Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 8


__ADS_3

Nina terus menuruni tangga sampai baris terdepan. Dia merasa jadi pusat perhatian orang-orang karena berjalan sendirian. Rasanya seperti orang bodoh.


Seharusnya dia tahu dari awal kalau Amelia menyukai Jo. Tampan dan kaya, begitulah pemuda idaman Amelia. Menurutnya aneh, kalau Jo lebih tertarik pada Cristin. Tapi mungkin juga tidak.


Lagipula, dengan sikap Amelia yang tadi terhadapnya, lebih baik ia duduk sendirian. Mungkin lehernya akan terasa agak pegal karena duduk di kursi paling depan. Tapi lebih baik begitu dari pada menanggung sakit hati, karena sikap Amelia yang akan semakin dingin padanya.


Ia melihat ada beberapa kursi kosong di depan. Ia menghampirinya dengan hati-hati agar tidak menginjak kaki orang.


“Permisi, apa kursi ini kosong?” tanya nya pada gadis di sebelahnya.


“Di pojok sana kosong,” kata gadis itu sambil mendongak melihat Nina. “Kalau yang ini untuk teman kami tapi ia belum datang,” sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Akhirnya Nina duduk di kursi paling pojok. Rasanya aneh nonton sendirian tanpa kekasihnya Andika. Siapa yang akan di peluknya nanti kalau ia ketakutan? Ia kangen pelukan Andika, bersandar di bahu Andika. Ia merindukan semuanya tentang Andika. Padahal baru berpisah satu hari, rasanya seprti sudah lama tidak berjumpa.


Lampu mulai di padamkan, ruangan mulai gelap, penonton yang terlambat dengan cepat menyerbu kursi yang kosong karena film akan segera di mulai.


“Arif sini!” gadis berambut pirang tadi memanggil seseorang yang masih berdiri di jalur tengah.


Nina dengan cepat menoleh ke arah sumber suara. Baru mendengar namanya saja perut Nina jadi mulas. Ia terpaku. Mungkin ada sepuluh Arif di sini, ia berharap bahwa bukan Arif yang ia temui siang tadi.


Tapi memang dia orangnya. Dan Arif melewati beberapa orang untuk menghampiri kursi di sebelah Nina.

__ADS_1


“Kamu Nina, cewek yang memakai tanda pengenal tadi?” tanya Arif sambil membuka lipatan kursi. “Kamu sendirian ke sini?” tanya Arif lagi.


“Mmm, ya,” jawab Nina. Untung lampunya sudah di matikan jadi Arif tidak dapat melihat perubahan mukanya yang mulai memerah.


“Semoga kakimu tidak kesemutan lagi ya. Tapi melihat judul filmnya, sepertinya tidak akan membosankan di banding tour tadi siang,” kata Arif.


“Oh, tadi aku sungguh tidak merasa bosan aku suka jalan-jalan,” bantah Nina dengan cepat.


Ia merasa cibiran ***** muncul di wajahnya dan rasanya ia ingin menendang dirinya sendiri, jauh dari hadapan Arif.


Kenapa ia tidak bisa bersikap wajar di depan Arif? Kenapa Arif membuatnya pusing dan tak percaya diri?


“Hei, jangan tutup mata sekarang filmnya baru akan di mulai. Simpan untuk bagian menyeram kan nanti!” bisik Arif.


Nina membuka matanya dan dia tersenyum pada Arif. “Mmm, cuma latihan saja, kok.”


*****


( Di tempat Amelia dan Jo


)

__ADS_1


“Hiii, semoga saja filmnya tidak begitu menyeramkan aku takut,” bisik Amelia di telinga Jo sambil menggenggam tangan Jo.


“Sebenarnya aku lebih suka film klasik. Kesannya romantis banget,” sambung Amelia lagi. Ia berusaha membuat Jo terkesan dengan seleranya yang tinggi.


“Tapi karena ada kamu yang menemaniku, aku jadi tidak begitu takut.” Ia bersandar manja di bahu Jo.


Begitu film di mulai, suara musik yang mencekam menambah suasana semakin tegang. Amelia sengaja memekik pelan karena ketakutan. Dengan begitu ia bisa bebas bersandar leluasa di bahu Jo.


Kemudian ketika adegan orang gila di dalam film menyalakan blender untuk menghancurkan korbannya, Amelia memasukkan kepalanya di balik lengan Jo sambil mengusap ototnya.


“Aku tidak tahan melihatnya Jo, itu sungguh menjijikkan,” pekiknya pelan. Suaranya terendam di sweater Jo yang lembut.


Jo tampak asyik menikmati film. Ia sering bergeser seolah posisi duduknya kurang nyaman.


Amelia berharap Jo memeluknya, atau setidaknya membalas genggaman tangan Amelia. Tapi rupanya kesibukan di perpustakaan merusak organ tubuh Jo. Jo terlalu lelah dan hanya dapat menatap lurus ke depan film.


Tapi setidaknya Amelia masih punya satu ke sempatan untuk bermesraan dengan Jo, di pesta Sigma besok malam.


Akhirnya Amelia menggenggam tangan Jo. Meremasnya pelan, lalu kembali menonton film.


Musik yang menyeramkan itu tiba-tiba mendadak berhenti, lampu kembali menyala, dan layar pun kosong. Auditorium itu di penuhi keluhan kecewa dan perasaan tidak puas para penonton.

__ADS_1


__ADS_2