Menunggu Cinta Mu

Menunggu Cinta Mu
Delapan


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Andika yang membawa dia dan Nina melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya. Sambil menempuh perjalanan, ke duanya tampak sedang asyik ngobrol membicarakan rencana ke pergian Nina ke Purwokerto.


“Ingat sama Rangga Rahardian tidak? Bintang andalan Pelita Harapan. Dia kan sekarang kuliah di Unsud juga,"kata Andika pada Nina dalam perjalanan menuju ke bandara. “Dia betah disana," tuturnya lagi.


Andika memandang Nina sambil tersenyum dan Nina berusaha membalas senyuman Andika tersebut.


Percuma berpura-pura tegar, padahal perasaan mereka berdua sebenarnya sedih karena harus berpisah. Walau pun Nina hanya pergi untuk sementara waktu saja.


Andika dan Nina setiap akhir pekan biasanya selalu bersama entah itu nonton, jalan-jalan, atau hanya sekedar ngobrol di rumah Nina.

__ADS_1


Sepanjang minggu mereka sibuk dengan kegiatan dan hobi masing-masing. Andika sibuk dengan basket nya sedangkan Nina sibuk dengan rancangannya, jadi mereka jarang bertemu. Walau untuk sekedar mengobrol. Kalau Nina pergi itu artinya mereka berdua tidak bisa berakhir pekan bersam minggu ini.


“Mudah-mudahan aku bisa betah disana ya," ujar Nina. “Cristin bilang kami boleh memakai fasilitas yang ada di kampusnya. Kami boleh masuk ke perpustakaannya, ngobrol dengan anak-anak senat atau bahkan datang ke pesta mereka," kata Nina lagi. Ia memandang ke luar jendela ketika mereka meninggalkan jalan raya, tanpa memandang wajah Andika.


“Hei...” Andika tertawa gugup. “Jangan terlalu banyak bersenang-senang. Aku tidak keberatan kamu pergi berakhir pekan, tapi ingat jangan sampai ada cowok lain yang mendekati mu selagi aku tidak bersama mu," kata Andika sambil menatap lekat ke wajah Nina.


“Oh Andika." Nina tertawa lepas. “Kamu tenang saja tidak usah khawatir. Enggak bakalan deh." Diraihnya tas untuk melihat tiket busnya untuk yang terakhir kali nya. “Lagi pula cuma akhir pekan, kok. Tidak akan ada apa-apa dalam dua hari ini, lagi pula aku berangkat ke sana bersama sepupu ku Amelia," jelas Nina berusaha menenangkan Andika.


Nina merasakan adanya desiran kegembiraan di ujung-ujung jarinya. Ia tahu sungguh besar cinta Andika kepadanya. Tapi, setelah sekian lama mereka berpacaran, bila Andika mengucapkan kata cinta, selalu terasa seolah kata cinta itu baru pertama kali di dengarnya keluar dari mulut Andika.

__ADS_1


“Andika," ucapnya lembut. “Jangan cemas kan aku, oke? Kamu tahu aku juga sangat memcintaimu. Lagi pula aku kan hanya pergi selama dua hari," ujar Nina.


Secara naluri orang yang sedang kasmaran di mabuk cinta mereka bersandar dan saling berciuman. Setelah selesai Andika mengacak-acak rambut Nina dengan penuh kasih sayang.


“Oke, Nina Rudianto, sudah berangkat sana nanti kamu ketinggalan bus. Tapi janji begitu kamu sudah sampai langsung hubungi aku. Ingat itu!”, kata Andika.


Nina memeluk Andika dengan sangat erat untuk terakhir kali, seakan ia tidak akan bertemu dengan kekasihnya itu lagi. Setelah melepaskan pelukannya Nina langsung turun dari mobil Andika sambil menjinjing tasnya. Ia melambaikan tangannya ketika mobil Andika menjauh pergi meninggalkannya.


Kemudian, ia membawa tas dan kumpulan berkas yang ia bawa, lalu berjalan menuju counter tiket.

__ADS_1


Ternyata antriannya sangat panjang sekali. Dengan gelisah ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Jam perjalanan tinggal lima belas menit lagi. Kalau ia menunggu antian biasa-bisa ia ketinggalan bus.


Untung dia tak perlu periksa koper lagi. Nina hanya membawa satu tas dan kumpulan berkas-berkasnya. Ia langsung dapat membawanya dengan mudah masuk ke dalam bus. Sekarang tinggal menunggu Amelia sepupunya itu dan menuju pintu keberangkatan.


__ADS_2