Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 10


__ADS_3

"Semoga belum jam sembilan," pikir Amelia. Sambil mendorong pintu kaca kantin.


Ketinggalan sarapan pagi berarti kehilangan kesempatan bertemu dengan Jo.


Diambilnya nampan kemudian dilihatnya seisi ruangan. Tidak seramai tadi malam, masih banyak tempat duduk yang kosong. Ada beberapa mahasiswa tampak lesu sedang menikmati kopi panas, ada yang asyik mengobrol, dan ada nuga yang sibuk membaca.


Amelia heran, kegiatan mahasiswa Purwokerto tak luput dari membaca, membaca, dan membaca. Salah satunya termasuk Jo. Tak ada tanda-tanda Jo akan datang untuk sarapan.


"Amelia sini!" terdengar suara yang tidak asing memanggilnya. Cristin berdiri dan melambaikan tangan, bersama dengan Nina di sampingnya.


Amelia mengambil sereal dingin dan secangkir susu hangat. Dengan santai ia menghampiri Cristin dan Nina.


"Kok, kakak tidak membangunkan aku sih?" tanya Amelia sebal. "Aku kan sudah bilang aku ingin bangun pagi hari ini."


"Tadi aku sudah membangunkan mu," jawab Cristin sambil tersenyum. "Tapi kamu malah mengusir ku! Kapok deh!"


Kakaknya benar. Cristin selalu bangun paling pagi, kalau di rumah. Cristin pernah membangunkan Amelia, tapi malah di sambut dengan lemparan bantal.


"Kakak lihat Jo tidak? Pagi ini aku belum melihatnya!" tanya Amelia berlagak tak peduli.


Seusai nonton tadi malam, Jo mengantarnya ke depan asrama dan mengatakan besok ingin bangun pagi. Itu lah sebabnya Amelia meminta Cristin membangunkan nya pagi-pagi, ia berharap bisa bertemu dengan Jo.


"Belum lihat, tuh. Kalau kamu Nina? tanya Cristin. "Kamu kan datang duluan ke sini?"


"Jo sudah mau pergi waktu aku sampai di sini," ujar Nina.


"Mau pergi ke mana dia?" tanya Amelia penasaran.


"Aku tidak tahu. Aku tidak bertanya padanya," jawab Nina sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Kami cuma saling melambaikan tangan saja." Ia menatap Amelia dengan iba.


Amelia tersenyum kecut lalu menghirup susu hangatnya.


"Sebenarnya aku ingin menemani kalian, untuk lebih mengenal kampus ini. Tapi tugas ku harus di selesaikan secepatnya," kata Cristin penuh sesal. "Kalian jalan sendiri tidak apa-apa kan?"


"Iya kak beres. Tidak apa-apa kok," sahut Nina. "Hari ini aku mau ke toko buku, setelah itu aku mau jalan-jalan keliling kampus. Supaya lebih mengenal lingkungan sini," lanjut Nina.


"Syukurlah! Berarti Nina tidak akan mengikuti ku sepanjang hari ini. Dan Kak Cristin pun sibuk. Ini kesempatan ku untuk berdua lagi dengan Jo," batin Amelia.


"Biasanya kalau akhir pekan begini kalian tidak beristirahat atau jalan-jalan kak untuk melepas penat?" tanya Amelia pada Cristin.


"Lihat kondisi dan situasi. Kalau tidak ada tugas ya bisa beristirahat atau jalan-jalan," jawab Cristin. "Kamu kenapa? Kamu naksir salah satu cowok di sini ya?" Cristin menatap Amelia dengan curiga.


Nina meliriknya, ia menunggu jawaban dari Amelia.


"Oh, seperti itu," kata Cristin. "Habis semalam kamu kan banyak ketemu cowok-cowok keren di sana?" tanya Cristin menyelidik.


"Ya. Tapi tidak ada yang menarik," jawab Amelia.


Cristin berpaling kepada Nina. "Kamu benar-benar tidak bisa datang ke pesta Sigma? Biasanya pestanya seru lho!"


Nina meringis lalu meletakkan cangkirnya. "Sebenarnya sih ingin, tapi tugasku menumpuk."


"Oh, Nina sayang sekali kamu tidak bisa ikut," Amelia berceloteh senang karena Nina tak akan mengganggunya di pesta Sigma. Amelia merasa tahu apa penyebab sebenarnya Nina tidak ikut pesta, Nina takut bertemu dengan si pemandu tour itu.


"Aku juga tidak bisa ikut," ujar Cristin.


"Tugasku juga banyak. Sepertinya kamu yang paling beruntung di antara kita bertiga, Amelia."

__ADS_1


"Memang," kata Amelia dalam hati.


Cristin bangkit sambil membawa nampannya. "Aku duluan ya. Sampai nanti!"


Setelah Cristin pegi suasanan jadi kaku. Nina langsung menghabiskan makanannya. "Aku mau pergi juga," kata Nina. "Selamat bersenang-senang Amelia."


Amelia mengangguk datar. "Kamu juga," gumamnya. Sementara pikirannya melayang sibuk menyusun rencana.


Begitu sepupunya hilang dari pandangannya, Amelia langsung mendorong nampannya. Ia berdiri dan mendatangi telepon dekat pintu masuk. Di angkatnya gagang telepon lalu memutar angka nol, berharap teleponnya tersambung.


"Operator. Ada yang bisa di bantu?"


"Ya. Bisa di sambungkan ke asrama Sigma Epsilon?" pinta Amelia.


Belum lama kemudian. "Sigma!" teriak suara di seberang sana.


"Oh hallo," sapanya ramah. " Bisa bicara dengan Jovanto Ardianto?"


"Sebentar. Jo! Ardianto! teriak suara itu.


"Maaf," kata suara itu kembali. " Jo tidak ada. Ada yang bilang dia di perpustakaan. Dari siapa ini?"


"Amelia," jawabnya.


"Wah, Amelia. Nanti malam kamu ikut pesta tidak?" tanya pemuda di dalam telepon itu.


"Pasti," Amelia tertawa kecil. "Terimakasih," tambahnya lalu menutup sambungan telepon.


Seingatnya perpustakaan tak begitu jauh dari kantin. Ia mencari-cari lipstick dan kaca kecil dalam tasnya. Dengan hati-hati di oleskannya lipstick merah merona itu di bibirnya, kemudian mengacak-acak rambut nya dengan jari agar terkesan seksi. Jo akan segera lupa pada buku-bukunya dan berpaling padanya.

__ADS_1


__ADS_2