
*****
Di ruang kerja pak dosen
Nina menatap pemandangan di luar jendela di belakang meja kerja pak dosen dengan cemas. Ia bersiap-siap menerima kritikan tajam dari sang dosen.
Bapak itu melihat gambar rancangannya sudah lebih dari lima menit yang lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia takut kalau bapak itu menolak hasil rancangannya. Itu pasti akan membuat hatinya kecewa.
"Nona, gambar hasil rancangan mu sungguh bagus sekali!" dosen itu bersandar di kursi putarnya lalu mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Di taruhnya kumpulan gambar rancangan Nina dengan hati-hati di atas lemari arsip di belakangnya.
"Masa depanmu akan cerah asal kamu mau belajar dengan giat dan mengembangkan diri," lanjutnya lagi.
"Sungguh?" Nina memandang dosen itu dan Arif secara bergantian sambil tersenyum senang. "Terima kasih Pak Rosen! Terima kasih banyak karena bapak telah berkenan melihat karya saya," kata Nina dengan sopan.
"Terima kasih kembali. Kamu benar-benar mau kuliah di Sudirman?" tanya Pak Rosen.
"Iya, Pak. Itu adalah impian saya," jawab Nina.
__ADS_1
"Bagus. Kamu lihat sendiri," Pak Rosen melanjutkan.
"Jurusan seni di Sudirman memang sudah terkenal di mana-mana, saya ingin jurusan seni jadi program utama di negara kita." Ia tersenyum pada Arif. "Arif adalah mitra kerja saya."
Nina terdiam. Di depannya ada pengarang buku bagus, orang terkenal, dekan jurusan seni dan design di Universitas Sudirman, sekarang sedang memujinya dan mengundangnya belajar bersama.
Dulu kesempatan untuk kuliah di kampus terkenal seperti di Sudirman, hanyalah sebuah mimpi belaka bagi Nina. Tapi nasib berubah dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia bisa meyakinkan seorang dosen bahwa ia layak utuk kuliah di sana.
*****
Nina menghela nafas lalu memejamkan matanya, menikmati kehangatan sinar matahari musim gugur. Dan angin semilir yang menerpa wajahnya.
"Indah sekali hari ini," Nina membuka pembicaraan.
"Mm-hmmm," Arif menyetujui. Mereka mapir membeli minuman di kantin kampus dalam perjalanan mengambil buku design Arif. Mereka duduk di halaman rumput, sambil menikmati hangatnya sinar matahari.
"Tahu tidak," kata Arif tiba-tiba. "Profilmu hebat. Kapan-kapan aku mau melukismu. Kalau kamu bersedia."
__ADS_1
Mata Nina terbelalak dan wajahnya merah padam mendengar ucapan Arif. "Ah, itu pasti rayuan mu saja. Mungkin ke setiap cewek kamu juga begitu." Candanya menutupi rasa gugup.
Arif menatapnya dengan mimik lucu, dan kemudian tertawa. "Memang," katanya setuju. Ia berbaring miring dengan siku menahan kepala, memandang kampus dengan mata setengah tertutup.
Nina masih malu untuk mengobrol dengan Arif. Tapi ia suka.
Arif memandangnya sambil tersenyum. Rona kebahagian terpancar di wajah Nina. Pandangan Arif begitu mesra. Namun tiba-tiba wajah Andika melintas di benaknya, Nina terbayang tatapan mata Andika yang lembut dan penuh cinta.
"Kenapa Nina?" tanya Arif lembut. "Seperti habis melihat setan?"
"Apa? Mmm, tidak apa-apa. Aku baru ingat tadi aku pergi tidak pamit dengan Kak Cristin atau pun Amelia. Aku takut mereka mencemaskan ku," Nina bersiap beranjak.
"Hei! Mau kemana? Katanya mau ambil buku. Siapa yang mau mencari kamu? Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing," Arif menarik lengan Nina. "Santai saja!"
Sentuhannya begitu hangat. "Boleh juga, memang betul. Aku bebas, mau melakukan apapun. Tidak perlu takut. Bahkan, Amelia dan Kak Cristin belum tentu memikirkan aku mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka," batin Nina.
Ia teringat Andika. Hati kecilnya bertanya kalau ia mulai menyukai Arif, lalu bagaimana dengan Andika yang setia menunggu cintanya di sana.
__ADS_1