
Sambil membelokkan mobil merahnya dibundaran, Amelia berharap Cristin sudah sampai lebih dulu. Dengan begitu dia tidak usah menghadapi ibunya sendirian. Tapi satu-satunya mobil yang ada ditempat parkir hanya mobil Van Dewi Katering.
Amelia memarkir mobil lalu melangkah keluar. Mungkin Cristin naik kereta api, katanya dalam hati.
Waktu Amelia memasuki ruang tamu, terlihat Cristin sedang santai mengobrol dengan ibunya. Beliau sedang menuangkan teh ke cangkir perak antik untuk mereka berdua. Cristin terlihat cantik sekali walau hanya memakai celana jeans dipadu dengan kaos oblong.
"Hai, Crist!" pekik Amelia
"Amelia!" teriak Cristin. Dia melompat dari sofa dan memeluk adiknya erat-erat. "Gimana kabarmu? Kamu cantik deh!"
"Ibu heran kenapa dia hobby banget pakai jumpsuit, kurang pantas untuk anak SMA," komentar ibunya datar.
Bu Kusuma mengulurkan secangkir teh kepada Cristin.
"Gulanya disini, sayang. Kakakmu cantik ya, Amelia?" tanya ibunya sambil tersenyum.
"Memang," seloroh Amelia.
"Keren lagi," tambah ibunya. "Mungkin karena pengaruh dunia kampus, Crist. Gimana sudah punya pacar?"
"Ah, ibu" keluh Cristin. Pandangannya beralih kepada Amelia seakan berkata, mulai lagi deh!
"Hmmm" kata Bu Kusuma. " Jangan biarkan masa remajamu berlalu begitu saja."
__ADS_1
"Umur akukan baru 19 tahun, Bu!" protes Cristin. "Masih banyak waktu untuk mencari pacar."
Amelia menyayangi Cristin, tapi ada rasa senang waktu mendengar kakak dan ibunya berdebat. Dia sendiri bosan dengan ibunya yang selalu mengatakan, "Cristin itu pelajar teladan. Dia penuh tanggung jawab. Mobilnya dirawat sendiri. Semua yang dikerjakan selalu rapi."
Amelia sadar kakaknya lebih pandai dan bisa bergaul. Tapi siapa yang tak kesal kalau selalu dipojokkan.
"Kamu sudah bawa perlengkapan untuk menginap disini?" tanya Bu Kusuma.
"Tidak Bu. Besok saya pulang kok. Saya numpang mobil teman yang pulang beakhir pekan. Kebetulan dia lewat Tegal," jelas Cristin.
"Siapa? Pacar?" Bu Kusuma tersenyum menggoda.
"Cuma temen, Bu. Kami satu tim penelitian dikelas psikologi. Dia mau mampir kesini, tapi sekarang sedang mengisi bensin. Kalau boleh saya ingin mengajaknya makan malam sebelum dia meneruskan perjalanan."
Tapi sebaliknya, Bu Kusuma malah menggigit bibir lalu mengernyit. "Entahlah, sayang. Ibu cuma pesan makanan tujuh porsi. Lagipula kalau cuma sekedar teman ..."
"Terserah ibu saja." Cristin berbalik kepada Amelia.
Ibunya memang kolot. Amelia tersenyum melihat mimik kakaknya yang jengkel. Enak rasanya bisa berbagi duka lagi.
"Gimana kabar Pelita Harapan?" tanya Cristin sambil bergeser mendekati Amelia.
"Lumayan. Cuma sayang cowok-cowoknya enggak ada yang menarik ..." jawab Amelia.
__ADS_1
Belum habis keluhnya, tiba-tiba terdengar bunyi bel.
"Mungkin itu cowok yang aku bicarakan tadi," kata Cristin. Dia bangkit dan bergegas membuka pintu.
"Ini dia," batin Amelia. Kesempatan pamer pada Tessa dan Hana. Kalu teman Cristin memang sekeren cowok-cowok yang dilihatnya tadi siang, pasti Tessa dan Hana iri setengah mati. Semoga bukan jenis kutu buku, Amelia berdoa.
"Oh, hei Jo! Ayo masuk." Amelia mendengar suara kakaknya.
Mata Amelia terus terpaku kepintu masuk, jantungnya berdetak tiga kali lipat lebih cepat. Cristin muncul lebih dulu. Dibelakangnya diiringi cowok yang cuma bisa disebut keren yang sebenar-benarnya!
"Bu, ini Jovanto Ardianto. Jo, ini ibuku ..." Cristin memperkenalkan. Amelia berkejap-kejap dan berusaha tenang.
Cowok itu tingginya sekitar 180 cm, rambutnya hitam bergelombang, wajahnya sangat tampan! Mata cokelatnya menawan diantara tulang pipinya yang tinggi. Hidungnya terpahat sempurna. Dan bodynya berotot, sehat dan sexy. Jaket abu-abunya dari bahan wol dan terlihat mahal. Cowok itu sangat modis.
"Apa kabar, Bu Kusuma?" Jo mengulurkan tangannya dengan sopan kepada ibu Amelia. Mata cokelatnya memancarkan rasa percaya diri.
Bu Kusuma berdiri dan menjabat tangan Jo.
"Senang bertemu kamu, Jo," sapa beliau hangat. Ibunya tampak sangat terkesan dengan Jo.
"Ini adikku, Amelia," kata Cristin. "Masih SMA."
Kenapa oh kenapa Cristin bilang begitu? Pasti Jo menganggapnya anak kecil!
__ADS_1