Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 20


__ADS_3

"Oke, aku sudah siap!" Cristin berbalik dari cermin riasnya, wajahnya sangat riang. Amelia mengakui kakaknya malam ini tampil sangat mempesona. Blus sutra gading itu mempercerah warna kulit dan rambutnya. Rok mini nya melekat ketat di pinggulnya yang seksi.


Amelia merasa iri, Cristin selalu kelihatan cantik dengan mengenakan pakaian apapun. Sekalipun cuma memakai kaos luntur dan jeans belel. Kalau dandanannya begitu mempesona, Amelia tak berani membandingkan dengan dirinya.


"Kakak cantik sekali, keren lagi," komentar Amelia iri.


"Iya, kak!" timpal Nina tanpa adanya nada iri sedikit pun. "Kamu benar-benar cantik."


Cristin tertawa sambil memasang anting mutiaranya, lalu menjawab, "Ini kan pesta istimewa. Amelia, kamu kelihatan sudah baikan lho. Tidak ada bekas habis tenggelam."


"Iya, kak. Aku memang sudah baikan," jawab Amelia.


"Baguslah. Nina, aku suka bajumu. Arif pasti terpesona melihat penampilanmu malam ini," kata Cristin meringis.


Nina tersipu malu lalu menarik rok dari wol biru merah pucat dengan pola indah. Ia merancangnya sendiri untuk di padukan dengan jaket bludru biru berpotongan ketat di pinggang.


"Terima kasih, kak," ia mengangkat bahu merendah. Kemudian di liriknya jam lalu berseru, "Ya ampun! Aku harus ketemu Arif sekarang! Restoran Lusiana, jauh tidak kak dari sini? Aku terlambat tidak ya?" lanjut Cristin panik.

__ADS_1


"Mmm ..." Cristin menghitung-hitung. "Tidak begitu jauh. Cuma lima menit jalan kaki. Tunggu saja sebentar lagi, Jo akan menjemput kita. Kita bisa berangkat bersama-sama," jelas Cristin


Uhhh. Semuanya tak berjalan seperti yang di harapkan Amelia. Apalagi, tampaknya kakaknya tak sadar kalau papernya telah di sembunyikan oleh Amelia.


"Tidak. Terima kasih, kak. Nanti Arif khawatir, kami sudah jajian bertemu di sana. Aku berangkat sekarang saja," kata Nina sambil melangkah menuju pintu.


"Hei, Nina selamat berpesta semoga menyenangkan!" Amelia berharap kencan Nina berjalan lancar. Paling tidak sepupunya itu tidak akan mengganggu acaranya. Dan seandainya Cristin tahu kalau makalahnya hilang!


"Ya, selamat berpesta," ulang Cristin.


"Terima kasih. Mudah-mudahan pestanya menyenangkan," kata Nina begitu membuka pintu.


"Kamu sudah siap, Amelia," tanya Cristin.


"Hampir," jawab Amelia santai.


Untuk mengulur waktu, di percikkannya beberapa tetes parfum di pergelangan tangan dan di belakang telinganya.

__ADS_1


"Kamu tahu tidak, kak?" kata Amelia. "Minggu ini aku juga harus menyusun paper. Mungkin, hmmm, aku bisa nyontek punyamu. Aku ingin tahu caranya bikin catat kaki, soalnya ..."


"Kamu mau melihatnya sekarang?" potong Cristin. "Tapi, Amelia sekarang sudah hampir jam delapan!"


"Aku tidak bakal baca semuanya kok, yang penting-penting saja. Aku belum pernah bikin paper sejauh ini, jadi aku bingung. Kalau gagal, bisa-bisa hilang kesempatan kuliah dan ..."


"Oke, oke. Kamu cari saja sendiri," kata Cristin sambil berdiri di depan pintu dengan wajah bingung.


"Terima kasih, kak. Di mana paper mu?" tanya Amelia pura-pura lugu.


"Aku taruh di meja belajar," jawab Cristin.


"Mana? Tidak ada, kak." Ia menggoyangkan tangan. "Mungkin kamu taruh di bawah tumpukan buku ini?"


"Tidak! Aku taruh di tengah-tengah meja belajar. Hei, di mana paperku?" tanya Cristin setelah melihat mejanya kosong dan makalahnya tidak ada di sana. Di hampirinya Amelia," Tadi aku taruh di sini! Kamu tadi juga lihat sendiri kan?"


"Masa? Mungkin kamu lupa," kilah Amelia.

__ADS_1


"Iya! Begitu aku masuk, aku langsung bilang syukur semuanya sudah beres lalu aku taruh di sini." Wajah Cristin tampak panik. "Setelah itu aku ngapain lagi ya? Kenapa aku bisa seceroboh ini?" gumamnya.


Amelia pura-pura cemas. "Astaga, mungkin waktu kamu bersih-bersih tadi kamu pindahin ke tempat lain. Atau jangan-jangan kamu buang ke keranjang sampah," kata Amelia.


__ADS_2