Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 3


__ADS_3

Apa saja yang kalian lakukan sepanjang pagi ini?” tanya Jo.


Mencari kamu, Amelia ingin mengatakan itu. Tapi sungguh mustahil. Itu bukan cara yang tepat dalam mengejar cowok impian.


“Tidak ada,” jawabnya. “Tadi setelah sampai kami langsung kemari. Sekarang aku tidak tahu Nina di mana. Mungkin dia nyasar." “Semoga saja," tambah Amelia dalam hati.


“Oh, kami sudah bertemu dengan Nina. Sekarang dia ada di meja informasi, ngobrol sama penasehat senat,” Cristin tersenyum. “Aku senang kalian ada di sini.”


“Sama aku juga senang kalian ada di sini,” kata Jo sambil mengangguk pada Amelia.


“Aku juga, apa lagi bisa bertemu dengan mu Jo,” batin Amelia.


“Sayang, tapi aku harus pergi sekarang,” kata Jo, ia mengeluh ringan. “Ada tugas penelitian. Aku Cuma mau cek apa semuanya sudah beres. Sampai nanti di Sigma!”. Ia melambaikan tangan sambil melangkah pergi meninggalkan Amelia dan Cristin.


Amelia menahan diri agar tak mengejarnya. “Santai saja,” batinnya. Boleh saja tergila-gila sama cowok, tapi jangan sampai kelihatan! Bagaimanapun juga, Amelia masih perlu cukup banyak informasi lagi mengenai Jo.


“Sigma itu nama asramanya Jo, ya kak?” tanyanya pada Cristin, ia bersikap seolah tak peduli.

__ADS_1


“Betul, Sigma Epsilon. Besok malam mereka akan mengadakan pesta di sana, Jo mengundangmu kalau kamu tertarik,” jawab Cristin.


Hati Amelia berbunga-bunga. Sangat tertarik pastinya dong. Dengan senang hati! Jo mengundangnya ke pesta! Pesta berbau romantis tingkat tinggi. Cepat sekali!


“Uh maaf.” Sebuah suara menyebalkan membuyarkan lamunan Amelia. Ia segera berbalik dan melihat laki-laki gendut berkepala botak menghampiri Cristin.


“Namamu Amelia?” tanya laki-laki itu pada Cristin. Begitu Cristin berbalik, laki-laki itu langsung tersipu malu. “Oh, maaf. Aku pikir tadi kamu Amelia, aku tidak mengenalimu dari belakang Cristin. Informasinya Amelia dan ... tinggal dia yang belum di periksa tanda pengenalnya,” kata laki-laki gendut itu.


“Jangan cemas, Pak. Yang anda cari adalah adikku, Pak Toto. Ini Amelia,” kata Cristin bangga. “Amelia ini Pak Toto.”


“Selamat pagi pak,” sapa Amelia. Ia tak berselera bicara dengan laki-laki ini tapi karena dia adalah dosen di kampus ini. Tak mungkin Amelia menghindarinya.


“Akhirnya ketemu juga dengan orang terakhir yang harus saya wawancarai. Jadi sebaiknya kita mulai saja wawancaranya lebih awal,” kata Pak Toto.


“Oh?” desah Amelia kaget. Nina sudah mengatakan soal wawancara pasti ini yang di maksudnya. “Maksud saya oh pasti pak. Boleh saja dengan senang hati,” jawab Amelia.


“Sebentar, bagaimana kalau kita cari tempat yang agak sepi supaya bisa mulai wawancara?” Pak dosen melihat ke sekeliling ruangan itu dengan agak bingung. “Bagaimana kalau di sana saja?” di tunjuknya meja kecil di ujung ruangan.

__ADS_1


“Boleh pak ...” jawab Amelia.


“Kalau begitu mari ...” Pak dosen mengajak Amelia.


“Semoga berhasil Amelia. Semangat!” bisik Cristin begitu Amelia melangkah mengikuti Pak Toto.


Pak dosen duduk lalu mengamati mapnya yang ada di atas meja. “Silahkan duduk Amelia,” Pak Toto mempersilahkan Amelia untuk duduk.


“Terimakasih, Pak.” Amelia duduk sambil membentangkan rok mininya yang lebar berlipat-lipat.


“Mungkin saya tidak perlu mengatakan bahwa kakakmu Cristin adalah mahasiswa teladan di kampus ini,” ujar Pak Toto.


“Memang tidak perlu di kasih tahu, aku sudah bosan mendengar kata-kata itu di rumah,” batin Amelia sebal.


“Sekarang kita lihat,” gumam Pak Toto. “Kamu adalah siswa di SMA Pelita Harapan. Pelita Harapan memang sekolah terkenal, banyak lulusannya yang kuliah di kampus ini. Mungkin salah satunya ada yang kamu kenal?” tanya Pak Toto.


“Mungkin tidak,” jawab Amelia sambil mengangkat bahunya. Ia tidak mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah murid pindahan dari sekolah negeri.

__ADS_1


__ADS_2