Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 6


__ADS_3

Nina menghempaskan tubuhnya di kursi berwarna pastel sambil memandang ke luar jendela, ia berusaha menenangkan diri.


Ia tadi tak bermaksud melawak ia cuma keceplosan saja, tapi ia mendadak jadi pusat perhatian para peserta tour. Bukan cuma itu saja. Yang membuat jantungnya berdetak kencang adalah si pemandu tour itu. Senyumnya, kelembutannya, benar-benar membuatnya gila.


Pesona Arif mulai menghantui perasaan Nina. Arif benar-benar memperhatikan Nina. Dan Nina pun mengakui bahwa ia pun merasa sangat senang di perhatikan seperti itu oleh Arif.


“Baiklah. Saya akan sedikit mengulas sejarah tentang Universitas Sudirman sebelum kita berangkat,” kata Arif sambil tersenyum pada Nina.


Kemudian Arif menjelaskan secara singkat sejarah berdirinya Universitas Sudirman. “Yang di sebelah kiri kalian adalah gedung rektor, itu bangunan pertama di kampus ini,” kata Arif sambil menunjuk bangunan yang di maksud.


Ketika sopir menghidupkan mesin, Arif membelakangi para peserta, siap untuk berangkat. Suara Arif terdengar jelas dan lembut lewat pengeras suara. Nina menyimak tanpa berani menatapnya ia hanya menundukkan kepalanya. Tapi susah sekali menganggapnya tak ada.


Tatapan matanya yang dalam memberikan kesan hangat dan cerdas.


Arif kemudian meneruskan penjelasannya, dengan sesekali diselingi dengan humor yang membuat semuanya tertawa, agar para peserta tour tidak merasa terlalu bosan mendengarkan penjelasannya.


Begitu pun juga dengan Nina yang ikut tertawa mendengar kata-kata humor dari Arif. Arif termasuk pemuda yang ramah, pintar, lucu, dan menawan. Pesonanya sungguh luar biasa. Arif mempunyai daya tarik sendiri di mata Nina.


“Berhenti Nina ingat kamu kan sudah punya pacar yang keren! Ingat Andika, Nina,” Nina mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu terbawa perasaan dengan Arif.


Tapi mata Arif seakan terus mengejar dan membuatnya tersipu malu hingga wajahnya memerah. Sesuatu yang ada dibola matanya seakan langsung dapat melihat pikiran Nina. Dengan gelisah Nina memelintir rambutnya dengan jari sambil sesekali melirik ke arah Arif.

__ADS_1


“Sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Kalau iya berarti ...?” renungnya. “Dia tahu dong kalau aku mulai menyukainya?” batin Nina ia nampak sangat gelisah.


Dengan perasaan gugup di amatinya isi mobil itu sambil celingak celinguk ke kiri dan ke kanan. Ia mencari keberadaan sepupunya Amelia yang ternyata duduk di kursi paling belakang. Ia membutuhkan sepupunya itu untuk mengalihkan perhatian, agar ia bisa menghindar dari tatapan Arif.


Tapi Amelia malah asyik mengamati kuku-kukunya karena ia merasa sangat bosan mendengarkan penjelasaan yang di berikan Arif. Amelia tak sadar kalau ia sedang di perhatikan oleh Nina.


“Di sebelah kanan kita adalah gedung kesenian yang terkenal. Mungkin kalian sudah mendengar tentang program rancang, lukis, dan pahat di Universitas Sudirman ... program ini sudah beken dari dulu. Saya sering menghabiskan waktu di gedung itu,” komentar Arif sambil melirik ke arah Nina lalu tersenyum.


“Dia juga tertarik pada bidang seni dan rancang. Sama seperti aku,” pikir Nina. Ia membalas senyum Arif, kemudian menggigit bibirnya dan kembali memandang ke luar jendela.


Rasanya seperti ada yang aneh. Dulu hanya Andika yang mampu mebuat jantungnya berdebar kencang. Dan hanya Andika yang mampu memberika rasa nyaman padanya, tapi setelah ia bertemu Arif perasaannya sedikit goyah. Andika sama kerenya dengan Arif. Nina mulai bingung dengan perasaannya sendiri.


Matanya terbelalak ketika sadar bahwa lamunanya sudah terlalu jauh. “Tahan dirimu Nina jangan sampai tergoda dengan pesona Arif. Ingat Nina ada Andika yang setia menunggumu di sana. Ingat Nina. Jangan melihat ke arah Arif lagi,” ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri.


Rasanya cepat sekali mobil itu berhenti di depan gedung senat mahasiswa. Nina berusaha meyakinkan diri bahwa ia merasa lega. Tour sudah selesai dan ia tak akan bertemu dengan Arif lagi itu yang terbaik. Pikirnya dalam hati.


Ia bangkit dari kursi dan menunggu antrian untuk turun. Tapi waktu sampai di tangga terakhir, lututnya mendadak keram dan ia hampir saja terjatuh.


Arif yang berdiri di dekat pintu dengan sigap segera menahan tubuh Nina dengan tangannya yang kuat dan berotot. Di bantunya Nina untuk berdiri dan waktu itulah tanpa sadar mereka saling bertatapan. Nina tak dapat menahan diri lagi untuk memandangi mata Arif yang berhiaskan titik-titik kecil keemasan. Tiba-tiba ia merasa sesak nafas. Tangan Arif melingkar di bahunya.


“Kamu tidak apa-apa Nina?” kata Arif sambil melepaskan tanganya yang melingkar di bahu Nina.

__ADS_1


“Ehhh ... iya .. aku tidak apa-apa ...” jawab Nina gugup sambil memegangi lutunya yang keram.


“Hati-hati, Nina,”katanya sambil membiarkan Nina pergi walaupun ia tampak tak rela.


“Aku tidak apa-apa kok. Maaf. Mmm ... terimakasih kamu telah menolongku!” suaranya terdengar bodoh dan kaku seakan ia tak pernah bicara dengan cowok.


“Tapi ngomong-ngomong maaf kamu tahu nama ku dari mana?” tanya Nina bingung.


“Pakai telepati,” katanya bangga. Arif mengedipkan matanya.


Nina kaget jika memang benar ia menggunakan telepati, berarti Arif bisa membaca pikirannya di dalam mobil tadi. Nina tambah gelisah dan merasa sangat gugup.


“Itu, tanda pengenalmu,” sambil menunjuk tanda pengenal yang melekat di sweater Nina.


“Oh!” Nina tersentak. “Oh, iya!” jawab Nina sedikit lega.


“Mungkin kakimu kesemutan, karena duduk terlalu lama di tambah lagi kebanyakan mendengarkan ocehanku tadi tentang kampus ini sampai kamu bosan,” candanya.


“Oke deh,” kata Arif sambil merapikan rambut di keningnya. “Selamat berakhir pekan Nina. Mungkin kita akan bertemu lagi. Semoga hari mu menyenangkan di sini,” kata Arif sambil berlalu meninggalkan Nina.


“Ya, mungkin ... “ gumam Nina. Dia tak dapat memikirkan kata-kata lain selain kata itu yang dengan tiba-tiba langsung keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Bodoh sekali aku hari ini," pikirnya sedih. "Kenapa kaki ku pakek acara keram segala tadi dan hampir jatuh dari mobil, lalu lidahku jadi kaku. Bikin malu saja. Dia pasti tidak mau bertemu aku lagi."


Kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dia masih ingin bertemu dan lebih dekat lagi dengan Arif? Tapi tiba-tiba ia merasa takut. Ia teringat dengan janji nya pada Andika sebelum ia berangkat ke Purwokerto. Bahwa ia tidak akan terpikat dengan pesona laki-laki lain. Tapi nyatanya Arif hampir saja mampu melumpuhkan perasaannya itu.


__ADS_2