
Musik yang menyeramkan itu tiba-tiba mendadak berhenti, lampu kembali menyala, dan layar pun kosong. Auditorium itu di penuhi keluhan kecewa dan perasaan tidak puas para penonton.
“Kembalikan uangku!” teriak salah seorang penonton, tawa pun meledak di ruang auditorium.
“Wah,” desah Arif sambil tersenyum pada Nina. ”Begini juga asyik kok”. Ia pura-pura menguap dan menggeliat lalu tertawa kecil.
Nina ikut tertawa. Mendadak ia ingin Arif menyukainya. Terus terang saja Nina mulai menyukai Arif. Ia ingin mengobrol sedikit dengan Arif, walaupun cuma sekedar basa basi. Seluruh tubuhnya mulai menegang.
“Terus terang saja,” lanjut Arif. “Sebenarnya duduk mojok begini lebih asyik dari pada nonton orang gila yang menghabisi keluarganya sendiri, itu sungguh mengerikan. Setuju tidak?” tanya Arif sambil menoleh pada Nina.
Nina mendadak menjadi kaku. Ia merasa wajahnya pun mulai memerah. “Sepertinya sih begitu,” gumamnya ragu.
Ia tak berani menoleh ke arah Arif.
“Bagaimana? Apa kamu betah di kampus ini? Atau kamu baru bisa betah setelah proyektornya di ganti dengan yang baru?” candanya.
__ADS_1
Sambil tersenyum Nina berkata, “Lama-lama betah juga kok. Tadinya memang agak sedikit bingung.”
Arif mengangguk mengerti lalu menatap mata Nina lengkap dengan pesonanya yang mampu menghipnotis para gadis.
“Aku tahu maksudmu,” katanya. “Aku dulu juga begitu waktu ikut Junior Weekend. Rasanya seperti terasingkan. Tapi setelah aku mendapatkan teman, rasanya tidak terlalu buruk?” jelasnya pada Nina.
“Kira-kira ya seperti itu,” Nina setuju. Arif memang penuh pengertian dan perhatian.
Tiba-tiba terdengar bunyi dari pengeras suara memekkan telinga. Lalu teriakan para penonton pun bersahut-sahutan memenuhi ruang auditorium.
Jelas gadis itu kepada seluruh penonton yang ada di ruang auditorium.
Jantung Nina berdetak cepat. Dia punya tiga pilihan yaitu mencari keberadaan Jo dan Amelia, tapi rasanya tidak mungkin karena Amelia pasti akan bersikap dingin padanya. Meneruskan pembicaraannya dengan Arif, tapi ia bingun harus bicara apa karena ia terlalu gugup dan kaku di depan Arif. Dan atau pergi begitu saja. Tapi jika harus jujur Nina tidak ingin buru-buru pergi, ia masih ingin mengobrol dengan Arif.
Lagipula kaki Arif yang panjang melintang menghalangi jalan, tidak mungkin ia merangkak di bawahnya. Kejadian tadi siang sudah cukup membuatnya malu. Pasti Arif akan mengira ia orang yang kaku.
__ADS_1
Mungkin ia bisa berbasa-basi dengan Arif sekitar satu atau dua menit sebelum pintu auditorium di buka, lalu ketika orang-orang mulai pergi dan pintu auditorium di buka, ia bisa kabur. Sesudah itu ia tak akan bertemu Arif lagi.
Begitu acara Junior Weekend ini selesai ia akan pulang kembali keasalnya dan melupakan Arif. Dan ia tak dapat memungkiri rasa kecewa yang timbul jauh di sudut hatinya.
Tak akan bertemu Arif lagi, tak akan ada rasa gugup lagi. Tak akan ada rasa kaku lagi. Tak akan ada rasa salah tingkah lagi, itu kah yang di inginkannya? Nina bingung, tapi ia merasa mungkin itu lebih baik daripada ia akan menyesal nantinya.
"Nah, filmnya sudah selesai kan?" katanya. "Sebaiknya aku pulang ke asrama sepupu ku Cristin, mungkin ia sudah menungguku dari tadi," sambungnya lagi.
"Kok, buru-buru banget?" tanya Arif sambil mengernyitkan dahinya. "Sayang sekali. Aku harap kita bisa bertemu lagi sebelum kamu pulang meninggal kan Sudirman, Nina?" sambung Arif penuh harap.
"Mmm, tapi aku sibuk sekali karena aku harus menyelesaikan tugasku. Selamat malam!" tanpa basa-basi lagi Nina langsung beranjak dari kursi, lalu melangkahi kaki Arif dan berjalan melewati kursi-kursi menuju jalur tengah.
Nina menaiki tangga menuju keluar kemudian ia berhenti sejenak untuk menengok ke belakang auditorium. Ia melihat-lihat apakah Arif akan menyusulnya atau tidak. Tapi ia beruntung Arif tidak menyusulnya. Lalu ia melanjutkan jalannya.
Ia melihat tulisan di depan pintu aula KAPASITAS BANGKU 300. Sedangkan di dalam ruangan auditorium ada sekitar empat ratus orang, dan yang anehnya lagi dari sebanyak orang di ruangan itu ia bisa duduk bersebelahan dengan Arif.
__ADS_1