Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 21


__ADS_3

Cristin menutup mulutnya. "Tidak mungkin! Tidak mungkin aku membuangnya." Di lihatnya keranjang sampah. "Kosong! Aduh sampahnya sudah aku buang lagi! Bagaimana ini?" kata Cristin panik.


"Tidak mungkin kamu membuangnya," kata Amelia sambil mencubit pipi mencegah agar tawanya tidak pecah. "Kamu ingat-ingat lagi. Kamu kan orangnya rapih. Atau mungkin kamu taruh di dalam laci."


Lima menit kemudian kamar sudah seperti kemasukan maling. Semua laci terbuka. Cristin terduduk lemas di atas tempat tidur sambil meremas kepalanya. Ia masih bingung kenapa tiba-tiba papernya bisa hilang.


"Tidak masuk akal, tidak mungkin tiba-tiba hilang," keluhnya. "Jangan-jangan ku buang ke got! Atau paperku nyasar ke pembakaran sampah."


"Toookkk ... toookkk! Boleh aku masuk?"


Jo berdiri di depan pintu yang terbuka, tampak seperti peragawan di sampul majalah mode. Ia memakai kemeja putih di lapisi setelah jas wol abu-abu. Rambutnya yang ikal di sisir rapi ke belakang. Amelia terpanah melihat penampilan Jo. Dandanannya khas mahasiswa. Coba kalau Tessa dan Hana melihat, pasti mereka akan terpesona juga.


"Jo, kamu pasti tidak percaya, dengan yang aku alami barusan." Air mata Cristin menetes waktu menjelaskan apa yang di alaminya. "Masa aku berbuat setolol ini! Itu paper paling penting semester ini. Dan aku menghilangkannya," lanjut Cristin.


Amelia merasa bersalah, tapi di singkirkannya jauh-jauh perasaan itu. Cristin suka bekerja mungkin ia tetap gembira walau harus mengulang membuat paper. Dan kalau ia melihat Jo dan Amelia yang serasi sudah siap, pasti Cristin akan mengijinkan mereka untuk pergi berdua saja.


"Oke, jangan panik," kata Jo menenangkan Cristin. "Kamu masih punya copynya kan?"


"Sial, kenapa aku tidak terpikir sampai ke situ," batin Amelia kesal.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Cristin lesu.


Amelia menghela nafas lega.


"Hmmm, kalau catatanmu masih ada?" lanjut Jo.


Cristin langsung meloncat, dan menghampiri tasnya yang tergantung di belakang kursi meja belajarnya.


"Semuanya ada di sini," jawab Cristin girang.


"Bagus!" desah Jo. "Memang berat, tapi kalau kamu mulai menyusunnya lagi sekarang, mungkin besok bisa selesai. Kamu pasti masih ingat isinya kan?" kata Jo menyemangati Cristin.


"Tidak bisa." Wajah Cristin tampak sangat sedih. "Besok aku ada ujian. Jadi malam ini aku harus ngebut."


Amelia kembali merasa berdosa. Begitu melirik Jo perasaan itu langsung hilang. Ia akan meminta maaf pada kakanya kapan-kapan. Asal jangan malam ini.


"Aku di sini saja, bantuin kamu," kata Jo lembut.


Cristin tampak senang dengan tawaran dari Jo. Sementara Amelia kaget setengah mati. Amelia takut jika Cristin akan menerima tawaran Jo.

__ADS_1


Kemudian Cristin menggeleng, "Jangan konyol! Jo. Tidak baik kalau ada dua orang dalam satu kamar malam minggu seperti ini. Lagipula ini kan tanggung jawabku. Kalian pergi saja. Senang-senang jangan pikirkan aku, oke?" dengan senyum sedih ia mulai membuka buku catatannya.


"Oh, bagus ini konsep pendahuluannya," kata Cristin mencoba mengalihkan pembicaraan.


Amelia memasang muka setres, sementara hatinya gembira bukan main. Ia menghampiri Jo, lalu menggandeng tangan Jo.


"Ayolah," ajak Amelia lembut. "Biar kakak sendirian, mungkin ia butuh konsentrasi."


"Kamu benar tidak apa-apa kami tinggal sendirian, Crist?" tanya Jo.


"Iya, Jo. Tak apa, kalian pergi saja. Semoga pesta kalian menyenangkan," jawab Cristin lemah.


"Baiklah. Kalu begitu kami pergi dulu, semoga papermu cepat selesai," lanjut Jo. Sambil berjalan menuju ke arah pintu keluar.


"Daaah, kak," kata Amelia sambil melambaikan tangannya.


"Daaah," jawab Cristin lalu kembali fokus ke buku catatannya.


Amelia senang rencananya berhasil. Kakaknya tidak jadi ikut ke pesta bersamanya. Jadi tidak ada yang akan mengganggu waktunya bersama Jo.

__ADS_1


__ADS_2