
"*Bangun, Hun, udah pagi."
"Masih ngantuk ahh, Mas."
"Ayoo bangun ... jangan malas, mau di cipratin air segalon kamu?"
"Aduuduuduuu ... Mas, sakit nih, Mas."
"Apanya??"
"Ini ... eemmm ... kamu sih semalem ...."
"Alasan aja ... bangun cepetan. Lari pagi yukk? udah lama banget kamu tuh nggak olahraga."
"Kan ada Lea, Mas ...."
"Ngeles aja nih, tutup panci!"
"Masih ngantuk, centong nasi!"
"Yaudah nggak usah ikut aja, itu lebih baik. Kamu tahu, kemarin-kemarin pas kamu nggak ikut, banyak loh cewek-cewek yang lagi lari pagi ...."
"Serius, Mas*?" tanyaku penasaran.
"Iyaa, ngapain juga aku bohong," jawab Mas Indra datar.
"*Yaudah, bentar aku ganti baju dulu yah ...."
"Katanya ada yang sakit?"
"Enggak ... nggak sakit banget, ehh udah sembuh."
"Cepetan."
"Iyyaa, zheyenk*!"
________________
Di sekitar taman dan sepanjang jalan yang kami lalui untuk lari pagi, tak satupun aku berpapasan dengan para cewek yang di ceritakan oleh Mas Indra. Padahal ini juga hari Sabtu, kok sepi?
"Ngapain Hun celingukan gitu? awas jatoh loh ... kesandung batu entar," tanya Mas Indra membuyarkan fokusku.
"*Mana Mas cewek-cewek yang kamu ceritain tadi itu?"
"Kayaknya mereka tahu ada kamu disisiku, jadi nggak pada nongol deh ...."
"Hilihh ... masa bisa gitu?"
"Buktinya nggak ada yang kamu lihat kan?"
"Modusshhh nih kamu nih?"
"Enggak, Sayang ... beneran kok kemarin-kemarin aku lihat ada cewek-cewek lagi olahraga, di situ deket taman aku lihatnya."
"Kok sekarang nggak ada ya, Mas? padahal udah weekend."
"Mana ku tahu, Hun ...."
"Kok kamu senyum-senyum gitu sih, Mas? curiga loh aku ...."
"Loh, senyum kan ibadah ... masa kamu melarang aku buat beribadah dengan tersenyum?"
"Hisshh ... alasan aja*!"
Jangan sampai deh banyak cewek-cewek yang melihat Mas Indra olahraga sendirian.
Suami aku ini kalau lagi keringetan sehabis olahraga, selalu kelihatan ganteng banget.
Biar aku saja yang lihatin. Hehehe.
"Hari ini rencana mau kemana, Hun?" tanya Mas Indra saat kami istirahat sejenak di bangku dekat taman.
"*Aku mau pergi sama Fani, yah, Mas ...."
"Mau kemana?"
"Habisin duit yang kamu kasih kemarin ... hehehe."
"Tapi masak dulu kan?"
"Siang aku nggak masak nggak papa yaa, Mas?"
"Emang mau pergi jam berapa?"
"Setelah emol buka donk."
"Dinner masak ya?!"
"Kamu ada rencana kemana hari ini?"
"Aku mau ke rumah Roni"
"Ngapaaaiiinn??"
"Main bentar."
"Jangan macem-macem kamu, Hun ...."
"Macem-macem apa, Sayang? enggak lah."
"Kamu kan tahu, Roni nggak suka sama aku. Bisa aja kan dia bahas yang nggak-nggak soal aku?"
"Itu perasaan kamu aja, daun kering ...."
"Bener kok itu, ranting pohon!"
"Jangan pulang kesorean, Hun."
"Okay, cintaa*."
______________
Setelah mandi dan menyiapkan sarapan, aku langsung mengirim pesan untuk Fani, sahabatku.
[Ooiiitt, Kipas ... udah bangun belum lu?]
__ADS_1
Fani temanku sering aku panggil kipas, dalam bahasa Inggris, Fan kan artinya kipas angin.
Hihihi
[Eh Micin dah bangun lu?] balas Fani balik bertanya.
Namaku Anisa tapi sering dipanggil Sasa, seperti nama merek penyedap rasa atau dikenal juga dengan sebutan micin. Jadi si kipas suka memanggil aku micin.
Haddeehhh.
[Salon yukk?] ajakku.
[*Laki lu kemana?]
[Mau ke rumah Roni katanya ... laki lu?]
[Yaudah gue mandi dulu, tar jemput. Laki gue juga ada urusan.]
[Uh she up (Ahsiyap*).]
Kebetulan Fani tinggal tidak jauh dari rumahku, jadi kami sering saling berkunjung.
Seneng deh punya teman dekat yang rumahnya juga deketan. Kan enak kayak gini, kalau aku nggak punya garam atau bawang, tinggal minta ke tetanggaku yang adalah sahabatku.
Hahaha
______________
"Mas, aku berangkat yaa ..." aku berpamitan pada Mas Indra sambil mencium tangan, cipika cipiki dan memeluknya.
"*Iya Sayang, hati-hati, I love you"
"I love you*."
Kata 'I love you' memang sangat sering kami gunakan, sebagai 'reminder' atau pengingat bahwa kami saling mencintai dan dicintai. Salim, peluk dan cium juga tidak pernah ketinggalan. Alasannya biar kami terbiasa dan kangen terus mau peluk dan cium.
Hehehe
tuut ... tuutt ... tuuttt ....
"*Halo?"
"Fan ... gue udah di depan rumah lu."
"Iya Sa, ini gue lagi keluar rumah."
"Lama amat, hisshh."
"Laki gue tu minta dibikinin sarapan tadi."
"Yaudah, cepetan!"
"Iyye, bawell*"
tut tut tut ....
Fani mematikan panggilan telpon dariku dan beberapa menit kemudian dia mengetuk kaca mobil.
Kami berdua langsung menuju salon langganan.
"*Gimana Cin, hari-hari lu jadi ibu tiri? Hahaha."
"Parahh dahh ... persis kayak yang gue ceritain di chat kita itu deh pokoknya. Dan lu tahu donk, gue sayang banget sama Maya, eh ponakan gue di tendang sama anak itu!"
"Sabar Cin, sabar ... dia juga anak elu sekarang."
"Anak mas Indra sama Mbak Dewi isshh."
"Yakan udah jadi anak elu juga, Miciinn!"
"Eh lu tahu nggak gue rada takut loh sama monster kecil itu pas melolotin gue! Gila aja anak sekecil itu matanya melolot kayak mau copot! Persis seperti neneknya pas jahatin gue waktu itu."
"Serius lu, Cin? videoin yee kapan-kapan kalau pas melolot lagi."
"Yeee si kipas ... gue aja takut, malah lu nyuruh videoin pula!"
"Kan gue pengen lihat juga, Sa."
"Kapan-kapan ajak ponakan lu, yukk, Fan buat berenang bareng sama Maya sama Lea."
"Boleh tuh ... tar gue kabarin dahh kalau ponakan gue dateng*."
Setelah selesai sesi perawatan wajah dan rambut kami di salon, rasanya begitu segar dan nyaman banget.
Aku lalu mengajak Fani mencari makan.
Menunggu makanan kami di hidangkan, kami berdua memulai lagi sesi ghibah tentang Lea.
"*Itu beneran Lea suka makan telor ceplok ye, Cin?"
"Beneran ... kan gue kasih fotonya ke elu pas gue goreng telor ceplok itu."
"Kok bisa ya dia makan nasi sama telor doang, tiap hari emang gitu kali, Sa, di kasihnya nasi sama telor terus makanya dia ingetnya itu itu aja."
"Bisa jadi yah ipas .. tapi lu tahu donk Mas Indra tiap bulan kasih jatah buat Lea berapa? gue rasa lucu aja sih masa dengan uang segitu, makan telor doang*?"
Makanan datang dan langsung kami santap. Topik pembicaraan kali ini di ganti dengan apa yang kami makan, bagaimana kami bisa memasaknya di rumah untuk suami dan mengira-ngira apa saja bumbu yang di masukkan dalam makanan ini.
Selesai makan, aku dan Fani pergi belanja. Tapi jika tidak terlalu aku butuhkan, aku memang jarang beli baju-baju. Mending uangnya disimpan dulu atau nunggu pas lagi diskon biar bisa borong banyak.
"*Cin ... itu Mbak Dewi apa bukan sih?"
"Mana?"
"Itu lohh di toko baju sebelah ...."
"Hmm ... not sure ... tapi kayaknya bukan deh, Lea sama siapa kalau Mbak Dewi disitu?"
"Mau lu samperin?"
"Yeee ... ogah*!"
Akhirnya aku dan Fani hanya membeli beberapa cemilan. Tiba-tiba aku teringat si monster itu saat aku melihat berbagai jepit rambut dan bando terpajang di etalase sebuah toko.
"Eh kayaknya lucu tuh buat anak-anak," seruku sambil menunjuk sebuah toko.
__ADS_1
"*Apaan, Cin?"
"Itu loh jepitan sama bando."
"Yaudah beli aja, gue juga mau beliin buat ponakan gue si Dinda."
"Yaudah, yukk masuk*!"
Niat shopping untuk diri sendiri, aku malah pulang membawa belanjaan untuk Lea dan ponakanku. Aku bahkan tidak beli apa-apa untuk Mas Indra.
______________
Sampai di rumah, aku menaruh belanjaan dan menghempaskan badan ke kasur sambil mengirim pesan untuk suamiku.
[*Hun, masih di rumah Roni?]
[Iya, Sayang ... kamu udah di rumah?]
[Udah nih.]
[Kamu masak buat aku kan?]
[Mau makan apa?]
[Surprise me!]
[Lah, aku bingung mau masak apaan, Hun?]
[Apa aja masakan kamu aku suka.]
[Yaudah pulang sekarang ....]
[Baik, tuan putri, I love you.]
[I love you, Mas*.]
Aku mempersiapkan makanan untuk Mas Indra sambil menunggunya pulang dari rumah Roni.
Jujur saja aku tidak suka pada sahabat suamiku ini. Roni pernah menuduhku mempengaruhi Mas Indra hingga Mas Indra berubah total dari semenjak aku mengenalnya pertama kali.
Roni menyebutku 'bad influence' atau 'pengaruh buruk' dalam hidup mas Indra, padahal dirinya sendiri lah yang begitu.
Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mencegah Mas Indra berteman dengan siapa saja. Karena aku juga tidak suka di batasi. Asal saling sadar saja dimana batasan-batasannya.
Setelah selesai makan malam dan membereskan semuanya, aku dan Mas Indra masuk kamar dan seperti biasa, "Pillow talk".
Kami memang selalu tidur lebih awal supaya dapat bangun lebih pagi juga. Biasanya jam 9 malam kami sudah berada di kamar dan ngobrol sekitar satu jam, jadi jam 10 malam kami biasanya sudah terlelap.
"*Kamu tadi nggak belanja apa-apa, Hun?"
"Itu beli-beli jepitan sama bando buat Maya dan Lea. Lucu kan, Mas?"
"Iyya bagus ... Lea pasti suka."
"Fani juga beliin buat Dinda, keponakannya. Jadi aku sekalian beli aja."
"Iya, kamu sampai lupa nggak beliin apa-apa buat aku ...."
"Kamu mau bando juga mas? Apa jepit rambut?"
"I want youuu ...."
"Lea udah tidur apa belum ya, Hun?"
"Kamu kangen sama Lea, Hun?"
"Nggak sih ... kemarin kemarin kan sebelum Lea tidur aku jadi belum ke kamar kita."
"Sekarang nggak ada Lea dan kita udah di kamar nihh ...."
"Terus?"
"Yuukk ...."
"Yaa ayo, Mas, tidur ...."
"Yee ... kamu emang udah ngantuk?"
"Iyaa ngantuk banget ... hooaaammzzZ."
"Tadi masih seger padahal ...."
"Udah lowbat aku, Hun."
"Nggak peka kamu, Hun ...."
"Kamu yang nggak peka, Mas ... aku udah ngantuk gini hoamm ... hoamm ...."
"Yaudah dehh besok yaa ... good night ... mmwah."
"Besok apa, Mas?"
"Ya besok aja kalau kamu nggak ngantuk."
"Kok besok? emang ada apa besok?"
"Udaahh, Hun ... udaahhh ... ayo tidur, katanya ngantuk ... hadehh ...."
"Ni aku udah merem loh, Mas ...."
"Aku juga udah ada di alam mimpi, Hun."
"Good night, Mas ... mwahh ... xixixi."
"Malah cekikikan ... ckckkcck."
"Kita kapan tidurnya Mas kalau kayak gini terus?"
"Kamuu tu yaa ... katanyaa udah ngantuk saayyaaanggg ... gemes aku ... Udah kalo gitu sekarang aja gimana nih?"
"Iya iyaa ... ini udah off aku, Mas ... besok aja yah!"
"Iya, Sayang ...."
"I love you."
__ADS_1
"I love you*."