
Amelia tampak sedang duduk seorang diri di sudut kafe dekat terminal di mana dia memang sedang menunggu seseorang, Amelia tampak agak gelisah karena yang di tunggu tak kunjung datang.
Setelah agak lama menunggu akhirnya yang di tunggu datang. Pemuda yang di tunggu datang menghampirinya dan kemudian langsung duduk di hadapannya.
Pemuda yang datang menghapiri Amelia itu bernama Jimi Aditia, dia adalah kekasih hati Amelia. Jimi berasal dari anak kalangan orang biasa yang tak sekaya dan semapan Jovanto Ardianto yang punya segalanya.
Dengan mata memandang lekat ke wajah Amelia dengan perasaan ingin tahu, ada apa sehingga Amelia mengajaknya bertemu mendadak seperti ini. Bukankah hubungannya dengan Amelia selama ini baik-baik saja.
“Apa ada yang ingin kamu bicarakan pada ku, Amelia?” tanya Jimi membuka pembicaraan.
“Ya ... Jimi, ini tentang ... tentang ...” Amelia tidak langsung melanjutkan ucapannya.
“Tentang apa?” tanya Jimi lagi penasaran.
__ADS_1
“Tantang kita;” jawab Amelia hati-hati.
“Apa itu? Boleh aku tahu?” desak Jimi.
“Aku hanya ingin mengatakan pada mu, sepertinya hubungan kita tidak bisa di lanjutkan lagi," Amelia berbicara selembut mungkin agar tak menyinggung perasaan Jimi.
Karena Amelia takut jika kata-katanya barusan akan membuat Jimi marah padanya. Sambil tangannya membuka tutup botol minuman yang ada di atas meja dengan perasaan gugup.
“Bukan masalah pribadi, Jimi." Jawab Amelia lembut.
“Bukan masalah pribadi, hah? Maksudmu enggak ada hubungannya dengan aku? Lalu kenapa? Apa alasan mu?” Jimi bersandar di meja di sudut kafe.
Jimi meraih tangan Amelia dari botol minuman yang di pegangnya. Ia meremas ke dua tangan Amelia itu. “Susah ku percaya." Di tatapnya tangan Amelia yang masih berada dalam genggamannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Seakan masih tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Amelia tersebut.
__ADS_1
“Jangan bikin susah ...” Amelia bergeser sedikit menjauh dari Jimi, sambil perlahan menarik ke dua tangannya kembali dari genggaman tangan Jimi.
“Ah, ayolah. Beri akau alasan yang jelas, Amelia. Kenapa kamu ingin hubungan ini selesai? Aku tahu ini pasti bukan kemauan mu, kan? Ini pasti gara-gara teman-teman kamu yang sombong yang selalu meremehkan aku dan selalu memandang aku rendah. Iya kan?”, kata Jimi geram.
Di tatapnya ke dua mata Amelia dalam-dalam, dia memaksa agar Amelia menatap balik matanya juga. Ia ingin penjelasan mengenai keputusan dari gadis yang sedang duduk di hadapannya itu.
“Jangan konyol," gumam Amelia. Sebenarnya sebagian yang di tuduhkan Jimi memang ada benarnya. Bahwa teman-teman Amelia tidak suka jika Amelia memiliki hubungan khusus dengan Jimi.
Tapi ada alasan yang lebih hebat lagi. Yaitu seorang mahasiswa anak orang terpandang telah memikat hatinya, dan Amelia tak mau berpacaran dengan anak SMA lagi yang sebaya dengannya. “Ini karena ... emmm ... dunia kita berbeda, itu saja," jawabnya singkat.
“Apa-apaan ini? Drama korea? Kamu memang anak orang kaya hidup mu bergelimang harta dan selalu berkecukupan, sedangkan aku jauh dari kata mewah untuk biaya kuliah saja aku harus bekerja sambil kuliah agar kuliah ku terus berjalan. Aku sadar kalau aku tak sepadan dengan mu. Kasih tahu yang aku belum tahu sebenarnya," desak Jimi lagi masih tak percaya dengan alasan yang di berikan Amelia.
Jimi melipat tangannya di meja, ia membungkukan badannya dan setengah berbisik. ”Kita kan pasangan yang serasi, kamu juga tahu itu kan? Mahasiswa satu kampus pun juga tahu itu kan?”. Di tunjuknya bayangan mereka pada cermin di samping mereka. Amelia pun mengikuti arah jari telunjuk Jimi untuk melihat. “Kurang apa lagi?” tanya Jimi.
__ADS_1