
Amelia masih duduk di depan Jo, berlagak membaca buku selama lebih kurang dua puluh menit. Tapi lama-lama ia mulai bosan dan kesabarannya mulai hilang.
"Ssst!" Amelia memanggil Jo.
Kali ini Jo mengangkat kepalanya.
"Kamu haus tidak? Aku haus nih," katanya sambil tersenyum manja.
"Ada tempat minum di aula sana," jawab Jo, ia kembali membaca.
"Aku tidak mau air putih, bosan. Aku mau minuman bersoda," jawab Amelia.
"Ada mesin penjual minuman otomatis di lantai dasar di sebelah kanan ruang audio visual. Gampang di cari," kata Jo tanpa melihatnya.
"Oh. Anterin dong, sekalian kasih tahu tentang perpustakaan ini," kata Amelia membujuk Jo.
__ADS_1
Apakah ia terlalu gegabah? Amelia mulai berpikir bahwa ia hanya buang-buang waktu saja. Jo belajar terus tanpa menghiraukan keberadaan nya. Atau mungkin Jo memang kutu buku.
"Maaf, Amelia. Aku tidak bisa istirahat sekarang," kata Jo sabar, ia sibuk merapikan rambutnya. "Hari Senin aku ada ujian, malam ini ada pesta dan aku masih harus membantu anak-anak menyiapkannya ..." jelas Jo.
Jelas! Jo harus menyelesaikan semua tugas kuliah nya terlebih dulu, supaya bisa mendampingi Amelia di pesta dengan tenang. Sekarang masih ada waktu sebentar bersama Jo. Cukup untuk melakukan sesuatu yang akan membuat Jo memikirkannya sepanjang hari sebelum ia datang ke pesta nanti malam.
"Kalau begitu biar aku belikan minuman dan aku bawa ke sini," ujar Amelia.
Wajah Jo langsung cerah. "Gitu dong! Dari tadi kek, buruan beli! Eh tidak usah terlalu terburu-buru, oke? Aku tidak kemana-mana kok."
"Tidak usah, aku jus saja. Tapi adanya di gedung senat. Di bawah tidak enak. Tidak apa-apa kan?" pinta Jo.
"Beres, Jo!" Amelia segera bangkit dan berbalik perlahan. Ia menyambar jaket yang di gantungnya di rak tepat di belakangnya.
Jaket itu tak bergeser sedikit pun, di tariknya lebih kuat lagi agar lepas. Tiba-tiba, begitu jaketnya terlepas posisi rak buku pun menjadi miring. Amelia pun mulai panik. Buku-buku itu akan jatuh.
__ADS_1
Amelia langsung menutup wajahnya, ia takut melihatnya. Ratusan buku referensi pun jatuh ke lantai berserakan. Beberapa menit kemudian terlihat debu tebal mengepul. Mana Jo? Terkubur hidup-hidup?
"Jo kamu tidak apa-apa?" tanya Amelia dengan wajah panik.
Orang-orang di ruang majalah melihat keributan itu dari kejauhan. Debu mulai menipis. Amelia menarik nafas lega ketika melihat Jo muncul.
"Tidak ada tulang yang patah ... mungkin," katanya sambil bangkit dari meja dan membersihkan debu di bajunya. "Untung perpustakaan lagi sepi. Kalau kamu gimana ?"
"Oh, aku tidak apa-apa," Amelia menjawab tanpa memandang Jo. Ia menyingkirkan gumpalan kotoran dari celana jeansnya.
Memalukan sekali. Inilah permulaan hubungan mereka, semua rencana yang di susun Amelia hancur. Sama seperti buku-buku rapuh dan berbau apek yang berserakan di sekeliling mereka.
"Biar kami saja yang membereskannya," gumam Jo ketika ada salah seorang petugas perpustakaan menghampiri mereka menanyakan penyebab ke kacauan itu. Sambil berjongkok memunguti satu persatu buku yang berserakan di lantai.
Biar Jo dan petugas perpustakaan itu saja yang membereskannya. Amelia tak mau tangannya kotor terkena debu, yang nantinya akan menodai bajunya dan akan merusak penampilannya.
__ADS_1