
"Aku juga ingin sekali membantumu kak," kata Amelia lemah. "Tapi ..." Amelia tidak melanjutkan perkataannya.
"Kamu kenapa Amelia?" tanya Cristin.
"Aku masih gemetaran kak, tadi aku tenggelam di kolam renang," jawab Amelia lemah.
"Apa?!" seru Nina kaget. "Gimana ceritanya sampe kamu bisa tenggelam? Lalu bagaimana keadaan mu?
"Sudah baikan kok. Tadi kaki ku cuma sedikit kram, tapi sempat pingsan sebentar. Untung ada Jo yang menolongku." Amelia menarik nafas berat dan menepuk-nepuk bantal lalu merebahkan dirinya di ranjang.
Ia merasa sakit tapi ia tak ingin mengatakannya pada Nina maupun Cristin. Jika mereka tahu keadaan Amelia yang sebenarnya pastilah mereka menyuruh Amelia untuk istirahat semalaman. Dan rencana Amelia untuk datang ke pesta gagal.
"Sudah kamu istirahat saja. Jangan sampai ayah dan ibu tahu. Kalau mereka tahu matilah aku." Cristin tertawa sambil menggantungkan beberapa pakaian ke lemari. Cristin memang rajin berbenah. Amelia tak pernah mau membantu. Toh, Cristin yang suka kenapa harus di bantu?
"Sepertinya beban berat ku sudah hilang. Rasanya lega sekali," gumam Cristin riang sambil membersihkan laci meja.
"Bagus dong," kata Nina. "Aku juga lagi senang nih."
__ADS_1
"Semoga kamu bisa ikut ke pesta ya," kata Cristin penuh harap. "Biar tambah seru. Masa kamu sibuk dengan tugasmu, sementara kami senang-senang sih?"
Gigi Amelia gemertak. Apa mulut Cristin tidak bisa diam sebentar saja? Amelia tak membutuhkan kehadiran Cristin dan Nina di pesta itu.
Pipi Nina memerah sebelum ia menjawab. "Mungkin aku akan datang, bersama temanku."
"Teman? Itu mungkin si pemandu tour," tebak Amelia dalam hati. "Baguslah. Tak jadi masalah. Nina tak akan mengganggu acara ku dengan Jo nanti malam. Aku bebas melakukan apapun yang akau mau."
"Teman?" alis Cristin naik, ia menatap Nina penuh selidik. "Siapa namanya?"
"Oh, Arif. Aku kenal dia. Dia bersahabat dengan teman sekamarku. Sepertinya dia anak yang baik," kata Cristin sambil mengibaskan debu yang menempel di serbet.
"Memang dia orangnya baik," jawab Nina.
"Bagus kalau begitu!" kata Cristin sambil menyentuh lengan Nina. Kemudian dia kembali ke lemari pakaiannya. "Bantuin pilih baju dong!"
Di bukanya pintu lemari pakaian lebar-lebar, lalu mengambil rok mini bludru berwarna hijau dan blus sutra gading kemudian mengangkatnya. "Sepertinya cocok ya, menurutmu bagaimana?" tanya Cristin pada Nina.
__ADS_1
"Cocok kok. Perpaduan yang sangat bagus," jawab Nina setuju.
"Kalau begitu aku pakai yang ini saja." Cristin menghamparkannya ke atas tempat tidur. "Sebaiknya kita mandi sekarang sebelum keduluan orang lain. Malam minggu begini biasanya ngantri. Kamu ikut tidak, Amelia?"
"Oh, nanti saja. Aku masih trauma dengan air," jawab Amelia lesu.
Sebenarnya Amelia butuh waktu untuk mengatur rencana bagaimana agar kakaknya tidak ikut ke pesta nanti malam.
"Oke. Ini handukmu, Nina." Cristin melemparkan handuk pada Nina, lalu menenteng handuk lain untuknya sendiri. "Yuk!" ia menghambur keluar dengan diikuti Nina di belakangnya.
Setelah mereka pergi, Amelia duduk mengamati situasi. Ia bangkit dan mondar mandir di kamar, di sentuhnya meja yang sudah di bersihkan oleh kakaknya. Mendadak ia berhenti dan melihat ke bawah. Tiba-tiba terlintas niat jahat di pikirannya. Ia menatap paper milik Cristin. Kakaknya tak mungkin pergi kalau papernya hilang.
Jantungnya berdebar-debar, ia menarik nafas panjang, berusaha menentang kata hatinya. Pikirnya bagaimanapun, semua halal dalam perang dan cinta. Dan ini adalah masalah cinta.
"Maaf, kak," batin Amelia sambil mengambil paper dari meja lalu menyembunyikannya di sela rak lemari pakaian Cristin.
"Sayang kamu tidak jadi ikut ke pesta, kak," katanya keras-keras. "Aku dan Jo akan merindukanmu!"
__ADS_1