
Amelia menunggu di koridor ruang 314, menunggu wawancara Nina selesai. Ia menggoyang-goyangkan kakinya di lantai berkarpet dengan tidak sabar. Serasa berjam-jam menunggu Nina selesai. Ia sudah sangat bosan menunggu Nina, yang tak kunjung keluar.
Tapi ia yakin kalau nasib Nina akan sama dengan nasibnya. Lagipula kalau gadis sehebat Amelia pun tak bisa menaklukkan Sudirman, apalagi gadis kampungan seperti Nina.
Tapi waktu Nina keluar membuka pintu, perkiraan Amelia ternyata salah. Hasil wawancara Nina sukses, Amelia bisa melihatnya dari senyum yang terpancar dari bibir Nina.
“Amelia,” pekik Nina sambil memeluk sepupunya itu. “Dia bilang aku bisa kuliah di Sudirman!”, sambung Nina lagi dengan sangat girang.
Di lepaskannya pelukan Nina, Amelia setengah tak percaya. Bagaimana mungkin Nina bisa lulus wawancara sedangkan dia sendiri gagal total?
Ironisnya, Nina tak akan bisa kuliah di Sudirman, selamanya. Masalahnya keluarga Rudianto terlalu miskin untuk membiayainya kuliah.
“Katanya aku bisa mendapat beasiswa kalau aku memang membutuhkannya,” Nina terus mengoceh sambil menuruni anak tangga. “Aku sangat senang sekali.”
__ADS_1
Mata Amelia menyipit. Kelewatan.
“Hip ... hip ... hore” katanya kering.
Semua pendaftaran dan wawancara ini benar- benar membosankan dan menjadi penghalang baginya. “Kapan sih waktu santainya? Aku mau menghubungi seseorang,” kata Amelia.
“Masih ada tour dulu, setelah itu kita bebas,” kata Nina. “Sekarang kita harus berkumpul di bangku panjang di depan gedung senat.”
“Bagus,” batin Amelia. Ia tak tahan lagi ingin menghindari Nina, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Junior Weekend dan semua yang berbau SMA.
Mungkin Jo akan mengajaknya ke tempat romantis yang ada di kampus ini. Atau mungkin Jo akan mengajaknya makan malam romantis berdua. Amelia langsung merasa gembira ketika memikirkan hal itu. Bagaimana tidak asyik membayangkan punya pacar keren, seperti Jo.
“Hallo, semuanya selamat datang di Universitas Sudirman.” Khayalan Amelia langsung buyar ketika ia mendengar suara dari pemandu tour lewat pengeras suara.
__ADS_1
“Nama saya Arif Ramadhan, saya yang akan memimpin tour kali ini, semoga kalian senang.” Si pemandu tour memperkenal kan dirinya.
Amelia segera melihat ke arah si pemandu tour itu. Lumayan keren sih, tapi tak sekeren Jo. Tak ada yang bisa menandingi kekerenan Jo di mata Amelia.
“Saya harap wawancara kalian tadi semuanya berjalan dengan lancar,” ujarnya sambil tersenyum ramah dan memandu mereka masuk ke dalam mobil van kuning. “Nah ini dia kendaraan kalian sudah menunggu.”
“Kita jalan, pir,” canda Nina sambil tertawa. Dan semuanya pun ikut tertawa geli mendengar ucapan Nina.
Tapi tidak dengan Amelia. Ia menganggapnya hanya sebagai lelucon anak kecil. Cekikikan Nina terdengar terkesan genit yang artinya, aku naksir kamu. Awal sebuah cinta monyet. Mungkin Nina tidak bermaksud bersuara seperti itu, tapi itu tak luput dari pendengaran Amelia.
Di tatapnya si pemadu tour itu dengan seksama. Tatapan mata cerahnya memberi perhatian yang lebih pada Nina. Jadi si pemandu itu juga menyukai Nina. Amelia tersenyum sinis. Andika di rumahnya sedang menunggunya dengan tidak sabar, itu artinya Nina bermain api.
“Hmmm,” batin Amelia. Sepertinya acara Junior Weekend Nina yang sempurna ini bakalan hancur. Amelia sangat puas.
__ADS_1
Sekarang tinggal mengatur strategi bagai mana supaya akhir pekannya di Purwokerto berakhir sukses dalam pelukan Jovanto Ardianto. Tanpa ada yang bisa mengacau nya termasuk sepupunya sendiri Nina.