bibir mungil Naya yang terasa manis dan begitu indah. Naya membalas perlakuan suaminya itu dengan serangan yang sama. Menikmati aliran yang menjalar dari ujung kaki sampai ke seluruh tubuh mereka. Rian meneruskan aksinya. Mencium leher istrinya sehingga Naya mendesah dibuatnya.
Rian semakin tertantang mendengar rintihan istrinya. Dia membopong Naya dan membaringkannya diatas kasur. Sepasang manusia yang dilanda rindu itu benar-benar memanfaatkan pertemuan pertama mereka untuk menebus lunas rindu yang terpendam selama ini.
"Dek ... " panggil Rian. Naya yang berada dalam pelukan suaminya itu menoleh.
Rian memeluk istrinya. Membayar lunas semua kerinduannya. Menikmati indahnya kebersamaan mereka malam ini. Malam pertama yang tertunda selama enam tahun. Kesabaran yang berbuah manis untuk kedua pasangan itu. Bulan dan langit berbintang menemani tidur lelap mereka malam itu. Hingga fajar datang membangunkan mereka dari tidurnya.
******
"Kak ... " panggil Naya.
"Hmmm..."
__ADS_1
"Bangun dulu, sudah hampir subuh"
Rian membuka matanya perlahan. Dia melihat Naya sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia segera bangun dan menuju kamar mandi.
"Pagi, Kak..." sapa Doni saat berpapasan dengan kakak iparnya di ujung tangga.
"Pagi, Doni. Dari mana, Dek?" tanya Rian.
"Biasa, Kak. Jogging sekitar sini"
"Rajin sekali kamu, Dek"
"Biar sehat dong, Kak"
"Gimana kuliahmu?"
"Alhamdulillah, lancar Kak. Awalnya agak kaget. Beda dengan disekolah yang monoton, suasana kampus lebih menantang rupanya"
"Syukurlah kalau begitu, kamu sepertinya suka tantangan rupanya"
Hahahahaha .... pecah tawa mereka berdua. Rasanya sudah lama mereka tidak tertawa kenyang seperti ini berdua.
"Maaf, bapak-bapak. Sarapannya sudah siap. Silakan pindah keruang sebelah" Naya memecah keseruan diantara dua lelaki itu.
__ADS_1
Doni dan Rian menuju ruang makan. Kali ini ada yang berbeda dari wajah Naya. Air muka nya sangat ceria. Raut muka bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Doni diam-diam mengamati perubahan pada kakak tirinya. Luar biasa, Kak Rian bisa merubah segalanya dalam waktu semalam, batin Doni. Dia sangat senang karena keceriaan dan kebahagian teteh nya kembali lagi.
******