Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 23


__ADS_3

Nina dan Arif keluar dari restoran Lusiana menerobos kegelapan malam. Cuaca malam itu begitu lembab dan basah, Arif membantu Nina memakaikan jasnya.


"Dingin," kata Arif sambil mengusap kuping Nina sekilas. "Sepertinya mau hujan."


"Sepertinya sih begitu," jawab Nina


Suara guntur terdengar dari balik bukit, menggema halus di malam itu. Tapi badai yang sebenarnya sedang berkecamuk di hati Nina. Waktu makan malam tadi Nina sudah berusaha mengumpulkan keberanian dan bercerita tentang Andhika, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Jauh di lubuk hatinya, Nina ingin melanjutkan pengalaman gilanya ini.


"Mau jalan-jalan sebentar? Hujan masih jauh kok, aku belum kenal baik sama kamu, tapi akan kucoba tahap demi tahap. Ngomong-ngomong masakan Italia tadi benar-benar komplit ya," kata Jo.


"Mmm, memang rasanya lezat sekali," Nina menghela nafas senang.


Di genggamnya tangan Nina, Nina merasakan jari-jari Arif begitu hangat. Nina tahu saat ini dirinya sedang dalam masalah besar.


Mereka berjalan menyusuri pohon-pohon rindang. Di sepanjang perjalanan Nina menyandarkan kepalanya di bahu Arif.


"Kamu tahu, Arif," ujarnya sambil merenung, " Aku selalu berangan-angan jauh, supaya merasa seperti, hmmm ... orang yang istimewa. Seniman sungguhan, perancang ngetop, seseorang dengan masa depan yang amat cerah. Itu lah yang aku rasakan jika aku sedang bersamamu."


"Kamu hebat, Nina," kata Arif sambil melingkarkan tangannya di bahu Nina. "Masa kamu belum yakin sih?"

__ADS_1


"Arif ..." Nina menghela nafas panjang. "Aku mau mengatakkan sesuatu. Masalah yang selalu mengganggu pikiranku dan ..."


Bunyi guntur memotong kalimat Nina sejenak. Nina kaget setengah mati, Arif merengkuhnya lebih dekat.


"Mendingan kita ke asrama mu saja," kata Arif waktu melihat petir menyabar. "Oke?" Arif tersenyum.


Mereka berbelok di jalan berikutnya dan mempercepat langkah begitu petir dan guruh sambar menyambar.


"Nina," ujar Arif, "Kamu sudah lihat keadaan Sudirman, apa kamu ada keinginan untuk kuliah di sini."


"Oh, ya! Pasti! Itu memang impianku sejak dulu," jawab Nina.


"Masa?" Nina menahan nafas.


"Hmmm ... aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi." Arif berhenti sejenak lalu menatap mata Nina. "Lebih jauh."


Klaap!!! Petir kembali menyambar dengan cahaya putih yang menyilaukan, kemudian hujan lebat menimpa mereka.


"Ayo lari!" teriak Arif sambil menarik tangan Nina menuruni jalan menuju kampus.

__ADS_1


"Aaahhhh!!!" jerit Nina sambil tertawa dan lari kerepotan, rambutnya yang basah menempel pada wajahnya yang juga basah kuyup. Air hujan masuk ke dalam sepatunya.


"Ayo! Kita berteduh sebentar di situ!" Arif menunjuk ke jalan masuk yang beratap, dan mereka langsung berlindung di bawahnya.


"Gila!" Nina tertawa sambil berusaha mengatur nafas. "Kamu basah kuyup, Arif. Wajahku seperti apa?"


Arif menyibakkan rambut yang menutup wajah Nina. "Kamu tetap cantik," katanya pelan. Di sentuhnya bahu Nina, kemudian di tariknya pelan dan mencium Nina dengan lembut.


Nina merinding senang, di singkirkannya segala perasaan bingung dan gugupnya lalu membalas ciuman Arif. Sementara hujan terus turun membasahi tanah. Nina dan Arif kemudian berpelukan mesra seperti orang yang telah lama terpisah.


Akhirnya Nina terhenyak dan membuka matanya. Di tatapnya Arif dengan mesra.


"Wow," kata Arif sambil menyibakkan rambut Nina dan tatapan seolah menembus jiwa gadis itu. " Aku sudah menunggumu sejak tadi sore." Di sentuhnya pipi Nina dengan lembut. "Tadi kamu bilang mau membicarakan sesuatu. Soal apa, Nina?"


"Oh, bukan apa-apa kok. Tidak terlalu penting," Nina tersenyum.


"Bagus," Arif merapat sambil menarik Nina kembali, bibirnya menyentuh wajah Nina.


Nina hanyut dalam dekapan Arif. Ia lupa bahwa ia telah memiliki seorang kekasih, yang setia menunggu cintanya di sana.

__ADS_1


__ADS_2