
“Terima kasih,” kata Nina sambil mengambil tiketnya.
“Seharus nya aku belajar bahasa Perancis, tapi aku malas,” gumam Amelia ketika menghempaskan tubuhnya di kursi yang menghadap ke jendela.
“Sepertinya kita tidak akan sempat belajar. Ada tes orientasi, wawancara, dan tour begitu kita sampai di sana nanti,” Nina mengingatkan Amelia kembali.
“Kamu bercanda kan. Masa semua kegiatan itu harus kita ikuti semua?” jawab Amelia.
“Itu kan baru sebagian dari semua acara,” kata Nina sambil bertanya-tanya apakah Amelia sudah membaca brosur Junior Weekend nya. “Wawancara itu adalah acara utama dari Junior Weekend, jadi mereka bisa menilai kita. Kamu mau baca brosur punyaku?” tanya Nina.
“Tidak, terima kasih, aku sudah baca brosurnya. Cuma agak lupa sedikit,” kata Amelia. Ia menggeliat dan menguap. “Semoga tidak membosankan!” kata Amelia lagi penuh harap. Kemudia ia membelakangi Nina, sambil duduk bersila menikmati pemandangan yang ada di luar jendela.
__ADS_1
Nina kemudian menggigit bibirnya sendiri. Sikap Amelia kepadanya sudah sangat jelas. Bahwa ia sama sekali tak tertarik untuk mengikuti acara Junior Weekend. Atau mungkin Nina lah yang membuatnya merasa bosan.
Nina menggelengkan kepalanya lalu menarik buku sketsa yang ada di dalam tasnya. Kalau Amelia tak memperdulikannya, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Nina hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Satu jam lagi mereka akan segera sampai, Nina menegakkan kursinya dan memandang ke arah luar jendela ketika bus mulai memasuki area terminal.
Sudah satu setengah jam Amelia masih diam membisu. Nina kehilangan selera untuk memulai percakapan.
Nina menghela nafas panjang. Melepaskan sedikit bebannya. Ia merasa sedih, tapi ia harus menghadapinya karena bagaimanpun juga Amelia adalah sepupunya.
Setelah ayah Amelia sukses dalam bisnisnya, Amelia jadi berubah seperti sekarang ini. Sikapnya berubah dingin ke Nina dan seolah tak membutuhkan Nina lagi.
__ADS_1
Amelia malu berteman dengan Nina. Amelia hanya datang kalau dia sedang susah atau terdesak saja, tapi sehari-harinya sepanjang hidupnya Amelia memang bisa di bilang sombong. Di tambah lagi sekarang ayahnya telah menjadi orang sukses dan terpandang.
Ini mungkin juga di tambah pengaruh lingkungan di sekolahnya SMA Pelita Harapan. Tapi rasanya tak enak kalau Amelia terus bersikap tak peduli pada Nina, seperti akhir-akhir ini. Amelia tak mau bicara pada Nina tentang apa pun itu. Ia hanya diam dan menganggap seolah Nina tak ada di sampingnya.
Baiklah. Walaupun Nina berpura-pura tak meras sakit hati atau pun kecewa, toh tak akan mengubah suasana juga. Di buangnya pikiran itu jauh-jauh dari otaknya. Fokus tujuan akhir pekan ini untuk masa depan, bukan mengenang masa lalu yang telah lewat.
Apa pun yang di katakan atau di lakukan Amelia kepadanya, tapi bagaimanapun juga Amelia tetaplah sepupunya selamanya.
Terkadang, di dasar hatinya Nina bisa merasakan bahwa sebenarnya Amelia pun juga sangat menyayanginya. Tetapi Amelia tidak memperlihatkan rasa sayang nya itu.
Bagaimanapun tak ada manfaat apa-apa untuk saat ini, selain ikut diam. Ketika roda-roda bus mulai berjalan, Nina di selimuti perasaan bahagia yang amat sangat menyenangkan hatinya.
__ADS_1
Ia akan berakhir pekan di salah satu perguruan tinggi terkenal di daerahnya! Pasti akan sangat menyenangkan! Nina bertekad, tak ada yang bisa merusak hari-harinya di sana untuk berakhir pekan. Termasuk sepupunya sendiri Amelia.