
Lea sudah berangkat sekolah di hari ke lima dia berada disini. Mas Indra sedang bersiap untuk ke kantor sementara aku membereskan rumah.
"*Hun, baju aku yang warna krem mana ya?"
"Di lemari, biasanya juga disitu."
"Gak ada zheyenk!"
"Cari dulu baru bilang gak ada, pleciden!"
"Udah aku cari-cari nggak ada nih, nyonyah!"
"Moo ... dushh!! biar aku yang cari kan, yakan?"
"Nggak sayang, emang gak ada kok, dimana yaa?"
"Belom di cuci palingan."
"Udah deh ... malah aku yang angkatin jemurannya."
"Di kamar tempat setrikaan berarti."
"Ambilin donk Sayangku ... cintaku ... mwahh mwahh ... aku masih pake handuk nih."
"Belom di setrika nih, hun* ..." teriakku dari kamar khusus untuk tempat menyetrika baju sekaligus tempat untuk menaruh beberapa barang. Bukan sebuah gudang pastinya, karena gudang berada di ruang lainnya.
"*Setrikain yah bentar?"
"Pake baju yang ada dulu sih!"
"Aku mau pake yang itu, Sayangku ...."
"Iya bentar*."
Beberapa menit kemudian aku mengantarkan baju favorit Mas Indra ke kamar.
"*Thankyou my sunshine."
"Thankyou doang ... minta duit ...."
"Nih duit nih* ..." alih-alih memberiku segepok duit, Mas Indra malah mencubit pipiku.
"*Eh, Mas, semalem kamu kan janji mau ngasih aku uang karena masakanku enak ... ditambah sama nyetrika baju ini yah, xixixi."
"Iya, Sayang ... mau berapa?"
"Sebanyak yang kamu mau kasih ke aku Sayangku*," twing, twing ... mata genitku berkedip manja agar Mas Indra memberiku lebih banyak uang pagi ini. Hahaha
"Okay."
_______
Untuk masalah uang, Mas Indra termasuk suami yang tidak pelit, dia sadar betul di saat dia berada di titik terendah dan bahkan untuk makan saja kami kekurangan dan pernah sama sekali tidak punya uang karena tabunganku juga ludes untuk membayar kontrakan dan modal usahanya. Belum lagi jatah bulanan untuk Lea.
Jadi saat kami perlahan bangkit dan ekonomi mulai stabil, Mas Indra tidak perhitungan soal uang. Jatah bulanan untuk kedua orang tua kami juga tidak lupa Mas Indra berikan setiap bulannya.
Aku sendiri juga di jatah perbulan karena Mas Indra melarangku bekerja. Seperti uang yang dianggarkan untuk aku pergi ke salon atau sekedar pergi keluar dengan teman-temanku. Uang bulanan untuk keperluan rumah tangga kami juga mempunyai anggaran sendiri. Kalau ada sisa, selalu aku sisihkan. Mas Indra juga kerap memberi aku uang jajan karena aku suka ngemil hehehe ... di komplek perumahan kami, para penjual ketropak, gado-gado, somay, mie ayam, bakso, dan lainnya rutin melewati depan rumah. Jadi setiap kali aku mendengar mereka datang, aku sering membelinya.
Jika aku tidak jajan, terkadang uang itu aku berikan pada keponakanku atau Ibu.
Semua itu atas persetujuan dan di ketahui oleh Mas Indra. Waktu itu Mas Indra bilang, uang itu bisa aku pakai untuk apa saja karena sudah menjadi milikku.
Dari pengalaman pernah bangkrut dan berada di titik nol, aku mulai sangat hati-hati tentang keuangan. Aku mencegah diriku untuk bergaya hidup 'hedonisme' meskipun jika mau, aku mampu dan bisa saja bergaya seperti itu, menghamburkan uang dengan sia-sia. Berpakaian juga biasa saja apalagi aku lebih suka baju yang nyaman aku pakai. Kecuali di acara-acara tertentu, aku akan berdandan bagai ratu.
Aku jadi mulai rajin menabung, menginvestasikan uangku di 'Reksa Dana', membeli beberapa lembar saham kecil-kecilan, rutin membeli emas, perhiasan dan hanya membeli barang-barang yang aku butuhkan. Bukan barang yang hanya aku inginkan tapi 'zero meaning'.
Tapi untuk urusan makanan, aku bebas. Aku dan Mas Indra memang suka kuliner, kami juga sering bereksperimen dengan berbagai menu masakan baru. Tapi ya tidak berlebihan, apalagi Mas Indra sangat menyukai masakanku. Pernah dia memakan pie agak gosong buatanku. Mungkin dia hanya menghormatiku karena sudah repot masak atau memang dia doyan?
Kami berdua memang suka makan!
Makanya aku sangat kaget saat Lea selalu minta makan sama telor ceplok saja.
__________
"Lea, mau pizza nggak? apa burger aja?" tanyaku saat kami berada di mobil hendak pulang.
"*Mau nasi sama telor."
__ADS_1
"Telor nya habis, mesti beli dulu*," aku terpaksa bohong agar bocah itu tidak minta telor ceplok melulu.
"*Eemm ... tapi mau makan sama telor."
"Aku mau makan ayam goreng krispi, kamu mau?
"Mau*," jawab Lea malu-malu.
"Yaudah aku pesen dulu sekarang yah, biar kalau kita sampai rumah, ayam goreng nya udah dateng."
___________
[Mas, aku nggak masak yah ... pengen makan KFC.] Aku mengirim pesan pada Mas Indra, memberitahunya hari ini aku tidak masak.
[Tumben KFC?]
[Pengen aja ... kamu mau? biar sekalian aku pesenin nih.]
[Boleh ... bentar lagi aku pulang.]
[Aku juga otw.]
[Yaudah, I love you.]
[I love you.]
____________
Kami bertiga makan siang bersama.
"Udah seperti sebuah keluarga yang lengkap yah? xixixi," lirihku dalam hati.
"Haisshh, nggak ahh ... aku menerima Lea disini juga karena terpaksa. Hufftt ... kenapa juga itu neneknya Lea mesti pulang mendadak?" bantah sisi hatiku yang lain.
Wanita tua satu itu kalau tidak aku menghormati Ibuku dan rasa kemanusiaanku karena dia sebagai manusia yang telah menua, mungkin sudah aku cekik kali lehernya. Dia pernah memaki dan berkata kasar padaku saat aku mengantarkan Lea sepulang kami jalan-jalan di akhir pekan.
Ibunya Mbak Dewi sangat membenciku, aku tahu itu. Tapi aku selow saja, aku tidak peduli padanya.
Ahh .... Aku sungguh tidak respek pada manusia satu itu. Matanya melolot seperti mau loncat saat memakiku. Jari telunjuknya juga dia arahkan ke wajahku penuh amarah.
_____________
Saat aku menjemput Lea tadi, gurunya memberikanku sebuah file PR.
Aku mengajak Lea untuk mengerjakan, tapi dia menolak.
"*Aku mau kerjain sama Mama."
"Kerjain dulu satu lembar yah?"
"Gak mau!"
"Ini banyak lho PR nya, ini dulu aja yang gampang, aku bantuin sini, kerjain sama aku*," bujukku lembut.
"Gak mau! aku mau main!"
Oh Tuhan ... bocah ini mengingatkan aku pada neneknya. Matanya melolot seperti mau copot!
"Mas, itu anakmu nggak mau ngerjain PR," teriakku sambil lari ke kamar menghampiri Mas Indra yang sedang tiduran di atas ranjang. Masih agak takut dengan apa yang aku alami tadi.
"*Kamu kenapa, Hun? kok deg degan gitu?"
"Ahh ... enggak ...."
"Beneran?"
"Iya, Sayang ...."
"Yaudah, sini peluk ...."
"Mbak Dewi nanti jemput Lea jam berapa, Mas?"
"Jam 6 atau jam 7."
"Bentar lagi donk yah, PR nya aku bawain sekalian aja ya nanti, biar di kerjain di rumah."
"Iya, Hun."
__ADS_1
"Udah, Mas, lepasin ... aku mau beresin barangnya Lea yang mau dibawa pulang."
"Nanti ahh ..."
"Aahh ... lepasin!"
"Nggak* ...."
____________
Lea sudah di jemput Mbak Dewi jam 7 tadi. Aku dan Mas Indra juga sudah makan.
Yaayy!! akhirnya malam yang sangat aku tunggu datang juga! Genap 5 hari Lea disini.
Artinya masih akan ada 10 hari lagi ke depan dia disini.
Hufftt ... sehari saja aku tidak tahan, bagaimana 10 hari?
"Hun, tadi kamu itu deg degan kenapa? nggak biasanya loh," tanya Mas Indra memulai "Pillow talk" kami.
"*Nggak papa, Mas ...."
"Aku tahu ada apa-apa... ayo sini cerita* ..." Mas Indra memeluk dan mengusap rambut sambil sesekali menciumi kening dan kepalaku.
"Tadi pas aku ajak Lea ngerjain PR, dia marah-marah terus melotot gede banget matanya, Mas ... persis kayak neneknya waktu memaki aku, Mas, hikss ... hikss ..." entah kenapa tiba-tiba aku menangis sesenggukan dan merasa sangat ketakutan meski Mas Indra tengah memelukku.
"*Nggak papa, Hun, ada aku disini."
"Aku takut, mas ... hiks, hikss ...."
"Takut kenapa?"
"Lea, Mas, hiks ... hiks ...."
"Lain kali kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu aku ya, Sayang, aku akan beritahu Lea supaya nggak kayak gitu lagi ke kamu."
"Tapi aku takut, Mas, mata Lea persis seperti neneknya. Aku takut. Hiks ... hiks."
"Udah, udah, jangan nangis lagi yaa, nanti luntur itu cantiknya ... bukan jadi mutiara, airmata kamu malah jadi batu kerikil loh ... udah ah, jangan nangis lagi."
"Hwa ... hwaaa* ..." aku semakin kencang menangis, jahatnya Mas Indra bilang airmataku akan jadi batu kerikil.
"*Kok tambah kenceng nangisnya? nanti kedengeran tetangga dikira kita lagi ngapa-ngapain yang pakai siksa-siksaan itu, terus kamu nangis deh ...."
"Biarin! hiks, hiks ...."
"You're doing good, Hun ... I owe you many things. I'm so sorry for everything that Lea did to you today and this whole week. I am proud of you, Thankyou for everything you did ... I know you can do it, I love you so much, Sasa*." (Kamu melakukan semuanya dengan baik, Sayang ... aku berhutang banyak. Aku minta maaf atas semua yang Lea perbuat kepada kamu hari ini dan selama seminggu ini. Aku bangga sama kamu. Tyrimakasih atas semua yang telah kam lakukan, aku tahu kamu bisa merawat Lea, Aku sangat mencintai kamu, Sasa).
"That is nothing, Hun ... I do it because I love you. Hiks, hikss ...." (Itu nggak seberapa, Sayang ... aku melakukan semuanya karena aku mencintai kamu).
"*Syukurlah ... lega aku, Hun, aku kira kamu bakal malak aku lagi, minta uit, uit, uit ...."
"Haiisshh ... malah becanda deh*!" aku berhenti dari tangisku dan menyerang pinggang Mas Indra untuk aku cubit bertubi-tubi.
"*Stop it, Hun ... stop ... xoxoxo."
"Nggak!"
"Aku bales nih yaa ...."
"Try if you can* ... (Coba saja kalau kamu bisa) yyeekk!"
"*Jangan nangis lagi yaa?"
"Coba aja kalau berani, yyeekk!"
"Nantangin nihh yaa?"
"Siapa takut? yyeekk!"
"Beneran? jangan nyesel?"
"Enggak!"
"Okay ...."
"Rwwaaaaaaa ... Mass Indraaaaaaaaaa*!!"
__ADS_1