Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 17


__ADS_3

Kesan pertama Amelia pada kolam berenang Sudirman adalah bau tajam yang menusuk.


Amelia celingukan, yang menarik perhatiannya adalah gerombolan mahasiswa berotot yang duduk di pinggir kolam.


Ia mengabaikan gerombolan mahasiswa yang melirik bikini seksinya. Dengan penuh hati-hati ia terus berjalan melewati ubin basah menuju ke pos pengawas.


"Halo yang di atas!" Amelia melambai pada Jo dari bawah. "Masih ingat aku?"


Jo melihat ke bawah dan tersenyum.


"Hai, Amelia! Mau berenang ya?" Tampaknya ia sudah melupakan kejadian tadi pagi, tapi sepertinya ia tak mau turun untuk mengobrol sebentar dengan Amelia. Amelia mulai patah harapan lagi. Apa Jo tak punya mata? Apa dia tak bisa melihat baju renangnya begitu seksi? Ternyata memang tidak, yang dilihat Jo cuma para perenang yang ada di kolam.


"Rame sekali ya!" teriak Amelia di tengah bisingnya suara percikan air dan teriakan orang-orang.


Sepertinya Jo tak mendengar. Amelia mulai geram.


"Wow!" seru Amelia lebih keras lagi. "Kolam ini hebat!"


Kali ini Jo mendengar ucapannya. Ia mengangguk, tapi matanya masih fokus melihat ke arah kolam.


"Sejak kapan kamu tugas seperti ini?" tanyanya kembali.


Jo memandangi para perenang bergantian. "Sejak aku masuk dalam regu penyelamat," jawabnya.


"Aku suka renang, tapi aku tidak ahli. Capek sih. Ajarin renang dong ..." pinta Amelia.

__ADS_1


Saat itu lah seorang lelaki tegap berseragam merah putih menyusuri pinggiran kolam. Jo langsung duduk tegap di kursinya.


"Itu pengawasku Amelia. Aku bisa di pecat kalau ketahuan ngobrol selagi bertugas," ucap Jo.


"Oh, oke." Amelia berjalan ke pinggir kolam, lalu menoleh untuk melihat apakah Jo memperhatikannya dari belakang. Ternyata tidak.


Amelia mencelupkan kakinya ke kolam dan agak merinding. Disingkirkannya rasa takut, kemudian langsung terjun. Dilihatnya Jo sekali lagi sebelum ia memulai berenang. Ia berenang dengan gaya bebas menuju jalur balap.


Sudah lama Amelia tak berenang, tapi ia terus memancing perhatian Jo. Satu dua kali ia melihat Jo memperhatikan nya.


Di putaran ketiga, pinggangnya terasa agak ngilu. Karena lelah, ia berhenti mengayuh untuk melemaskan otot-otot lengannya. Kepalanya masih berada di bawah air dan ia merasa tak punya kekuatan untuk mengangkatnya ke atas air, untuk mengambil nafas.


Ia mengambil satu tarikan nafas ke udara lalu melanjutkan berenang. Sekujur tubuhnya lemah, rasa sakit di pinggang nya semakin tajam.


Tanpa punya pegangan apapun badannya meluncur ke bawah dengan cepat.


Wuuush! Air masuk ke telinga dan kepalanya terasa berdenyut-denyut.


Dengan


sisa kekuatannya, Amelia berusaha mengapung untuk berteriak minta tolong. Tetapi ketika ia mengangkat tangan, kepalanya malah semakin tenggelam.


Amelia menyipratkan air dan berusaha mengangkat kepala untuk berteriak.


"Tolong!" teriaknya.

__ADS_1


Kemudian kolam itu menelannya. Lalu Amelia pun tak ingat apa-apa lagi. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri, sampai akhirnya dia mendengar suara sayup-sayup.


"Kasih tempat! Dia di bawa ke sini."


Perlahan ia membuka mata dan melihat sinar lampu kuning terang menyilaukan di ruang darurat kolam renang. Ia memejamkan mata dan memiringkan kepala. Ketika ia membuka mata kembali dilihatnya samar-samar wajah Jo.


"Jo ..." gumamnya berat. "Ada apa?"


"Ssst ... jangan bicara dulu," bisik Jo di telinganya. "Kamu cuma kram. Begitu kami angkat dari air, kamu sudah pingsan."


"Oh, Jo ... kamu menyelamatkan aku," kata Amelia.


"Hmmm," Jo menunduk tersipu. "Memang tugasku. Dan Cristin akan membunuhku kalau sampai ada apa-apa denganmu. Sudah merasa baikan?"


"Sepertinya begitu." Amelia hampir pingsan lagi, kali ini karena tenggelam dalam kebahagiaan. "Ya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih, Jo."


"Kalau begitu. Sebaiknya kamu pulang, biar bisa istirahat," kata Jo sambil membantu Amelia berdiri.


Jo menyelimuti bahu Amelia dengan handuknya, kemudian meminta teman ceweknya untuk menemani Amelia berganti pakaian.


"Aku tunggu di luar, oke?" tanya Jo.


"Oke," jawab Amelia setuju. "Terima kasih. Tapi aku sudah baikan kok."


Memalukan sekali. Tenggelam di depan Jo, tapi setidaknya Jo jadi memperhatikannya secara pribadi.

__ADS_1


__ADS_2