Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
Tiga


__ADS_3

Jo melangkah kembali keruang beratap kaca dan Amelia mendahuluinya menuju sofa. "Inilah rumah kami," katanya sambil mengangkat bahu. Amelia menggeser duduknya mendekati Jo.


"Rumahmu bagus sekali," kata Jo sambil memandang hamparan rumput yang subur lewat jendela.


"Biasa aja kok. Masih ada rumah yang lebih bagus diseberang sana". "Rumah ini mungkin lebih mirip pondok dibandingkan kediaman keluarga Ardianto," batin Amelia malu.


"Belum tentu lebih bagus," Jo tersenyum memikat. "Lagipula, inilah rumah yang sebenarnya, tahu? Rasanya sepi tinggal dirumah besar. Aku lebih cocok dengan rumah seperti ini," jelas Jo.


Jo sangat bijaksana. Kepribadiannya sebaik penampilannya, matanya, wajahnya, tubuhnya, kepandaiannya, uangnya ...


"Aku senang diundang ibumu makan malam." Ditaruhnya gelas yang sudah kosong ditepi meja, lalu menatap lurus kepada Amelia.


Amelia merinding. Gila! Tatapannya maut! "Mau tambah lagi minumannya?" gumamnya. "Kuambilkan ya ...?"


"Enggak usah repot-repot," cegah Jo. "Sudah cukup kok."

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Lagipula ..." singgungnya, "Teman Cristin kan ... temanku juga." Amelia tersenyum hangat.


Amelia merasa melayang. Si Jo yang keren telah memasuki kehidupannya ada dalam genggamannya! Jo naksir dia! Ia yakin sekali!


"Untung sekali aku bertemu kakakmu," kata Jo sambil mendekat dan menatap lurus ke mata Amelia. "Kalian mirip sekali."


Jo berhenti sejenak, tersipu-sipu. Amelia tidak berkutik. Ia menahan nafas. Akan terjadi sesuatu. Ia dapat merasakannya! Jo akan mengatakan betapa ia menyukai Amelia, atau akan menciumnya ...


"Aku mau tanya ..." Jo memulai pembicaraan


"Mungkin itu bibi dan pamanku," katanya pura-pura gembira. "Mereka selalu datang lebih awal."


"Mengganggu sekali, tepat disaat adegan tegang. Mungkin mereka mau memamerkan mobil tuanya. Kapan sih mereka beli mobil baru," omel Amelia dalam hati. "Diabad ini, atau abad berikutnya? Memalukan kalau Jo sampai melihat."


Amelia bersandar disofa dan melihat ke luar jendela waktu mobil itu berhenti tepat di depan tangga masuk. Bibinya turun lebih dulu, disusul Nina, kemudian pamannya. Amelia mengakui Nina tampak cantik memakai rok panjang hitam ketat dan sweater merah sebatas pinggang.

__ADS_1


Cantik tapi agak membosankan. Amelia berniat memimat Jo dengan rok mini yang baru dibelinya dibutik Fabella. Tapi, akan tetap tak menyenangkan karena harus berbasa-basi dengan keluarga Rudianto. Masih lebih enak menyendiri saja.


"Sepupumu kuliah juga?" tanya Jo, menatap keluar jendela.


Amelia geram. "Enggak, dia seumuran dengan ku kok. Kami jarang bertemu. Dia bukan murid SMA Pelita Harapan, dia disekolah negeri." Amelia pura-pura melambai. "Dulu kami sempat akrab, tapi sekarang enggak lagi," jelas Amelia lagi


Walaupun kesal dengan kehadiran keluarga Rudianto, Amelia hanya bisa tersenyum. Jo terus menghiburnya! Ia begitu baik cepat tanggap dan penuh pengertian.


Luar biasa sekali, semua perilaku dan wajahnya sangat manis. Para pemuda yang di kenalnya kebanyakan hanya dari dua jenis yaitu kutu buku yang perasa atau playboy kampungan. Begitulah keadaannya di SMA. Tapi Jo mahasiswa tingkat dua. Jelas sekali bedanya.


Amelia tersenyum memikat. Jo benar. Kamu harus mempertahankan sebuah persahabatan. Itulah yang akan dilakukannya terhadap Jo ... dengan cara yang sangat halus.


#*****Mohon dimaafkan yaa kalau cerita nya masih ada yang gak nyambung-nyambung banget๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Baru belajar nulis. Ini cerita pertama ku, semoga kalian suka...

__ADS_1


Terima Kasih*** ...


__ADS_2