
"Momi ...."
Mataku masih terpejam namun aku merasa seperti mendengar suara Lea, apakah aku bermimpi?
"Momi, hiks ... hiks ...."
Suara itu kembali terdengar semakin kencang, dan semakin dekat.
"Momi ... Momi ...."
Tidak hanya semakin dekat, aku juga merasakan ada sesuatu yang menyentuh tanganku. Itu bukan tangan Mas Indra, itu tangan yang lebih kecil.
Aku membuka mata setengah terlelap, benar saja, kulihat monster kecil itu tengah mengusap matanya yang sembab karena menangis. Entah sudah berapa lama dia mencoba memanggilku tapi aku tidak bisa bangun. Aku memang tipe 'kebo' yang susah bangun, apalagi, jam berapa ini?
"Lea?!" aku terbangun seketika karena melihat anak tiriku berdiri di samping ranjang tepat di sebelah posisi tidur ku.
"Momi, aku perutnya sakit, aku kepala aku pusing, Momi, hiks ... hiks ...."
Anak itu menangis menahan sakit, entah apa yang terjadi padanya dan sejak kapan dia di kamar ini? Kami memang tidak mengunci pintu kamar agar kapanpun jika Lea terbangun, dia bisa masuk ke kamar kami.
"Mas, bangun, Mas!!" teriakku panik melihat bocah kecil ini mengeluh sakit.
"Kenapa, Hun?" jawab Mas Indra yang juga sama sekali tidak mendengar Lea masuk ke kamar ini, dia pasti kecapean dan baru saja tertidur setelah teman-temannya pulang.
Kulihat jam menunjukkan angka 02:08.
"*Papa, aku perut aku sakit, hiks ...."
"Kenapa, Nak*?!" tanya Mas Indra panik.
Aku segera membopong Lea naik ke ranjang kami, ku tidurkan dia di tengah-tengah kami sambil ku olesi perutnya dengan minyak kayu putih. Ku sentuh dahinya, tidak panas, tapi anak ini mengeluh sakit kepala dan dia bilang perutnya sangat sakit. Apa yang terjadi?
"Momi, Momi, aku mau uek ...."
Aku panik dan bingung harus berbuat apa, ku bopong anak itu menuju kamar mandi dan memintanya untuk memuntahkan sesuatu dari mulutnya ke toilet yang sudah terbuka.
"Uek, uek ...."
Lea memuntahkan makanan yang telah ia makan sore tadi. Wajahnya terlihat pucat. Aku meminta Mas Indra menemani Lea sementara aku berlari ke dapur dengan perasaan yang tidak karuan, aku mengambil air hangat dari dispenser dan langsung berlari lagi ke kamar mandi agar Lea dapat minum air hangat tadi.
"Lea kenapa, Hun?" tanya Mas Indra.
"Mana aku tahu, Mas?" jawabku yang juga tidak tahu ada apa.
"*Momi, aku perut aku sakit, aku kepalaku aku sakit, Momi ...."
"Iya, Sayang, yaa, kita ke ranjang lagi, okay*?"
Kali ini Mas Indra yang menggendong Lea ke ranjang kami. Anak itu memintaku untuk mengolesi minyak kayu putih lagi pada perutnya sambil tangannya ingin meraih tanganku untuk di peluknya.
"Lea kamu kenapa, Nak? sakit apanya? yang mana sakit?" aku tidak bisa menahan rentetan pertanyaan yang tidak dapat dijawab juga oleh anak itu, sambil terus ku pijit tangan dan kakinya sementara Mas Indra ada di samping kami dan mengelus rambut juga kepala Lea.
Perlahan anak itu mulai tidur.
Aku dan Mas Indra sudah agak tenang meski kami saling diam. Tiba-tiba Lea terbangun lagi dan kembali mengeluh sakit.
"Momi, aku mau uek lagi ...."
"Iya, iya, uek disini nggak apa-apa, Nak!!" tidak terasa airmata ku jatuh bercucuran, aku menangis tidak karuan, Mas Indra juga terlihat bingung menyaksikan anaknya yang sakit dan aku yang malah terus menangis.
Lea bangun sendiri, turun dari ranjang lalu berlari ke kamar mandi diikuti kami berdua dan disana dia muntah lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah aku bermimpi? Tidak, ini nyata, aku sedang terjaga dan aku menangis sesenggukan menyaksikan monster kecil itu mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
"Nggak apa-apa, Nak, muntahin aja, huhuhuhu." Tangisku semakin kencang.
"Uek, uek ...."
Kali ini hanya air yang keluar dari mulut bocah itu, ku rasa perutnya sudah kosong sekarang karena makanan yang tadi sore aku berikan, semuanya mungkin telah keluar.
"Momi, aku bajunya kotor, tadi aku kena itu, aku mau ganti, Momi ...."
"Iya, Sayang, yaa, Papa lagi ambil bajunya, yaa, Lea nanti ganti baju, yaa ...."
"Momi jangan nangis, nanti kata Papa, Momi jadi jelek, hihihi."
Disaat seperti ini saja anak itu malah bercanda, bagaimana tangisku tidak semakin kencang saja?
"Hwaaa ... Momi nggak nangis, huhuhu."
"Udah, Hun, jangan nangis, malah jadi kamu yang cengeng gini ..." protes Mas Indra melihatku yang terus saja menangis.
Mas Indra memberikan baju ganti untuk Lea dan memintaku untuk tidak menangis lagi.
Setelah berganti baju dan minum sedikit air hangat, Lea kembali ke ranjang, dia bilang ingin tidur. Aku memeluk tubuh bocah itu, Mas Indra juga memeluknya dari sisi kanan. Beberapa menit kemudian, anak itu sudah terlelap.
Aku melepaskan pelukan Lea, Mas Indra juga bangun lagi, dia memberiku isyarat untuk mendekat, aku memeluknya dan menangis lagi.
__ADS_1
"Kok malah nangis lagi, nanti Lea bangun," protest mas Indra memintaku untuk tidak menangis lagi.
*Kami berdua akhirnya keluar dari kamar dan duduk di sofa depan. Aku masih memeluk Mas Indra dari samping sambil sesekali terisak.
"Mas, maafin aku, tadi sore aku ngasih makan Lea telat, Lea bilang dia nggak makan sejak pagi saat aku menjemputnya, lalu di mall dia nggak mau makan apa-apa meski udah kutawari berbagai makanan, kata Lea dia mau makan di rumah sama telur, jadi aku suapin dia makan jam 5 lebih, Mas, aku minta maaf, huhuhuhu."
"Iya, iya udah jangan nangis lagi, nanti malah Lea bangun."
"Tapi aku minta maaf, Mas, aku yang salah udah ngasih Lea makan sampai sore, Mbak Dewi pasti marah sama aku, Mas, huhuhuhu."
"Udah, Hun, aku bilang berhenti nangisnya! Jangan nangis terus kayak gini, kamu nggak salah, Sayang, Dewi itu yang seharusnya nggak membiarkan Lea kelaparan sampai sore. Ngapain aja sih dia?"
"Mas, udah jangan telpon Mbak Dewi, huhuhu. Nanti yang ada kamu marah-marah dan Mbak Dewi benci sama aku kalau kamu marah ke dia Mas, huhuhu."
"Tapi ini bukan salah kamu, Hun, kamu jangan menyalahkan diri sendiri begini, udah yaa, jangan nangis lagi, Sayang, lihat aku, tuh kan jadi jelek kalau pas mewek gini, udah ahh jangan nangis lagi."
"Biarin jelek, huhuhu."
"Nggak kok, istriku paling cantik sedunia, udah yaa, berhenti nangisnya, kalau kamu nangis terus, nanti habis airmata kamu."
"Kalau airmataku habis nanti bisa 'top-up' (isi ulang) lagi, huhuhu."
"Aku tadi pergi tidur jam satu lebih, Hun, pas anak-anak pulang, aku ngantuk banget sekarang. Kita tidur dulu ya?"
"Mas, bawa Lea ke dokter, Mas ...."
"Iya, tapi sekarang kita tidur dulu, okay*?"
Aku mengangguk tanda setuju. Mas Indra menuntunku masuk ke kamar, kulihat Lea sudah berpindah posisi tidur ke sisi pinggir Kiri di tempat biasa aku tidur. Karena tidak mau membangunkannya dengan posisi tidurnya yang begitu, akhirnya aku yang berada diposisi tengah menghadap arah Lea dan membelakangi Mas Indra. Mas Indra sendiri memelukku dari belakang dan kami terlelap.
___________________
"*Momi, Momi bangun ...."
"Iyya, zzz."
"Momi aku mau makan roti cokelat*."
Meskipun setengah terpejam, kucoba untuk membuka mata. Kepalaku sakit sekali. Aku memang tidak sering menangis, dan jika aku sampai menangis, maka kepalaku akan terasa berat dan sangat sakit.
"*Papa mana, Lea?"
"Papa lagi olahraga, Momi."
Bocah itu menjawab 'iya' dan tersenyum. Tidak ku lihat wajah pucat semalam, apa anak ini sudah sembuh? kenapa dia sampai mengeluh sakit perut dan juga kepalanya bahkan sampai dua kali muntah?
"Jangan-jangan anak ini keracunan telor ceplok yang kubuat? Tapi sungguh, aku tidak memberinya racun! Tidak mungin kan?"
Otakku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang membuat kepalaku semakin berat dan sakit.
"*Momi mau cuci muka dulu nanti dibuatin rtinya yaa, Lea boleh nonton tv sebentar yah."
"Momi, aku boleh lama-lama nontonnya? hihihi."
"No (Tidak) ...."
"Emm, okay*."
Aku mencuci muka dan menggosok gigi, kulihat di cermin, mataku memang agak sembab. Ini gara-gara menangis semalam.
Benar juga, jika aku menangis, aku jadi terlihat jelek. Makanya aku jarang menangis agar aku tetap selalu terlihat cantik. Kulihat baru jam 6 lebih. Aku membuatkan sarapan kesukaan Lea dan memberikan roti itu padanya.
"*Bilang apa?"
"Thankyou, momi!"
"Nggak boleh lupa yaa, setiap kali orang ngasih Lea sesuatu, harus bilang?"
"Thankyou (Terima kasih)."
"Kalau Lea berbuat salah, bilang apa?"
"Sorry (Maaf)."
"Terus, kalau mau minta tolong ke orang lain untuk bantuin Lea, harus bilang apa?"
"Please (Tolong)."
"Wah, Lea pinter deh, sini peluk dulu."
"Aku pinter kan, Momi? aku nggak nakal kan, Momi?"
"Iya, Lea anak cantik, anak pinter. Masih sakit nggak perutnya?"
"Enggak, Momi."
__ADS_1
"Semalem Momi takut loh lihat Lea uek-uek gitu. Kenapa kayak gitu sih?"
"Soalnya aku perut aku sakit, Momi ...."
"Kita nanti ke dokter yah?"
"Aku udah sembuh, Momi, aku nggak sakit."
"Beneran?"
"Iya, Momi*."
Kulihat dari raut wajahnya, monster kecil itu memang sudah terlihat sehat dan tidak apa-apa. Apakah bukan pertama kali ini saja dia sakit perut dan muntah pada tengah malam begitu?
"*Momi, aku mau sekolah. Aku suka sekolah, Momi, aku ada banyak temen aku di sekolah ...."
"Beneran udah nggak sakit perutnya?"
"Iya, Momi*."
Mas Indra baru pulang berolahraga, istirahat sebentar dan langsung mandi. Sarapannya sudah ku siapkan diatas meja.
Aku memandikan Lea dan memakaikan baju seragam serta menguncir rambutnya.
Seperti biasa, monster kecil itu memintaku untuk mengepang rambutnya seperti Anna, tokoh 'princess' favoritnya di film 'Frozen'.
Sebenarnya aku ingin Lea di rumah saja dan beristirahat karena semalam dia terlihat sangat pucat. Tapi aku juga tidak bisa melarang nya untuk bersekolah karena disana Lea akan bertemu dan bermain bersama teman-temannya.
Setelah memakai kaus kaki dan sepatu serta menggendong tas kecilnya yang berisi baju ganti, botol air minum, susu kotak kecil dan beberapa camilan, Lea mengajak kami untuk berangkat ke sekolah.
Hari ini adalah hari Senin ke-4 kami mengantar monster kecil itu menuntut ilmu.
Ada sedikit rasa khawatir dalam diriku, bagaimana jika di sekolah nanti Lea sakit lagi?
Tapi wajah ceria anak itu membuatku sedikit tenang membiarkannya bersekolah hari ini.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, sekarang aku sudah tidak perlu lagi melotot pada bocah itu untuk memintanya salim, memeluk dan mencium Papanya sebelum turun dari mobil. Memang bocah itu hanya melingkarkan tangannya pada leher Mas Indra sebagai pelukan karena posisi Mas Indra yang ada di kursi kemudi.
Aku mengantarkan Lea pada gurunya yang memang sudah menunggu di depan. Anak itu juga sudah hafal untuk salim, memeluk dan menciumku terlebih dulu sebelum masuk kelas.
Aku juga telah memberitahu Miss Rahel, wali kelas Lea, bahwa semalam Lea mengeluh sakit perut dan sakit kepala serta muntah.
Aku meminta bantuan Miss Rahel untuk memperhatikan anak tiriku itu. Jika Lea terlihat tidak sehat atau mengeluh sakit lagi, aku minta pihak sekolah untuk menghubungiku atau Mas Indra agar kami dapat segera menjemputnya.
________________
Miss Rahel adalah guru yang baik, selama Lea tinggal bersamaku dan aku yang antar-jemput bocah ini, Miss Rahel seringkali mengajakku bicara tentang tingkah polah Lea di kelas. Aku juga sering menanyakan kenakalan Lea di kelas. Miss Rahel menjawab jujur dengan mengatakan Lea adalah anak yang baik meski seperti anak lainnya yang aktif dan bertingkah sesuai usianya, namun jika dia merasa terpojok atau tidak bisa mengerjakan sesuatu, maka Lea akan menangis.
Miss Rahel juga memberi banyak saran padaku, misalnya agar aku lebih meluangkan waktu untuk sekedar bicara atau menemani monster itu bermain. Miss Rahel berasumsi bahwa Lea kesepian dan tidak punya teman di rumah. Bahkan guru TK anak tiriku itu memintaku untuk lebih banyak mengajak Lea mengobrol.
Aku salut dengan sikap Miss Rahel karena aku juga jadi tahu bagaimana harus menghadapi monster kecil itu di rumah. Aku memang sempat mengadu padanya tentang Lea yang tidak mau mengerjakan PR. Miss Rahel memintaku untuk tegas dan sedikit galak agar Lea mau menurut. Sebab, di sekolah peraturan nya cukup ketat, jadi jika di sekolah dan di rumah anak di disiplinkan secara sejalan, maka anak juga akan mudah beradaptasi.
Karena memang, pendidikan dini itu sebenarnya dimulai dari rumah, bukan saat anak kecil itu mulai sekolah.
Mungkin ada yang heran bahkan Mas Indra dan aku sendiri pun merasa Lea benar-benar telah berubah total sejak dia tinggal bersamaku dan Papanya dibandingkan sebelumnya. Dari seorang monster kecil tengil yang tidak sopan, nakal, kurang ajar, 'sembrono', cengeng dan juga ngambekan itu, menjadi Lea yang sekarang. Lebih ceria, menghormati yang lebih tua, bahkan kini dia sangat patuh padaku. Akupun tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.
Kurasa, mungkin jawabannya adalah karena akhirnya Lea menemukan sosok 'teman' dalam diriku?
Meski aku adalah seorang Ibu tiri yang galak, jahat dan juga kejam, namun Lea juga bisa bermain bersamaku, makan bersama, ku mandikan dia, aku menidurkan nya setiap malam dan beberapa waktu yang kami habiskan berdua.
Selama ini Lea juga tidak mengenal kata "Tidak" dari orang terdekatnya terutama Mas Indra. Suamiku memang memiliki andil yang besar atas kemanjaan dan kecengengan Lea selama ini. Dulu, setiap akhir pekan dan jadwal kami jalan-jalan bersama Lea, Mas Indra selalu bilang "Iya" untuk setiap mainan yang Lea pinta meskipun seringkali aku melarangnya.
Saat itu, Lea akan menangis dan ngambek tidak jelas jika mainan yang dia inginkan tidak di belikan. Akhirnya Mas Indra selalu mengalah dan membelikan apa yang Lea mau. Apapun itu. Akhir pekan kami selalu menjadi hari yang menyebalkan dan penuh emosi. Aku jadi sering bete' dan 'mood'ku juga jadi rusak karenanya. Tidak seperti akhir-akhir ini yang kami jalani dengan penuh cinta.
Andai saja aku bisa merubah Lea sejak awal, pasti aku juga tidak akan sering merasa 'badmood' (suasana hati tidak enak) waktu itu. Tapi aku juga bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk merubah Lea menjadi lebih baik lagi setidaknya, sekarang dan mungkin untuk kedepannya.
_______________
"*Thankyou, ya, Miss Rahel, maaf jadi merepotkan."
"Sama-sama, Mom, nanti jika ada apa-apa, kami akan menghubungi Mom Sasa."
"Iya, terima kasih sekali lagi, bye, Miss."
"Iya Mom, mari*."
Aku berjalan menghampiri mobil Mas Indra yang parkir agak jauh dari sekolah karena di jam segitu, sekolah sangat ramai oleh para orang tua yang mengantar anak-anak mereka.
"Lama banget, Hun?" tanya Mas Indra saat aku telah duduk di sampingnya.
"Iya tadi nitip Lea ke gurunya, Mas. Kalau Lea kenapa-kenapa atau sakit lagi, biar sekolah ngehubungin kita. Mas, aku mau bubur kacang ijo yang di abang-abang itu donk?" aku menunjuk seorang pedagang bubur kacang ijo yang menggunakan gerobak khas dan sedang berhenti di pinggir jalan melayani para pembeli.
"*Bungkus aja ya, Sayang? aku mesti cepet-cepet ke kantor nih, tadi Jack sama Ferry udah nelfon aku mulu."
"Iya, Mas, Okay*."
__ADS_1