
Kenapa oh kenapa Cristin bilang begitu? Pasti Jo menganggapnya anak kecil!
Tapi tak ada nada aneh dalam sapaan Jo.
“Hei ... Cristin sering cerita tentang kamu."
“Semoga bukan yang jelek-jelek ya," sahut Amelia sangat ramah. Dia menatap kakaknya dengan cemas.
“Oh enggak dong!” jawab Jo cepat. Amelia menatap matanya lekat-lekat. Tatapan Jo seakan mengisyaratkan, kenapa baru sekarang kita bertemu?. Bisa saja, kata Amelia dalam hati. Dia toh sama cantiknya dengan mahasiswi termasuk Cristin.
“Silahkan duduk, Jo!” kata Cristin menyilahkan pemuda itu duduk dikursi antik yang nyaman.
“Oh, silahkan! Ngomong-ngomong dari mana asalmu, Jo?” tanya Bu Kusuma penasaran setelah pemuda itu duduk.
“Purwokerto. Baturaden Park," jawabnya santai menyebut sebuah kawasan elit di Purwokerto.
“Jovanto Ardianto ... Baturaden Park ...” Amelia pelan-pelan menghubung-hubungkan sesuatu yang terlintas dalam benak Amelia. “Jovanto Ardianto ... The Ardianto Corporotion ... kalau benar, berarti dia anak jutawan!”
Tampaknya Bu Kusuma juga berpikiran sama.
“Ah, apa pekerjaan orang tua mu?” rupanya Bu Kusuma sangat tertarik.
“Pengusaha," kata Jo. “The Ardianto Corporotion,"lanjutnya sopan.
__ADS_1
Sinar serakah melintas diwajah Bu Kusuma. “Kamu pasti lapar sesudah perjalanan jauh!” kata beliau tiba-tiba langsung jadi tuan rumah yang sempurna. “Nanti kusuruh Gina membuatkan menu makanan spesial."
“Tidak usah repot-repot, Bu. Nanti saya makan malam dikafe saja,” jawab Jo.
“Kafe?” Bu Kusuma memandang Jo dan Cristin bergantian dengan bingung. “Kamu harus makan malam disini!” paksa Bu Kusuma.
“Saya tidak mau mengganggu. Cristin kan jarang pulang kerumah ...”
“Jangan begitu," tukas Bu Kusuma. “Kita kan bisa ngobrol bersama. Jangan sampai melewatkan menu utama yang istimewa."
Cristin tersenyum pada Jo. “Kami serius."
“Astaga sungguh?” kata Amelia pada dirinya sendiri.
“Baiklah kalau begitu. Rasanya senang sekali,” jawab Jo.
“Bukan main!” batin Amelia. Seumur-umur, baru kali ini ibunya membuat hatinya senang.
“Coba kalau aku gak ada janji. Pasti aku sudah mampir kerumah Tati," keluh Cristin.
“Bagus, kamu masih ingat sama teman lama kamu," komentar Jo sambil tersenyum sopan. Kemudian menghadap Amelia. “Sama pentingnya dengan mendapat teman baru."
Amelia merasa hampir meledak. Yang dimaksud Jo adalah dirinya. Si ganteng keren, mahasiswa kaya, ternyata tertarik padanya. Untung dia tadi cepat pulang.
__ADS_1
“Aku mau memberi tahu Gina supaya menambah satu piring lagi," kata Bu Kusuma sambil berdiri. “Ngomong-ngomong Jo, nanti ada keluarga kami yang datang. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan. Crist, Bibi Sintia dan Paman Rudianto ingin ketemu kamu."
“Gak apa-apa. Makin banyak orang makin meriah kan?” kata Jo.
“Gak asyik kalau ada keluarga Rudianto," batin Amelia. Keluarga Rudianto memang keluarga baik tapi bukan itu masalahnya. Nina juga sering membatu Amelia dalam keadaan darurat. Misalnya waktu uang saku bulanannya habis, Nina meminjamkan uang tabungannya. Tapi sebenarnya keluarga Rudianto memang membosankan. Bukan mereka yang diharapkan berada didekatnya selagi dia mempunyai kesempatan besar berdampingan dengan Jovanto Ardianto.
“Asyik! Aku juga ingin ketemu mereka," seru Cristin. “Nina dan adiknya ikut tidak?” tanya Cristin.
“Nina ikut tapi adik-adiknya ada acara rapat pramuka," jawab Bu Kusuma. “Sampai nanti ya? Ibu mau menyiapkan makanan di dapur," katanya memberitahu sambil tersenyum pada Jo ketika meninggalkan ruang tamu.
Menyiapkan? Setahu Amelia ibunya tinggal memesan makanan jadi delapan porsi pada Van Dewi Katering.
“Aku juga mau pergi sekarang." Cristin berdiri lalu menyangkutkan sweater dibahunya. “Mungkin aku pulang pas makan malam. Maaf, aku tidak bisa menemani kamu , Jo. Amelia, nanti tolong ajak Jo keliling." Cristin menghela nafas.
“Beres kak," jawab Amelia waktu kakaknya bersiap pergi. “Akan kurebut Jo dengan senang hati!” tambahnya dalam hati.
“Sampai nanti Crist," teriak Jo. Lalu dia beralih ke Amelia. “Siap jadi pemandu?” tanya Jo.
“Pasti!” batin Amelia. Untung sekali kakaknya punya teman sekeren Jo. Apalagi Cristin dan Jo Cuma berteman. Berarti dia bebas.
“Ayo, Jo," Amelia meringis sambil menggandeng tangan Jo. “Kuantar keliling rumah."
Mereka kemudian beiringan keluar untuk melihat-lihat sekeliling rumah.
__ADS_1