
Amelia mengakui bahwa mereka memang pasangan yang serasi. Tapi mereka tak pantas berpacaran karena derajat sosial mereka yang berbeda.
Bagi Amelia, Jovanto Ardianto lah yang pantas menjadi pacarnya dan pendamping hidup nya kelak. Jovanto Ardianto punya segalanya, berbanding terbalik dengan Jimi yang hanya punya cinta dan ketulusan saja.
Amelia membuang mukanya dari cermin. Dia tidak mau melihat bayangan mereka berdua yang ada di cermin. Karena nanti akan membuat Amelia merasa iba dan kasihan pada Jimi. “Begini Jimi, ku harap kita tetap bisa berteman baik seperti dulu sebelum kita berpacaran ...” ucap Amelia lembut.
“Betul," potong Jimi. “Aku tahu arah pembicaraan mu. Aku juga tahu maksud mu yang sebenarnya. Kamu terlalu bagus dan terlalu sempurna untuk ku kan. Sehingga aku tidak pantas untuk berada di dekat mu. Oke, kalau begitu baik lah. Tapi ingat kalau kamu kesepian, jangan penah datang menemui aku lagi karena aku enggak bakal mau menemui mu lagi.” Jelas Jimi panjang lebar.
Jimi diam sejenak menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Amelia. Ini adalah kesempatan terakhir untuk Amelia. Ia menekan matanya kuat-kuat, menekan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya. “Selamat tinggal Jimi," batin Amelia. Kemudian membuka matanya kembali.
__ADS_1
Amelia menahan air matanya sekuat mungkin agar tidak jatuh di hadapan Jimi. Ia juga menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya, yang membuat hatinya semakin terasa sesak. Karena merasa bersalah atas keputusannya terhadap Jimi.
Amelia sebenarnya masih menyayangi Jimi dia tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Jimi. Tapi di satu sisi hati Amelia telah terpikat dengan ketampanan Jovanto Ardianto anak pengusaha kaya.
“Jadi kamu siap berangkat?” tanya Jimi berusaha seolah tak peduli. Bagaimana pun juga, Amelia dapat mendengar getaran lemah pada suara Jimi. Kemudian Jimi bangkit dari duduknya sambil menggantungkan jaket kulit di bahunya.
Jimi harus tahu bahwa keputusannya itu sudah bulat dan takkan tergoyah kan lagi.
Jimi memberikan Amelia kesempatan yang terakhir, kemudian ia bebalik dan berjalan gontai menuju ke arah kasir. Ia membayar minuman tadi dengan uang dua puluh ribuan kumal, lalu ia melenggang berjalan kearah pintu keluar. Ia berhenti sejenak dan memandang ke arah Amelia dengan tatapan sayu.
__ADS_1
“Tidak usah repot-repot, aku bisa pulang sendiri tak perlu repot-repot kamu antar aku. Ini pesan terakhir ku sebagai teman mu. Kamu terlalu sombong Amelia, kamu terlalu membanggakan diri dengan apa yang kamu miliki sekarang. Kamu pikir aku tidak pantas untuk mu karena derajat kita berbeda? Oke. Kita lihat saja nanti apa kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku yang dengan tulus mencintai dan menyayangimu.”
Jimi memasukkan ke dua tanganya yang berotot ke dalam saku jaket nya dan melangkah keluar dari kafe. Meninggalkan Amelia sendirian yang masih menatap kepergiannya.
Hati Amelia berontak, pikirannya menjadi tak karuan. Mengingat kata-kata yang di lontar kan oleh Jimi tadi. Sebenarnya ia merasa bersalah karena telah memutus kan hubungan secara sepihak dengan Jimi dan tanpa alasan yang jelas.
Lalu, ketika wajah Jo terlintas di benaknya, ia segera mengibaskan rambutnya yang menawan dengan angkuhnya.
"Yang lebih baik?".Batinnya. "Jimi yang malang aku memang sudah dapat, yaitu Jovanto Ardianto anak pengusaha kaya yang punya segala-galanya. Dan dia tak sebanding dengan mu. Jo bukan saja hanya kaya tetapi juga orangnya baik, ramah, dan sopan. Aku pasti akan mendapatkannya! Tak akan ku lepas kan!" Batin Amelia lagi.
__ADS_1