
"Apa?! Mau nitip Lea disini selama 2 minggu? mulai hari ini juga? Seriously, Hun?!" aku menunjukkan rasa tidak setuju saat Mas Indra, suamiku meminta pendapatku atas permintaan mantan istrinya untuk menitipkan anak mereka di rumah ini.
"Bukan 2 minggu, tapi kurang lebih 3 mingguan." Mas Indra mengecek kalender dan membuat hatiku semakin tidak karuan.
Bagaimana bisa aku harus tinggal bersama Monster Kecil itu di rumah ini sedangkan semestinya kami sedang menikmati bulan madu berdua saja?
"Bagaimana dengan bulan madu kita, hun? Lagipula, menurutku ini sangat mendadak!" aku mencoba mencari celah agar hal ini tidak benar-benar terjadi.
"Aku pun tidak menginginkan hal ini, tapi tidak ada pilihan lain, Anisa." Jawaban Mas Indra membuat mulut ini tak dapat lagi berucap dan hanya bisa berpura-pura setuju sambil mengatakan satu kata;
"Okay."
Tentu saja kata "Okay" disini bukan berarti aku dapat menerima kehadiran si monster itu dalam kehidupan baruku. Apalagi aku sedang berbunga-bunga dan menikmati peran baru sebagai seorang istri yang akan melayani suami dengan sepenuh hati, tinggal berdua, dunia hanya milik kami berdua saja. Dengan kehadiran Lea, bisa-bisa aku malah jadi stress dan repot harus mengurusnya segala.
"Kenapa sih tiba-tiba langsung kaya gini?" gerutuku dalam hati.
Kenapa Ibunya Mbak Dewi harus pulang ke kota asalnya selama itu? Dan kenapa Mbak Dewi ternyata bekerja yang membuatnya tidak bisa mengantar Lea ke sekolah pada hari biasa?
Arrgghhh ... apa ini akal-akalan saja atau bagaimana?
Terkadang aku berpikir, kenapa di antara banyak teman-temanku dan begitu banyaknya pria-pria di luar sana, pada akhirnya aku menikah dengan seorang duda beranak satu dengan mantan istrinya yang ribet luar biasa itu?
🎶🎶Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja🎶🎶
Lirik lagu itu ternyata sangat cocok dengan apa yang aku alami saat ini. Aku sebagai Ibu tiri yang hanya mencintai sang ayah saja.
Di satu sisi aku benci dengan kenyataan ini, kenyataan bahwa suamiku pernah menikah dan mempunyai seorang putri. Disisi lain, inikah garis takdir dan jodohku yang harus kujalani?
Meskipun Mas Indra dan mantan istrinya telah lama berpisah sebelum kami saling mengenal, aku masih sering merasa tidak percaya diri dan khawatir orang akan menganggapku sebagai perebut laki orang. Terlebih dengan kenyataan suamiku mempunyai anak dari pernikahan pertamanya, membuatku semakin tidak tenang.
Dari pengakuan Mas Indra, dia menikahi Mbak Dewi tanpa cinta alias karna MBA. Oleh sebab itu, setelah bayi itu lahir, mereka akhirnya berpisah. Dalam kurun waktu perpisahan mereka, Mas Indra yang cukup playboy sering gonta ganti pasangan hingga pada suatu hari kami berdua bertemu tanpa sengaja. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik padanya, bahkan aku cenderung sedang benci pada makhluk yang berwujud pria. Sebab, aku baru saja putus dengan pacarku yang berselingkuh 5 kali dengan 5 wanita berbeda.
Mas Indra tidak menyerah untuk mendapatkan hatiku, entah apa yang dia lihat pada diri si judes, galak dan pecicilan ini?
Ketulusannya membuatku luluh dan menerima cintanya. Dia juga perlahan bercerita tentang putrinya yang otomatis membuatku sangat dilema. Tapi cintaku pada Mas Indra juga sudah mulai tumbuh subur bagai jamur di musim penghujan akhir tahun.
Arrggghhh ... aku begitu membenci anak itu.
Bahkan sejak saat pertemuan pertama kami.
Saat itu, aku mencoba menjadi seseorang yang 'friendly' karna bagaimanapun, dia adalah anak dari pasanganku. Aku mengajaknya bermain dan bercanda layaknya permainan yang biasa dimainkan oleh anak seusianya. Namun apa yang aku dapat?
Saat aku menggulung badanku ke selimut dan berguling-guling untuk mengejarnya dalam permainan, dia menginjak dan menendang perutku dengan sangat kuatnya!
Saat itu aku menjerit dan sampai menangis karna kesakitan!
Tapi si monster kecil itu malah menertawakan dan mengejek penderitaanku.
Mas Indra melihat kejadian itu dan mengira tangisanku adalah bagian dari permainan.
Tapi dalam hatiku telah tertanam rasa benci yang hingga saat ini masih ku simpan. Bagaimana aku bisa mengasihi dan menyayanginya jika kesan pertama yang kudapati adalah rasa sakit?
Tidak perlu bilang, "Ah biasa, namanya juga anak-anak."
Iya, anak-anak yang tidak punya tata krama.
Aku sudah bisa melihat ada yang tidak beres. Bocah 5 tahun itu sangat nakal dan seperti tidak punya etika.
Apa tidak pernah diajari sopan santun di rumahnya, ha?
Dan sekarang, dia akan tinggal bersama kami selama 21 hari?
Jadwal setiap hari Minggu mengajaknya jalan-jalan saja aku harus pura-pura baik sepanjang hari meskipun dalam hati sungguh muak sekali menghadapi kenakalan monster cengeng yang tidak tahu sopan santun ini.
Apa karena dia adalah korban perceraian kedua orangtuanya? Sejenak aku merasa bersalah, haruskah aku mundur saja?
Namun bukankah perpisahan mereka tidak ada hubungannya denganku karena aku baru datang di kehidupan Mas Indra baru-baru ini saja dan mereka telah berpisah sekian lama?
Mbak Dewi juga pernah bilang padaku bahwa bukan salahku atas perpisahan mereka. Tapi Ibunya Mbak Dewi tampak sangat membenciku. Aku bisa melihat dari raut muka dan sikapnya saat bertemu denganku untuk menjemput maupun mengantar Lea pulang setelah jadwal akhir pekan kami.
Apa salahku? Kenapa Ibunya Mbak Dewi tidak suka padaku? apa karena dari sekian banyak wanita, akhirnya mas Indra menikahiku? atau mungkin Ibunya Mbak Dewi masih berharap Mas Indra akan kembali pada Mbak Dewi seperti 5 tahunan lalu?
Untuk masalah nafkah dan waktu bersama sang Ayah, aku tahu betul Mas Indra adalah orang yang sangat bertanggung jawab.
Saat Mas Indra dan Mbak Dewi berpisah, mereka telah membuat sebuah kesepakatan bahwa setiap bulannya Mas Indra wajib memberi uang dengan nominal sekian untuk kebutuhan Lea, berikut tagihan listrik, air dan ***** bengeknya.
Meskipun aku sering heran juga bagaimana Mbak Dewi mengelola uang segitu tiap bulannya, dari baju-baju yang Lea pakai dan saat kami menjemputnya untuk jalan-jalan di akhir pekan, anak itu tidak nampak di urus dengan benar. Sering aku dapati rambutnya yang acak-acakan, ingus dan upil kemana-mana, entah sudah makan apa saja sedari pagi?
Ahh, tapi apa peduliku? Dia kan punya Ibunya yang seharusnya merawat dengan baik dan benar, memberikan makanan yang sehat dan bergizi, pakaian yang bersih serta rapi, dan yang lebih utama, mengajarinya menjadi anak yang sopan dan menghormati orang lain.
__ADS_1
Aku memang belum menjadi seorang ibu, aku tidak tahu bagaimana beratnya menjadi seorang ibu apalagi berpisah dengan suaminya ... aku tak bisa membayangkan hal itu.
Tapi ada hal yang cukup mengganjal dan membuatku curiga serta membangunkan jiwa kepoku. Seringkali aku melihat di lini masa media sosial Mbak Dewi, dia pergi berlibur ke luar kota bahkan luar negeri selama berhari-hari, dan bergaya bak sosialita dengan meninggalkan anaknya bersama Ibunya yang sudah cukup tua, yang menurutku, seharusnya Mbak Dewi lah yang merawat dan mendidik Lea meskipun tanpa suami disisinya.
Aku menyaksikan sendiri bahwa mantan istri dari mantan pacarku yang meskipun dia adalah 'single mom', tapi tetap bisa menyeimbangkan kehidupannya dan anaknya juga ber 'attidute' baik dengan penampilan yang menunjukkan dia dicintai, tidak seperti korban perceraian orang tuanya atau 'broken home'.
Jadi apakah uang yang seharusnya untuk Lea, malah di gunakan untuk keperluan pribadinya Mbak Dewi? Aku tahu betul sebelumnya mbak Dewi tidak bekerja, jadi uang dari mana lagi selain uang bulanan yang dikirim oleh Mas Indra?
Hah .... Sudahlah aku tidak mau mengurusinya.
______________
Sore itu Lea diantarkan oleh Mbak Dewi ke rumah ini dengan membawa koper kecil untuk menaruh baju-baju dan mainannya.
Ohya, ternyata bukan 21 hari tanpa henti Lea akan disini, melainkan dari Senin hingga Jum'at saja karena hari Jum'at malam Mbak Dewi akan menjemput Lea lagi dan menghabiskan akhir pekan (Sabtu-Minggu) bersama.
Yayy ... setidaknya akan ada hari dimana aku bisa berduaan saja dengan Mas Indra.
Mbak Dewi hanya mengantarkan Lea di depan rumah dan tidak masuk ke dalam meski sudah aku persilahkan (*tentunya aku hanya basa-basi saja).
Aku mengantarkan Lea masuk ke kamarnya, kamar yang memang kami siapkan untuk Lea dan Maya (*keponakanku yang kebetulan seusia dengan Lea, hanya beda beberapa bulan saja duluan Maya lahirnya) jika mereka menginap di rumah ini.
Aku sering heran saja entah kenapa bocah ini selalu terlihat betah berada di rumah Ayah dan Ibu tirinya. Padahal aku kan tidak sayang padanya bahkan aku benci harus hidup satu atap dengannya beberapa hari ke depan.
Kulihat Lea sedang bermain di ruang tamu bersama Mas Indra sementara aku membereskan barang bawaannya.
Ku buka koper kecil itu, berisi mainan, Barbie dan sebagainya yang di beli saat kami pergi di akhir pekan.
Ada sepatu dan seragam sekolah juga lengkap dengan kaus kaki dan tas sekolahnya.
Mbak Dewi hanya membawakan 5 potong baju dan celana serta pakaian dalam yang cukup untuk dipakai selama 5 hari.
______________
Mulai detik ini hidupku telah berubah, besok pagi aku harus mengantar si monster ke sekolah. Sepagi itu seharusnya aku masih bersantai dengan baju tidurku yang nyaman karena aku memang tidak di ijinkan bekerja oleh Mas Indra. Dia bilang aku di rumah saja 100% mengurus rumah tangga kami tanpa harus memikirkan ekonomi karena Mas Indra juga yang bertanggung jawab atas segala kebutuhan dan keperluan keluarga baru kami.
Resepsi dan pernikahan kami memang baru di resmikan satu bulan yang lalu, tapi kami sudah bersama hampir satu tahun dan telah menikah secara agama terlebih dahulu.
Kami menunda peresmian pernikahan karena saat itu aku sedang fokus dengan kuliah dan skripsi.
Selain itu, bisnis Mas Indra juga sedang turun drastis bahkan bisa dikatakan Mas Indra sedang bangkrut. Kami benar-benar sedang tidak punya uang waktu itu.
Bahkan aku harus menghabiskan tabunganku untuk mengontrak rumah dan kebutuhan sehari-hari. Bisa dibilang, itu saat terpuruk dan titik 0 (nol) kami.
______________
_____________
• Hari ke 1
Pagi itu di sekolah Lea, para guru melihatku dengan tatapan berbeda.
"Jangan-jangan mereka berfikir, aku sang pelakor yang sedang tanpa malu menampakkan wujudnya," gumamku sambil menyerahkan Lea pada gurunya.
Anak itu sangat menyebalkan!
Bahkan dia tidak melihat ke arahku saat aku bilang, "Sampai jumpa, Lea ...!"
Sederet pikiran negatif mampir di benakku, aku memasang wajah tidak nyaman dengan me-manyun kan bibirku saat aku masuk ke mobil Mas Indra.
"Kenapa, Hun?" tanya mas Indra penasaran.
"Nggak papa." Jawabku singkat.
"Yaudah kalau gitu, kita langsung pulang yaa ...."
"Yaa."
Tapi banyak orang tahu kata 'nggak papa' berarti sebaliknya serta menyimpan banyak makna.
Karena waktu juga terus berjalan dan nampaknya Mas Indra tidak ingin memperpanjang, dia bilang akan mengantarku pulang dan langsung berangkat ke kantor.
_________________
Sampai di rumah, aku cukup bingung mau masak apa untuk Lea nanti?
Aku tidak ingin terlihat sebagai Ibu tiri yang tidak bisa apa-apa di mata Mbak Dewi, aku harus bisa mengurus Lea dan memasak makanan untuknya.
Tapi aku sama sekali belum mengenal anak itu.
__ADS_1
'Apa makanan kesukaannya?'
'Apa yang biasa Mbak Dewi masak tiap harinya?'
'Jam berapa dia makan siang?' dan sebagainya.
Ingin sekali aku bertanya pada Mbak Dewi masakan apa yang biasa dia hidangkan untuk putrinya?
Tapi hal itu aku urungkan.
"Emangnya aku ibu tiri apaan yang nggak bisa masak buat anak tirinya, aku bisa memberinya racun ... hehehe."
Sejenak pikiran liar ku menyeruak sambil mencari-cari menu untuk anak TK di YouTube meski tak kunjung ku temukan.
Ku putuskan untuk tidak masak.
Mas Indra juga memberitahuku siang ini dia ada meeting, jadi tidak pulang ke rumah untuk makan siang.
Kantornya memang tidak terlalu jauh dari lokasi rumah kami saat ini, jadi Mas Indra memang selalu pulang untuk sekedar makan siang. Dia sangat menyukai masakanku, apapun itu.
_____________
Lea pulang sekolah jam 12, aku harus sudah berada di sekolah sebelum kelas bubar agar dia tidak menunggu.
Ahh ... benar-benar merepotkan saja. Seharusnya aku sedang santai di rumah setelah semua pekerjaan selesai. Sekarang harus jemput ke sekolah, ngasih makan, dan menemani bermain sampai malam tiba.
Begitu terus ... sungguh menyebalkan. Hari jadi terasa lama sekali.
"Kapan hari Jum'at datang sih?" teriakku dalam hati.
Aku menyetir mobil pemberian Mas Indra, perlahan bisnisnya bangkit dan naik lagi. Kami juga telah pindah ke rumah yang lebih baik dari kontrakan kami beberapa waktu lalu saat masa sulit sedang kami jalani.
Sesampainya di sekolah, kelas Lea belum bubar, jadi aku menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian, anak-anak keluar dari kelas masing-masing, Lea terlihat sangat happy saat melihatku menjemputnya.
Dia berlari begitu ceria dan langsung memelukku, aku pun kikuk karena tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Aku merasa geli dan ... entahlah ... aku tidak tahu rasa apa itu?
Kami berdua masuk mobil, aku bertanya apa yang ingin ia makan.
Dengan polos, Lea menjawab;
"Nasi sama telor ceplok."
Whattttt? ku kira bocah ini akan meminta ayam goreng, burger, pizza atau yang lainnya. Tapi nasi dan telor ceplok?
Jika aku tahu ini sejak pagi, aku tidak perlu mencari menu sepanjang hari!
"Oke kita pulang dulu, nanti aku masakin telor ceplok." Balasku sambil menjalankan mobil menuju rumah.
Sepertinya monster kecil ini kelelahan di sekolah, dia terlelap di kursi penumpang sebelahku. Saat sampai di depan rumah, aku membangunkannya, di sambut dengan kemarahan dan ngambek tak karuan. Aku makin benci pada anak ini, sifat ngambek dan marahnya ini selalu membuatku tidak tahan!
Masuk rumah, aku menyuruhnya untuk ganti baju sementara aku akan menyiapkan makanan, bocah sekecil itu ngambeknya luar biasa, dia membanting pintu dan melotot padaku!
"Benar-benar akan kuberi racun di telor ceplokmu!" suara jahat itu terdengar jelas sekali di telingaku saat aku mulai menyalakan api kompor dan mengambil dua butir telur dari kulkas.
Aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan Lea di dalam kamar, aku sedang mempersiakan makanannya dan makananku juga.
Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamarnya dan telah berganti pakaian rumah.
Ku ajak dia makan nasi dan telor ceplok permintaannya.
Tentu saja tanpa racun, aku akan sangat mudah tertangkap jadi tersangka kalau anak ini keracunan di rumahku setelah makan telor ceplok buatanku.
Sepanjang sore kami habiskan waktu untuk bermain sampai saat suamiku pulang dari kantor.
_____________
Ku adukan apa yang terjadi hari ini pada Mas Indra, dia memintaku untuk lebih bersabar pada Lea. Mas Indra juga mengakui ini kesalahannya yang terlalu memanjakan Lea sehingga sikapnya seperti itu. Aku mengalah saja, aku males debat. Aku hanya ingin Jum'at sore segera datang biar monster kecil itu cepat pergi dari rumah ini.
_______________
Jum'at malam sekitar jam 19, Mbak Dewi mengabari kalau dia hampir sampai, dia akan langsung pulang, jadi dia minta aku menunggu di teras rumah bersama Lea.
Saat Mbak Dewi datang, aku berbasa-basi minta di bawakan lebih banyak baju rumahan untuk ganti sehari-hari dan aku juga menyerahkan PR dari sekolah yang harus di kerjakan dan di serahkan kembali ke sekolah pada hari Senin.
"Baju rumahan nggak ada, Sa, adanya baju itu-itu aja ... udah pada kekecilan, nanti deh aku cari," jawab Mbak Dewi.
Aku mengucapkan 'sampai jumpa' pada Lea dan melihat mereka berdua meninggalkan area tempat tinggalku.
__________________
__ADS_1
Yaayyyy!!! aku lega sekali ... akhirnya monster kecil itu pergi juga dari hadapanku setelah lima hari bersamanya. Aku bisa tidur dengan tenang dan menghabiskan waktu berdua saja dengan Mas Indra.
Meskipun hari Senin dia akan kesini lagi dan berulang sampai neneknya kembali ke kota ini dan mengurus Lea lagi.