Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 7


__ADS_3

Amelia meneliti setiap orang yang mondar-mandir di depan gedung fakultas psikologi. Dia berharap dapat melihat Jo di sana, dan siap menanti kedatangannya.


Amelia menghabiskan waktunya selama satu setengah jam hanya untuk memilih pakaian dan berdandan, yang membuatnya agak terlambat. Dia ingin membuat Jo bertekuk lutut di hadapannya.


Celana jeans ketat membalut pinggulnya yang seksi dan menegaskan bentuk kakinya yang jenjang. Ia padukan dengan sweater ski Norwegia berpola biru dan hijau kesayangannya.


Ia bergaya sesantai mungkin seperti selayaknya mahasiswa di sana. Ia tahu usahanya ini akan berhasil karena para mahasiswa di depan gedung itu meliriknya. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya siapa mahasiswa baru yang cantik ini.


Tapi Amelia tak tertarik sama sekali untuk berkenalan dengan para mahasiswa yang meliriknya itu. Hanya Jo yang ingin di temuinya. Di mana dia?


Nina sudah pergi, itu memberi kesempatan pada Amelia untuk nampang sendirian. Dan bermesraan dengan Jo.


Ia pun mengibaskan rambutnya sambil menengok ke arah lain. Begitu ia maju selangkah, tiba-tiba jalannya terhalang oleh pemuda yang memiliki dada bidang bersweater wol hijau dan di padukan dengan jaket kulit. Pemuda itu tak lain adalah Jo.


Amelia tersenyum cerah menyapanya, “Hai Jo!”


“Hai Amelia,” sapa Jo ramah sambil membalas senyum Amelia dan membuat sekujur tubuh Amelia bergetar. “Aku kira kamu tidak akan datang.”


“Semoga kita tidak terlambat ya,” kata Amelia manis. “Sudah lama ya kamu nungguin aku?” tanya Amelia.

__ADS_1


“Mmm ... lumayan. Masih untung kalau kita kebagian tempat. Soalnya pemutaran film oleh mahasiswa fakultas psikologi terkenal sukses,” jawab Jo.


Amelia melihat begitu padatnya mahasiswa yang memasuki gedung fakultas psikologi. Tampaknya seisi kampus berkumpul di sana.


Dan, Nina pun tak kunjung menampakkan dirinya. Mungkin Nina nyasar karena tak dapat melihat petanya dalam gelap.


Jo berjinjit menengok ketengah keramaian lalu berteriak, “Nina, sini! Dari tadi dia mencari kamu,” katanya pada Amelia.


Bagus. Amelia melotot. Habislah malam romantisku. Begitu melihat Nina, Amelia merasa tak percaya dengan pakaian yang Nina kenakan.


Nina memakai jaket merah hitam bertuliskan nama sekolahnya. Dia juga membawa tas, mungkin untuk menyimpan jaketnya. Amelia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat penampilan Nina.


“Mm-hmmm! Ya aku dari tadi di sini!” jawab Amelia dengan nada sinis.


“Baiklah karena sekarang semuanya sudah kumpul, cepat kita masuk. Nanti kita tidak dapat tempat duduk,” usul Jo.


Antrian untuk masuk ke gedung sudah berkurang, hanya tinggal beberapa orang saja di depan mereka yang masih mengantri.


Ketika melihat ke sekeliling auditorium, Amelia tak dapat menahan senyumnya.

__ADS_1


Tidak ada tiga kursi kosong dalam satu baris. Dia hanya melihat ada dua kursi saja. Tampak para mahasiswa duduk bergerombol, ada yang mengobrol dan memanggil temannya di baris lain.


Jo melambai pada segerombolan mahasiswa di baris belakang.


“Tidak ada tempat lagi,” katanya. “Cepat kalian berdua cari tepat duduk. Aku bisa duduk sendirian di belakang,” kata Jo lagi.


“Jangan konyol!” cegah Amelia. Dengan cepat di tunjuknya dua kursi kosong di baris enam, lalu ia bebisik pada Jo, “Ada dua kursi kosong di sana Jo!” ditariknya lengan Jo mengajaknya menuruni tangga. “Biar Nina sendirian, tidak apa-apakan Nina?”


Ia melihat wajah Nina sedikit murung. “Akhirnya dia mengerti juga, kalau aku ingin berduaan dengan Jo malam ini,” batin Amelia senang. Amelia tersenyum sumringah pada sepupunya itu. Ia yakin kalau Nina tidak akan mengikutinya lagi.


Nina tahu seperti apa rasanya jatuh cinta. Ia mengalah pada Amelia dan memilih untuk menonton sendirian. Nina memberikan kesempatan pada Amelia untuk berduaan dengan Jo.


“Tidak apa-apa, santai saja aku bisa nonton sendirian,” jawab Nina. “Sampai nanti.” Nina tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya menuruni tangga berikutnya.


“Terimakasih Nina. Kamu baik sekali!” teriak Amelia.


Amelia lalu menarik lengan Jo untuk menghampiri dua kursi kosong yang di lihatnya tadi.


“Maaf ...” ia mengangkat bahu dan tersenyum. “Tadi ada orang yang mau menempati kursi kita, makanya aku tadi buru-buru menarik lenganmu.”

__ADS_1


Jo mengangguk dan tersenyum tapi tak berkata sepatah pun. “Bagus,” batin Amelia. “Jo tidak membantah. Mungkin dia juga senang Nina tidak ikut bersama kami. Sekarang tinggal duduk tenang dan menunggu gelap.”


__ADS_2