
Nina melihat kearah antrian sambil mencari keberadaan Amelia, dilihatnya dengan teliti orang-orang yang tak sabar menuju pintu masuk. Ternyata Amelia sedang repot dengan dua kopernya yang super besar.
Pasti setiap mau pergi kemana pun Amelia selalu kebanyakan membawa barang-barangnya. Entah apa yang ada didalam kopernya.
Ayahnya dulu pernah mengeluh ketika Nina dan Amelia pergi kemping musim panas. Beliau mengatakan lebih mudah membawa kuda dan perlengkapan nya dari pada membawa Amelia.
“Oh, izinkan saya masuk, Pak," pinta Amelia pada pengusaha setengah baya di antrian paling depan. “Bus saya berangkat lima menit lagi, saya takut ketinggalan bus," lanjut Amelia.
Nina memperhatikan laki-laki itu yang sedang menggerutu tetapi memberikan tempatnya pada Amelia. Nina salut pada sepupunya itu, karena ia selalu memperoleh apa pun yang ia inginkan entah apa pun itu.
Beberapa menit kemudian koper-koper super besar Amelia selamat.
“Amelia!” panggil Nina sambil berlari kecil. Dengan tasnya yang menyilang di bahu dan ia mengepit tumpukan berkasnya.
“Oh hai, Nina," sapa Amelia datar.
__ADS_1
Nina menggigit bibirnya. Belakangan ini Amelia sering uring-uringan tanpa sebab. Sepertinya sulit di percaya bahwa mereka pernah akrab.
Tapi mau apa lagi? Dia sudah berusaha mendekat, tapi Amelia tak menanggapinya kecuali pada saat tertentu saja. Misalnya kalau Amelia sedang membutuhkan bantuan nya, maka Amelia akan bersikap baik dan akrab kembali pada Nina.
“Kamu Cuma bawa itu saja?” tanya Amelia kaget.
Nina mengangkat bahu sambil terburu-buru berjalan ke arah pintu. “Kita di Purwokerto Cuma dua hari saja kan, sampai hari Minggu?” tanya Nina.
“Iya memang,” jawab Amelia malas. “Lalu kenapa?” Amelia balik bertanya dengan datar.
“Hmmm ... emmm ... kok kamu bawa bajunya banyak banget. Kita kan Cuma dua hari saja, mana mungkin baju sebanyak itu kamu pakai semuanya," lanjut Nina penasaran.
Kencan dan sejenisnya? Nina menduga-duga alasan Amelia sebenarnya datang ke Purwokerto. Tapi itu bukan urusannya. Ia berjalan menuju counter enam, Amelia menyusul berjalan di belakang Nina.
“Permisi mbak, saya perlu boarding pass," kata Nina pada wanita yang ada di belakang meja. “Kalu bisa, saya ingin duduk di sebelah sepupu saya." Di ambilnya tiket dari dalam tas dan memberikannya pada wanita itu.
__ADS_1
“Bisa. Kamu duduk di kursi nomer berapa?”, tanya petugas itu pada Amelia.
“Enam belas B," jawab Amelia cuek sambil mengamati kuku-kukunya yang terkikir begitu rapi. Kemudian wanita itu memeriksa tiket Nina di komputer.
“Hei Nina, ngapain kamu bawa-bawa itu segala?”, tanya Amelia tiba-tiba sambil menunjuk kumpulan berkas yang masih di kepit Nina.
“Ah," elak Nina. Amelia selalu mencemoohkan ke gemaran Nina seperti merancang busana atau bahkan masalah pekerjaannya, jadi Nina malas menjawabnya jujur.
Nina berharap pewawancara nya nanti tertarik pada rancangan busananya. Kalau si pewawancara itu juga sama terkesan nya dengan Profesor Martin dari Fashion Institute dengan rancangan busanan Nina, pasti akan ada kesempatan emas untuk Nina kuliah di Unsud.
Di akhir pekan ini ia tak mau memusingkan masalah ayahnya yang tak mampu membiayai kuliahnya. Tapi seandainya diterima di Unsud, ia pasti bingung juga bagaimana nanti dia membayar uang kuliahnya.
“Jadi? Untuk apa berkas-berkas itu?” tanya Amelia ke dua kalinya.
“PR kesenian ku,” katanya berbohong. Tak enak rasanya berbohong seperti itu, tapi tak ada pilihan lain dari pada di cemoohkan lagi. “Harus di selesaikan akhir pekan ini juga, maka dari itu berkas ini aku bawa."
__ADS_1
Nina lega ketika seorang petugas datang memotong pecakapan yang menjengkelkan itu. “Nomor enam belas A di sebelah sana. Pemeriksaan di mulai lima menit lagi.”
“Terima kasih,” kata Nina sambil mengambil tiketnya.