
Kemungkinan berkunjung ketempat Cristin muncul dibenak Amelia. Cristin pernah mengatakan sebentar lagi akan ada acara besar dikampusnya. Amelia ingin mengetahuinya, sekarang waktu terus berjalan!
“Kak," kata Amelia. Ia berusahan agar suaranya terdengar biasa dan spontan.
“Minggu depan ada acar khusus dikampus kakak kan?” tanya Amelia.
Cristin bepikir sejenak. “Oh, maksudmu pasti Junior Weekend?”
Amelia menghirup air minumnya.
“Junior Weekend?” ulangnya pura-pura lugu. “Apa itu?”
“Kesempatan berkunjung ke Purwokerto untuk anak-anak SMA," jawab Jo. “Itu waktu yang tepat kalau kalian ingin mendaftar kuliah lebih awal. Banyak kegiatan dan wawancara. Pesertanya banyak pasti kamu suka." Jo memandang Cristin. “Iya kan Crist?”
Amelia tak menunggu reaksi Cristin. Jo seperti mengisyaratkan ingin bertemu dengan Amelia lagi. Dipandangnya Jo dengan gembira.
“Asyik, aku ingin ke Purwokerto," pekik Amelia girang.
Amelia membayangkan dirinya berjalan-jalan dikampus bersama Jo disampingnya. Menyenangkan sekali bukan bisa berakhir pekan dikampus dengan ditemani pemuda sekeren Jo.
“Cristin juga mendatangi beberapa universitas sebelum kuliah," ayah Amelia angkat bicara.
“Anak-anak harus merasakan airnya dulu sebelum nyemplung," lanjut ayah Amelia.
Amelia meringis. Akhirnya ayahnya memperbaiki suasana dan tidak memojokkan Amelia lagi. Semua berjalan lancar sekali nyaris sempurna.
__ADS_1
“Kamu mau ke Bandung juga, Nin?” tanya ayah Amelia. Tapi beliau tak menunggu jawaban dari Nina. “ Ini sekolah hebat. Berangkatlah berdua dengan Amelia."
Seketika itu juga punggung Amelia terasa kaku. Apa kemauan ayahnya? Merusak rencana malam minggunya? Seperti biasa, kalau ada Nina semua jadi kacau. Ia selalu membatasi kebebasan Amelia. Bisa-bisa merusak semuanya. Amelia harus bertindak cepat.
“Tapi yah, Nina pasti tidak tertarik dengan kuliah seperti Unsud," bantahnya.
“Jurusannya tata busana bukan perguruan tinggi yang berbobot. Kayak Akademik Modeling dan sejenisnya. Iya kan, Nin?”
, kata Amelia
“Saya baru tahu sekarang, kamu benar-benar akan meneruskan belajar ke Fashion Institute ya, Nin?” komentar Bu Kusuma.
“Ah, saya belum memutuskan," jawab Nina.
“Saya suka merancang, menggambar, dan menjahit," lalu diliriknya Amelia. “Kayaknya saya lebih tertarik pada tata busana," jelas Nina.
“Nin, Unsud juga punya jurusan desain yang bagus," potong Cristin.
“Betul. Aku punya teman dijurusan itu," tambah Jo.
“Jangan membatasi diri sebelum betul-betul kuliah," lanjut Cristin. “Siapa tahu kamu nanti menemukan jurusan lain dibagian desain yang lebih menarik dari tata busana. Misalnya arsitek gitu!” tambah Cristin.
Pak Kusuma meringis mendengar komentar Cristin.
“Betul," timpalnya. Ayah Amelia sebenarnya ingin salah satu dari anaknya mengikuti jejaknya mempelajari ilmu arsitektur. Amelia sama sekali tak tetarik pada bidang itu walaupun telah melihat keberhasilan ayahnya dalam merancang Tegal Mall.
__ADS_1
Ayahnya bangga pada Nina seakan sedang menawarkan pekerjaan diperusahaannya. Semua gara-gara komentar gombal Cristin tadi. Sungguh! Amelia tak berselera lagi menyantap sisa makanannya.
“Nina, Unsud itu sekolah hebat. Gedungnya lumayan besar, kita bisa beraktivitas dengan banyak orang. Tapi areanya cukup kecil sehingga kamu bisa berteman dan mempelajari karakter mereka," kata Cristin lagi.
“Bodoh sekali kalau aku sampai melewatkan kesempatan ini," Nina setuju.
“Pasti kamu betah, Nin," kata Bu Kusuma.
Hati Amelia hancur berkeping-keping sekarang ibunya tak menghargainya lagi sedikit pun!
“Kalian boleh menginap ditempat ku," kata Cristin. “Teman-teman sekamarku pergi berkemah akhir pekan ini jadi aku sendirian," lanjut Cristin.
“Ongkos naik bus biar kutanggung, Rudi," kata Pak Kusuma kepada ayah Nina.
“Nanti aku minta cuti kerja," kata Nina. “Pasti asyik." Ia tersenyum penuh harap pada Amelia.
Amelia tak membalas senyum Nina. Bagus ... bagus sekali. Ia mengacak-ngacak rambutnya dengan gelisah. Sekarang bagaimana menyingkirkan Nina dari acara akhir pekan romantisnya bersama Jo?
Ayahnya memukul meja. “Beres!” kata beliau. “Walau nantinya kamu enggak sekolah di Unsud, ini bagus untuk menambah wawasan mu, Nin."
“Wah, menyenangkan," kata Bu Kusuma.
“Nanti ibu telpon koordinator acaranya dan kasih tahu bawa Amelia dan Nina ikut acara akhir pekan,” lanjut Bu Kusuma.
Amelia hampir tak percaya. Benar-benar acara makan malam paling sial dalam hidup nya. Ditatapnya ayah dan ibunya bergantian. Baru kali ini mereka sepakat pada satu hal yang sama. Tidakkah mereka sadar bahwa mereka telah menghancurkan impian akhir pekan anaknya? Tidakkah mereka lihat mereka telah menghancurkan hidupnya?
__ADS_1