
Kemudian orang-orang di ruang majalah langsung menghampiri mereka, lalu segera membantu Jo dan petugas perpustakaan menyusun buku-buku itu kembali ke raknya.
Begitu meletakkan buku terakhir, Jo segera berterima kasih pada mereka dan duduk kembali di tempatnya semula melanjutkan membaca buku.
Amelia masih berdiri terpaku di situ persis seperti orang pikun. Jo tak memandangnya sama sekali. Mungkin Jo marah padanya karena kejadian tadi.
"Kamu tahu?" kata Amelia takut-takut. "Seharusnya di buatkan rak yang baru lagi," tambah Amelia.
Jo tak mendengarkan ucapannya. Ia melirik jam tangannya kemudian bersiul kecil. "Aku sudah janji untuk membantu anak-anak menyiapkan pesta nanti malam. Aku tidak mau membuat mereka kecewa," kata Jo.
"Katanya kamu mau istirahat? Terus kapan kamu santainya?" kata Amelia masih pada posisinya.
"Maunya sih begitu, tapi mana sempat. Tidak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Jo.
Amelia tak bisa menjawab. Ia hampir saja menangis karena kecewa sekaligus malu. Semua kacau, dan kekacauan ini di sebabkan oleh dirinya sendiri yang ceroboh. Jo jadi benci padanya! Rasanya ia ingin merangkak di bebatuan eh, di tempat tidurnya yang bersih lalu mati.
__ADS_1
"Hei, tidak apa-apa kok," ujar Jo lembut. Di sentuhnya bahu Amelia. "Kamu datang kan ke pesta nanti malam?"
Tatapan Jo begitu lembut menenangkan. Semangat Amelia kembali membara. Jo sayang padanya! Syukurlah Jo tak marah padanya karena musibah kecil tadi.
"Aku pasti datang dong," jawab Amelia penuh semangat.
"Cristin dan Nina juga datang kan?" tanya Jo.
"Nina? Aku tidak tahu deh," elak Amelia. "Kalau Kak Cristin masih ada tugas ia harus membuat paper panjang sih. Katanya mungkin ia tidak bisa datang."
"Baiklah, kalau begitu nanti kamu aku hubungi lagi," kata Jo sambil berdiri. Jo mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum ketika melihat wajah Amelia tampak kecewa. Ia memasukkan buku yang di bacanya tadi ke dalam ransel dan mengayunkannya ke pundak. "Daaah, Amelia," katanya lembut sambil melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan Amelia.
Bagaimana caranya agar Jo tidak marah dan kembali baik padanya?
Dengan langkah gontai Amelia pun meninggalkan perpustakaan. Ia pulang ke asrama Cristin dengan rasa kecewa yang mendalam.
__ADS_1
Amelia melahap sisa cokelat Belgia milik Cristin kemudian menghela nafas. Sebenarnya ia tak suka ngemil, tapi kalau sedang stres begini, cokelat bisa menenangkan hatinya.
Cokelatnya sudah habis. Waktunya beraksi lagi. Dia harus berusaha sebisa mungkin agar hati Jo luluh.
Amelia bangkit dan tersenyum di depan cermin. Kemudian menuju ruang telepon dan memutar nomor telepon Sigma.
"Halo, ini Amelia. Jo ada?" tanyanya dengan suara manis. Malam nanti, ia akan bertemu dengan teman-teman Jo dan ingin membuat mereka terpesona melihatnya. Kalau semua teman Jo menyukainya, pasti Jo pun begitu.
"Ardianto? Tidak ada. Ia sedang tugas mengawasi kolam renang," jawab teman Jo.
"Oh, begitu. Di mana?" tanya Amelia.
"Di pusat olahraga. Ada acara renang gratis mulai jam tiga sampai jam lima nanti," jelas teman Jo.
"Oke, terima kasih." Ia menutup telepon lalu menghela nafas berat.
__ADS_1
Bagaimana kalau ia menyusul Jo ke kolam renang? Ia buru-buru kembali ke kamar, membongkar semua kopernya. Di lemparinya satu persatu isinya sampai menemukan baju renang, bikini seksi berwarna merah muda.
Ada untungnya ia membawa koper berat-berat. Perpaduan rambutnya yang keren dan bikini merah mudanya akan menaklukan Jovanto Ardianto.