
"Kamu menginap di asrama mana, Nin?" tanya Arif ketika menyusuri trotoar sebelah selatan bersama Nina.
"Melati," jawab Nina sambil berusaha menghindari tatapan mata Arif.
"Oh. Kita sudah sampai nih," kata Arif tiba-tiba, mereka berhenti di depan bangunan batu bata bermodel kolonial dengan cahaya lampu berwarna hijau.
"Kita ambil buku dulu lalu sama-sama ke asrama mu. Kebetulan aku juga mau pergi," tambahnya.
Naluri Nina mengatakan bahwa sebenarnya Arif memang sengaja ingin mengantarnya pulang. Dan Nina sama sekali tak keberatan.
"Boleh. Aku menunggu di sini saja," kata Nina.
Arif mengernyitkan dahinya. "Kamu tidak ingin masuk ke kamarku? Sekalian aku ingin memperlihatkan hasil karyaku. Aku membuat beberapa rancangan baru. Aku ingin tahu pendapatmu."
__ADS_1
Nina segera luluh. Ia penasaran dengan kumpulan sketsa Arif. Toh Arif hari ini telah banyak membantunya, ia tidak ingin membuat Arif kecewa. Ia menatap mata Arif.
"Oke, tapi jangan lama-lama ya soalnya hmmm ... aku masih banyak tugas," kata Nina.
"Siap! Tidak akan lama kok," jawab Arif sambil tersenyum.
Begitu menaiki tangga menuju kamar Arif, Nina sudah membayangkan isinya. Arif pecinta seni, mungkin dinding kamarnya penuh dengan sketsa dan lukisan.
Ketika Arif membuka pintu kamarnya, yang pertama kali dilihat Nina adalah sketsa pragawati dari krayon, berbingkai dan tergantung di atas tempat tidur. Arif langsung menjelaskan ketika melihat arah tatapan Nina.
Lalu ia menuju rak buku di samping tempat tidurnya. "Ini bukunya, bawa saja. Nanti kalau sudah selesai, kamu kirimkan saja lewat pos. Aku masih di sini sampai bulan September."
"Terima kasih banyak nih," kata Nina sambil mengambil buku yang ada di tangan Arif.
__ADS_1
"Kalau yang ini koleksi lama," kata Arif sambil menarik kumpulan berkas dari bawah tempat tidurnya. Ia membersihkan debu-debunya terlebih dahulu sebelum ia membukanya. "Kalau karya baruku di simpan di sekretariat jurusan," katanya sambil menepuk kasur. "Silahkan duduk."
Nina duduk di samping Arif dan membalik pelan-pelan tiap lukisan, mengamati goresan Arif yang terkesan berani.
"Semuanya bagus-bagus, Arif. Aku seperti bisa merasakan hembusan angin yang ada di lukisan ini!" katanya sambil menunjuk lukisan pemandangan berkabut yang dilukis dengan pena dan tinta. "Kamu memang berbakat dalam dunia seni."
"Terima kasih atas pujiannya. Aku senang mendengar pendapatmu. Itu jawaban dari pandangan seorang seniman," jawab Arif.
Seorang seniman? Nina menyukainya. Memang ia suka merancang dan membuat sketsa, tapi ia tak tahu sampai sejauh mana bakatnya. Arif memuji jiwa seninya.
Setelah melihat-lihat lukisan Arif, di kembalikannya lukisan itu lalu menunduk. Ia bingung apa lagi yang harus di bicarakan. Apakah ia harus mengatakan bahwa ia senang bertemu dengan Arif. Atau mengatakan yang sebenarnya bahwa ia sangat gugup kalau di tatap oleh Arif.
"Nina, mmm ... kamu mau makan malam denganku tidak?" tanya Arif tiba-tiba. "Ya. Aku tahu tugasmu banyak, tapi ..."
__ADS_1
"Oh ..." kata Nina sambil berpikir sejenak. Hanya satu hal yang harus di lakukannya yaitu menerima ajakan Arif. Dan berterus terang soal Andika kekasihnya di Tegal. "Arif, terima kasih, tapi ... " Ia mendongak menatap mata Arif. "Baiklah aku mau," jawab Nina dengan gugup.
Setelah mengambil buku dan melihat-lihat hasil karya Arif, Nina memutuskan untuk langsung pulang ke asrama Cristin dengan di antar oleh Arif.