
Setelah keluar dari ruang pengambilan darah, tidak ku dapati Mas Indra dan Mbak Dewi disana.
Ku lihat Ibu dan Kak Vera sedang menunggu di luar kamar operasi Lea.
Aku menghampiri dan langsung memeluk Ibu serta Kakakku, mereka memintaku untuk terus berdo'a bagi kesembuhan Lea.
Tadi Kak Rey yang mengantar mereka, tapi harus segera pergi lagi karena ada urusan lain, sementara Maya, di rumah Ibu bersama adik ku, Dafa.
Tiba-tiba Ibunya Mbak Dewi datang entah dari mana dan langsung memarahiku.
"Kamu ya, kamu kan udah saya ingatkan untuk tidak macam-macam. Biarkan Lea tinggal bersama Mamanya saja. Kamu ini sok-sok an mau mengasuh anak padahal punya anak saja tidak. Lihat ini semua ulah kamu ya, cucu saya celaka itu semua gara-garanya dari kamu yaa!!" cerocos wanita itu tanpa menghirakan sekitar yang memandanginya.
"Hehh ... Ibu ini siapa ya? berani-berani nya marahain anak saya, ha?? kalau tidak tahu apa-apa mending Ibu diam saja ya, jaga itu mulut Ibu jangan bisanya menuduh anak orang sembarangan saja. Nggak bisa ini kayak gini, nggak ada saya terima anak saya Anda marahi ya!! Saya walaupun galak begini, tidak pernah saya marahi anak saya seperti ini. Ibu lawan saya aja sini kalau Ibu berani!!"
Ibuku tanpa tedeng aling-aling langsung balik memarahi Ibunya Mbak Dewi. Aku dan Kak Vera melerai Ibu supaya jangan membuat gaduh karena ini bukan tempat yang tepat untuk adu mulut.
"Ibu, udah Bu, jangan ribut disini Bu, ini rumah sakit, malu, Bu ..." ucapku yang mencoba menghentikan apa yang sedang Ibu lakukan.
"Nggak bisa, Sa, nggak bisa ini, enak saja datang tiba-tiba langsung marah-marah nggak jelas. Kalau berani, sini lawan Ibu! kenapa malah langsung nyerang kamu begitu? nggak bisa ini Ibu biarin begini yaa! ayo duel aja!!" jawab Ibu tidak mendengar kata-kataku.
Ibunya Mbak Dewi hanya bisa diam 'kicep' dan menghindari Ibuku, dia akhirnya duduk di kursi yang paling ujung sementara aku dan Kak Vera mencoba menenangkan Ibu.
Sebenarnya Kak Vera juga mendukung Ibu, jika ini bukan Rumah Sakit saja, pasti Ibu sudah bertindak 'bar-bar'.
Neneknya Lea itu mungkin sudah jadi bakwan atau mendoan.
"Mas Indra kemana ya, Bu?" tanyaku mengalihkan perhatian. Ibu masih memperhatikan Nenek Lea itu, mungkin jika nenek lampir yang sedang duduk di ujung kursi itu melirik ke arah sini, Ibuku akan langsung berubah menjadi singa marah.
"Tadi keluar sama Dewi, kayaknya sih lagi bicara di depan, Sa," jawab Kak Vera lembut.
Ibu masih terlihat geram dan siap untuk menerkam mangsanya kapanpun dia bergerak.
Hadehh, aku tidak bisa membiarkan terjadi perang dunia ke lima di Rumah Sakit ini.
Duel antara Ibuku dan Ibunya Mbak Dewi tidak akan berakhir bagus, jadi baiknya aku menahan Ibu supaya tidak marah lagi.
Aku mencoba menawari Ibu minuman, aku ingin mengajak Ibu ke kantin agar emosinya mereda, tapi Ibu malah memarahiku. Katanya jangan menghalanginya jika memang harus ada perkelahian Ibu vs Ibu, Mertua vs Mertua maupun Nenek vs Nenek.
Ahh, Ibuku ada-ada saja.
Di luar, Mas Indra sedang bicara dengan Mbak Dewi sejak tadi. Aku penasaran apa yang mereka bahas. Kenapa lama sekali? aku khawatir Mas Indra tidak bisa mengontrol emosinya jika berhadapan dengan mantan istrinya itu.
Tapi aku tidak ingin mencampuri urusan mereka, jadi aku batal menghampiri Mas Indra di luar.
__ADS_1
"Aku mau kamu jelasin semuanya, sedetail mungkin. Semuanya dari apa yang terjadi malam itu ...."
"Ndra, aku cinta sama kamu, Ndra, aku lakuin semua ini karena kamu!"
"Aku nggak butuh omong kosong kamu, Dewi! yang aku inginkan, penjelasan dari kamu tentang kenapa darahku berbeda dengan Lea, bahkan darah kamu juga nggak cocok sama dia? sandiwara apa lagi ini, Wi?!"
"Aku, aku ... aku cuma mau kamu mencintai aku, Ndra! itu saja! kamu nggak pernah sedikitpun mencintai aku kan? aku cinta banget sama kamu, Ndra, aku mau lakuin apa aja biar kamu jadi milikku, tapi apa? saat kamu sadar dari luka kamu malam itu, aku yang udah ada di samping kamu, aku yang nungguin kamu, tapi kamu malah nyari-nyari orang lain. Kamu nggak pernah anggap aku ada!"
"Shut up! you have no idea.' (Diam! kamu nggak tahu apa-apa). Kamu disana mengaku menolongku tapi kamu sama sekali nggak tahu gimana aku bisa sampai di Rumah Sakit itu. Cukup, Dewi, cukup! kita bukan anak kecil lagi yang harus meributkan hal kecil seperti ini. Aku hanya mau kamu jelasin siapa Lea? sebegitu beratnya kah untuk kamu jawab? Okay, okay, kalau kamu nggak mau jawab, jangan pernah berharap kamu akan ketemu Lea lagi."
"Kamu ngancam aku, Ndra?"
"Enggak, aku nggak pernah menggunakan ancaman untuk memenuhi ambisiku. Sekarang jawab saja yang sebenarnya, siapa Lea?!"
"Iya, Lea bukan anak kamu."
____________________________
Setelah pulang dari Bali itu, Mas Indra mulai bercerita tentang temannya yang bernama Mario. Meski hanya melihat foto-fotoku dari postingan Instagram di akun Mas Indra, Mario bilang dia sudah pernah melihat dan bertemu denganku. Padahal aku tidak tahu siapa Mario itu.
Setelah Mas Indra memperlihatkan foto Mario pun, aku sama sekali tidak mengenalinya.
Selama di Bali, karena Mario juga turut mengerjakan satu projek yang sama dengan Mas Indra, maka mereka bertemu setiap hari. Mario pikir Mas Indra masih bersama Mbak Dewi selama ini. Bahkan awalnya dia tidak percaya Mas Indra bisa selamat dari kejadian di malam itu.
Waktu itu salah satu kesalahan besar Mas Indra adalah dengan tidak melakukan tes DNA setelah Lea lahir meski Mas Indra percaya bahwa dia tidak melakukan apa-apa dengan Mbak Dewi.
Mario juga bertanya apakah aku menceritakan sesuatu tentang kejadian di malam sepi itu. Mas Indra mengaku tidak tidak tahu, karena saat terbangun keesokan harinya, Mbak Dewi lah yang ada di rumah sakit.
Hingga saat ini pun, tidak di ketahui siapa pelaku yang telah menyerang Mas Indra dulu.
Lagipula Mas Indra beranggapan bahwa itu adalah murni perampokan, dia tidak mencurigai siapapun karena memang Mas Indra tidak merasa mempunyai musuh.
_______________
"Lalu siapa Lea sebenarnya? siapa dan dimana Ayah nya? Mario?! Gila kamu, Wi, teganya kamu menjebakku sampai sejauh itu?"
"Bukan! Lea bukan anak Mario ...."
"Lalu siapa? jawab aku, Wi!"
"Aku memang hamil sama Mario, tapi Lea bukan bayi itu. Anakku dan Mario tidak bisa selamat, jadi aku ...."
"Kegilaan apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku, Dewi?!"
__ADS_1
"A-aaku ... aku mengambil salah satu bayi yang baru lahir di Rumah Sakit ini."
"Gila kamu, Wi, manusia macam apa kamu ini? Kamu mengambil bayi orang lain dan memisahkan dia dari ibunya? kamu nggak waras, Wi!!"
"Aku lakuin semua itu karena aku cinta sama kamu, Ndra, aku berharap kamu akan mencintai aku setelah adanya anak itu. Tapi kamu malah pergi ninggalin aku dan kembali kesini bukan untukku! kamu malah menikahi Sasa yang nggak ada apa-apanya sama aku. Apa sih yang kamu lihat dari Sasa? aku kurang apa untuk kamu, Ndra?!"
"Aku melihat sesuatu yang nggak bisa orang lain lihat di diri Sasa. Nggak ada secuil pun dari diri kamu yang bisa aku dapetin dari apa yang udah Sasa kasih buat aku!"
"Kamu jahat, Ndra! kamu nggak pernah ngertiin aku!"
"Aku nggak pernah sedikitpun mencintai kamu, Dewi. Puas dengan jawaban itu? kamu bener-bener tega ya, sampai melakukan hal seperti ini hanya untuk keegoisan kamu sendiri."
Mas Indra meninggalkan Mbak Dewi sendiri dan masuk menghampiriku, Kak Vera dan Ibu.
Wajahnya terlihat dipenuhi amarah, tapi aku tidak sampai hati untuk bertanya, aku khawatir pertanyaanku hanya akan membuatnya semakin marah, jadi aku urungkan.
Dokter keluar dari ruang operasi, beliau mengabari bahwa operasi berjalan dengan lancar dan memuji Lea yang dapat bertahan.
Saat ini Lea sedang dalam masa pemulihan, belum ada yang boleh masuk menemuinya, kami semua hanya bisa melihat Lea yang terbaring lemah di atas ranjang dari balik jendela kaca.
Kali ini, dokter memintaku dan Mas Indra ikut masuk ke ruangannya untuk membicarakan sesuatu. Mbak Dewi masih di luar gedung Rumah Sakit. Entah kenapa dia belum masuk juga.
"Bapak Indra, Ibu Sasa, sebenarnya cukup berat untuk saya mengatakan ini, tapi kebenaran harus di ungkapkan," ucap Bu Dokter mengawali pembicaraan.
"Iya, Dok, silahkan," balas Mas Indra yang terlihat cukup gusar, tapi wajahnya tidak menunjukkan raut kemarahan seperti saat keluar dari ruang pengambilan darah tadi. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja mendengarkan Ibu Dokter itu berbicara.
"Sekitar enam tahun yang lalu, Rumah Sakit ini kehilangan seorang bayi perempuan yang baru saja dilahirkan. Kami semua tidak tahu siapa yang telah membawa bayi itu. Kedua orang tua si bayi sangat marah pada Rumah Sakit ini, bahkan, maaf, Ibu si bayi juga terkena gangguan jiwa akibat kehilangan putrinya.
Suaminya tidak terima dan menuntut Rumah Sakit ini ke jalur hukum, mereka juga membawa kasus ini hingga ke media yang membuat reputasi Rumah Sakit sangat turun sekali. Perlu bertahun-tahun untuk membangun kembali reputasi kami hingga dapat dipercaya kembali oleh masyarakat. Namun pelaku penculikan itu tidak pernah dapat tertangkap. Dan sekarang, mungkin adalah saatnya Tuhan membuka tabir kejahatan yang tersimpan rapi itu. Saya adalah salah satu dokter yang turut membantu persalinan bayi itu karena kami sedang kekuranagn tenaga medis di shift malam. Bayi itu lahir dengan sebuah tanda di leher bagian belakangnya, dan saat saya menangani putri Bapak tadi, tanda lahir itu sama persis degan bayi yang hilang waktu itu."
Aku melongo keheranan mendengar semua penjelasan Bu Dokter barusan.
'Apakah benar Lea bukan anaknya Mas Indra?'
Dengan berbagai pertimbangan, pihak Rumah Sakit telah menghubungi polisi dan akan segera menangkap pelaku penculikan.
Mas Indra mempersilahkan Dokter untuk segera menangkap Mbak Dewi karena dia adalah otak dari penculikan bayi tidak berdosa itu. Rumah Sakit juga sudah menghubungi orang tua dari si bayi namun tidak ada respon. Bisa jadi mereka sudah tidak tinggal disini lagi karena kejadian itu juga sudah lama sekali.
Tapi setidaknya nama baik rumah sakit ini tidak akan tercoreng lagi karena kasus penculikan bayi yang telah berlangsung lama itu.
Lea sudah siuman dan mencariku serta Mas Indra. Dia bilang tidak mau pulang ke rumah Mama dan Neneknya. Kami pastikan bahwa Lea hanya akan pulang ke rumah Momi Sasa dan Papa Indra saja.
Monster kecil itu terlihat bahagia, dia menyunggingkan senyuman yang sangat ceria.
__ADS_1