Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
BAB 11


__ADS_3

Nina terkagum-kagum saat memasuki toko buku itu. Karena toko buku itu besar dan menjual berbagai macam buku yang lengkap.


Nina bingung ia tak dapat memutuskan bagian mana yang akan di datanginya terlebih dahulu. Tapi nalurinya menuntunnya ke bagian busana. Ia ingin tahu buku-buku apa saja yang biasa di gunakan para pengajar dan ingin membelinya satu, untuk ia pelajari.


Ia berhenti di depan rak buku bertuliskan design. Di ambilnya sebuah buku besar berwarna merah. Buku tersebut memuat gambar-gambar baju berwarna indah yang di buat dari zaman ke zaman lengkap dengan penjelasannya.


Pelan-pelan di bukanya buku tersebut dari halaman demi halaman dan mengamatinya, dengan terkagum-kagum. Bisa-bisa ia betah duduk di lantai berjam-jam.


Ia melihat harganya, kemudian ia mengernyitkan dahi. Karena buku itu harganya lumayan mahal. Tapi ia memerlukannya untuk bahan belajar, dan mungkin berguna juga untuk masa depannya nanti.


“Jangan di beli.” Suara itu mengagetkan Nina. Ketika ia menoleh matanya beradu pandang dengan si mata bagus itu lagi.


“Arif! Hai!” Nina menunduk kaku mengamati ujung sepatunya. Setelah sikapnya semalam ia menyangka bahwa Arif tak akan mau lagi bertemu dengannya.


Tapi sekarang Arif di sini di hadapannya, berdiri sambil meringis di depan Nina. Cristin bilang kalau kampus Sudirman cukup besar dan luas. Anehnya kenapa ia selalu bertemu dengan Arif tanpa di sengaja.

__ADS_1


“Kamu mengagetkan aku saja,” lanjut Nina tanpa berani menatap mata Arif.


“Maaf. Kalau aku mengagetkan mu. Aku beli buku bagus, nih.” Arif tersenyum sambil mengangkat buku yang baru ia beli. “Ini bagus buat bahan bacaan, jangan beli yang itu.”


Nina melirik buku yang di pegang Arif.


“Kenapa jangan di beli. Sepertinya buku ini bagus,” jawab Nina.


“Iya memang bagus. Tapi sayang uang nya mending kamu tabung aja,” kata Arif.


“Jadi, sekarang kamu sudah tidak mengambil kelas design lagi?” tanya Nina.


“Masih dua semester lagi. Jurusanku kan program rancang,” Arif tertawa kecil.


“Ah, benarkah? Kebetulan sekali aku juga mau mengambil jurusan itu!” seru Nina.

__ADS_1


“Kamu mau ketemu dengan penulis buku itu tidak?” tanya Arif. “Dia adalah dekan sekaligus pembimbingku. Yuk aku kenalkan padanya. Dia itu selalu mencari para pelajar yang berbakat. Kan lebih enak bisa bertanya langsung, dari pada duduk di lantai toko ini berjam-jam.”


“Oh, tapi aku tidak yakin apakah aku ini cukup berbakat atau tidak,” jawab Nena dengan pesimis. “Coba saja tadi aku bawa berkas rancanganku, untuk aku perlihatkan pada dekan mu. Siapa tau dia tertarik melihatnya,” sambungnya lagi.


“Tenang saja nanti kita ambil, sambil kita mampir jadi kita bisa ngobrol,” Arif mengambil buku yang ada di tangan Nina, lalu meletakkannya kembali ke tempatnya.


“Jangan khawatir aku janji, nanti akan aku pinjami,” sambungnya lagi.


Kita bisa mengobrol! Sepertinya Arif ingin mengenalnya lebih jauh. Menyenangkan sekali, tapi agak menyeramkan juga. Nina tak sadar perasaannya membuatnya bingung sendiri.


“Terima kasih sebelumnya, Arif. Aku sudah merepotkan mu,” ucap Nina.


“Tidak masalah,” jawabnya santai. “Oke, sepertinya maksudku pasti! Ayo kita berangkat!”


Mereka berdua berlalu meninggalkan toko buku itu. Untuk menemui dosen design pembimbing Arif.

__ADS_1


Kesempatan emas, bisa bertemu dengan dosen design sambil memperlihatkan gambar rancangannya. Itulah alasan utama Nina ke Purwokerto. Ia berharap dosen itu akan menyukai rancangannya.


__ADS_2