
“Mungkin tidak,” jawab Amelia sambil mengangkat bahunya. Ia tidak mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah murid pindahan dari sekolah negeri.
“Memang kita tidak bisa mengenal semua orang satu persatu, saya selalu mengatakan seperti itu. Tapi setidaknya kita tau kalah mereka adalah salah satu murid dari sekolah kita,” ia tertawa kecil.
Kemudian di pandangnya Amelia dengan senyum ramah dan dia melanjutkan wawancaranya, “Apa alasan yang mendasari kamu datang ke kampus ini? Apa yang kamu suka dari Universitas Sudirman?” ia menarik bolpen dari map sambil memainkannya, siap untuk menuliskan jawaban yang akan di berikan Amelia.
Ah-ah. Amelia berkeringat dingin, ia bingung harus menjawab apa. Yang pasti ia harus memberikan jawaban yang tepat dan memuaskan si dosen. Tapi pikirannya mendadak jadi buntu seketika.
Alasan yang mendasarinya sampai ke kampus ini hanyalah karena ingin bertemu dengan Jovanto Ardianto anak pengusaha sukses, tapi tidak mungkin ia mengatakan itu kepada dosen yang duduk di depannya.
“Jangan gugup, Amelia. Ini cuma wawancara biasa santai saja,” kata Pak Toto menenangkan Amelia. Beliau melipat tangan nya di atas meja dan dengan sabar menunggu jawaban dari Amelia.
__ADS_1
“Saya sangat suka dengan kampus ini, pak. Kampusnya bagus dan kesannya masih tradisional. Kayaknya sangat ... sangat penuh dengan sejarah dan ah ... hmmm ... setahu saya ini perguruan tinggi terkenal di kota ini. Kakak saya sering cerita soal itu.” Jawab Amelia agak ragu, karena dia tidak yakin dengan jawaban yang ia berikan.
Rasanya Amelia ingin menedang dirinya sendiri sampai ke ujung langit sana. Mengapa tadi ia tak mendengarkan nasehat dari Nina di terminal?
“Oh, begitu,” kata Pak Toto sambil menuliskan sesuatu di kertas. “ Jurusan apa yang kamu minati?” tanya Pak Toto lagi.
Mata Amelia terbelalak panik mendengar pertanyaan dari Pak Toto. Dia sendiri saja ingin tahu apa tujuan hidupnya yang sebenarnya. Amelia sendiri diam karena ia tak memahami siapa dirinya! Itu selalu menjadi masalah baginya. Ayahnya selalu mengomel karena masalah itu, dan juga guru-gurunya. Dan sekarang dosen ini pun memancing masalah itu.
“Dengan kata lain, apa yang ingin kamu pelajari di Purwokerto ini kalau kamu di terima kuliah di sini?”. Dosen tua itu mencoba tetap sabar, tapi Amelia mendengar nada kesal pada suaranya.
“Oh! Saya belum tahu pasti, Pak. Saya belum memikirkan masalah itu.” Ia tahu jawabannya ini tak akan memberinya nilai apa-apa. Ia ingin sekali bisa menjawab pertanyaan dari Pak Toto dengan tepat!
__ADS_1
“Apa ada pertanyaan tentang Sudirman?” tanya dosen itu lagi.
“Emmm ... sepertinya tidak ada, Pak. Saya cuma suka tempat ini.” Jawab Amelia asal-asalan.
Amelia menggigit bibirnya dan melirik ke sekeliling ruangan, ia berharap bisa melarikan diri. Wawancara ini benar-benar menyiksa dan membuatnya berhenti berpikir. Ia juga bisa melihat bahwa wawancara ini juga tak memuaskan sang dosen.
“Baiklah kalau begitu ...” kata Pak Toto sambil mendorong kursinya dan ia berdiri. “Mungkin kamu terlalu gugup untuk berbicara di depan umum,” sambungnya sambil menunjuk banyak nya peserta Junior Weekend yang memadati ruangan tersebut. Mulai dari siswa dari berbagai kota dan di tambah para mahasiswa Sudirman yang ikut terlibat dalam acara itu.
“Kalau kamu serius ingin kuliah di sini, kamu bisa ikut tes wawancara selanjutnya tahun ini.” Kata Pak Toto sambil tersenyum malas.
“Ya, saya ... saya akan mengikutinya, Pak,” kata Amelia. Resmilah sudah, ia telah menghancurkan wawancaranya sendiri dengan sukses.
__ADS_1
“Cukup sekian, Amelia.” Sang dosen berbalik sambil menggelengkan kepalanya sekilas, sambil pergi berlalu meninggalkan Amelia.
“Oh, bodoh amat,” batin Amelia. Aku juga tidak mau kuliah di sini. Aku Cuma mau kencan sama orang di sini. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa sakit hati di tolak seperti itu. Dan kali ini ia tak dapat menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri.