Monster Kecil

Monster Kecil
Antar atau Jemput?


__ADS_3

Sejak kecil, aku memang sudah diajari Ibu untuk tidak membuang makanan. Kata Ibu, nanti nasi dan makanan lain akan menangis jika tidak di habiskan. Sampai sekarang aku masih patuh pada Ibu untuk tidak membuang makanan jika masih dapat dimakan. Setiap harinya, aku pun selalu masak makanan yang 'harus habis' sekali makan agar tidak sampai membuang jika kami tidak dapat menghabiskan.


Putri, pacarnya Ferry tidak jadi ikut ke rumah malam ini sedangkan aku sudah masak untuk makan malam kami. Jadi, aku membungkus sebagian makanan agar Ferry bisa membawanya pulang untuk Putri karena you mereka tinggal satu rumah, jadi saat Ferry pulang, mungkin Putri juga belum tidur sehingga makanan itu bisa segera di santap oleh Putri.


"Hun ... Ferry udah pulang ..." bisik Mas Indra lembut.


"Umm ... yaa, zzz ..." jawabku setengah terlelap.


"*Sayang ... kamu udah tidur beneran?"


"Umm ... yaaa ... zzzzz ...."


"Kamu tu yaa, Hun ... kalau tidur udah kayak marmut lagi di opname. Ckckckck."


"Ummmm ... appaaa ... Mas?"


"Nggak Sayang ... kamu kalau lagi tidur tambah cantik ... mwahh ...."


"Tidur Mas ... ngantukk .. zzz."


"Iya, Sayang ... I love you."


"Love you*."


___________


• Hari ke 11


Sudah hampir jam 7 pagi tapi Mbak Dewi belum sampai juga disini. Pesanku juga tidak dibalas, telpon pun tidak diangkat.


"Apa hari ini Lea tidak datang ya? Asyikk ... aku tidak perlu repot-repot menjemput monster kecil itu ... xixixi," bisikku dalam hati.


*tiingggg. Suara pesan masuk dari Mbak Dewi.


[Anisa?! udah jam berapa ini?! kok kamu belum jemput Lea kesini sih?!]


Hah ...? Jemput? emang ada janji buat jemput?


Bukannya Mbak Dewi yang seharusnya mengantar anaknya? Kok isi pesannya kayak marah gitu? Enak aja mau marah-marah sama aku? anaknya nggak aku kasih makan atau aku siksa baru tau rasa! Antar atau jemput sih yang benar?


[*Aku nggak tahu mbak kalau harus jemput,]


[Tanya Indra lah.]


[Mas Indra nggak bilang ke aku mbak,]


[Terus? ya cepet jemput sekarang, tunggu apa lagi*?!]


Pesan terakhir Mbak Dewi tidak ku balas, males banget sih harus meladeni orang seperti itu. Beruntung tidak aku blokir nomor nya saat itu juga. Kalau aku kesal, biasanya langsung aku blokir saja nomor orang yang menyebalkan begitu. Biar aku tidak di ganggu. Hehehe.


"Mas, kok Mbak Dewi nggak ngantar Lea kesini?" tanyaku pada Mas Indra saat dia keluar dari kamar mandi, aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Oh iya, yaa ... emang kenapa, Hun?" jawab Mas Indra polos .


"*Loh ... kamu nggak tahu, Mas?"


"Aku nggak buka HP sejak semalam ada Ferry itu, Hun* ...."


Aku tidak bisa menyalahkan Mas Indra juga karena dia sendiri pun tidak tahu kenapa Mbak Dewi tidak mengantar Lea pagi ini.


"Ohya, ini Dewi ada ngechat aku, Hun ... tapi baru ku lihat, nih kamu baca ...." Mas Indra menyerahkan ponselnya padaku, disana kubaca ada beberapa pesan yang memang belum dibaca.


*23:20


[Ndra besok pagi jemput anak kamu ya, aku nggak bisa antar ke rumah.]


23:21


[Aku capek banget, Ndra ....]


23:22


[Kamu apa kabar?]


23:30


[Kamu udah tidur?!]


23:40


[Kok gak balas?]


06:30


[Indra, mau jemput anak kamu jam berapa?]


06:40


[Kamu aja yang jemput!]


06:50

__ADS_1


[Mau jemput apa nggak*?]


Haisshhh ... aku sedikit kesal membaca pesan dari Mbak Dewi yang seakan mengajak mas Indra untuk mengobrol di malam hari. Untungnya tidak di balas oleh Mas Indra. Karena penasaran, aku 'scroll' percakapan mereka keatas, dan memang benar ternyata beberapa kali Mbak Dewi ingin mulai mengajak ngobrol Mas Indra tapi selalu tidak di balas. Hahaha.


Aku memang bebas membuka ataupun memakai HP Mas Indra kapan saja, dia pun begitu pada ponselku, kami saling mengetahui kata kunci untuk membukanya. Tapi aku dan Mas Indra memang saling percaya, jadi aku jarang kepo dengan isi percakapan di HP nya. Apalagi setiap kali Mbak Dewi menghubungi Mas Indra tentang Lea, Mas Indra selalu menyerahkan HPnya padaku, jadi akulah yang sebenarnya selalu membalas pesan Mbak Dewi. Bukannya Mas Indra. Hahaha.


"*Yaudah, Mas, ayo jemput Lea sekarang ...."


"Iya, sayang*."


Mbak Dewi tampak kesal saat melihatku, aku tidak tahu apa salahku? Ahh ... apa karena aku terlihat semakin cantik saja yah? hehehe.


Seperti biasa, Lea masih memakai baju tidurnya. Dapat kulihat jika wajah anak ini belum tersentuh air sama sekali.


"Lea udah makan?" tanyaku saat bocah kecil itu telah masuk ke dalam mobil.


"Belum ..." jawab Lea lirih.


"*Ini rotinya, makan sekarang yah ... nanti sampai rumah langsung mandi dan berangkat sekolah karena kita udah telat, okay?"


"Okay*."


___________


Setelah mengantar Lea ke sekolah, di mobil aku iseng menggoda Mas Indra tentang chat Mbak Dewi semalam.


"*Mbak Dewi sering chat kamu tengah malam kayak gitu yah, Mas?"


"Iya tapi nggak aku balas kok, Hun ... kamu bisa lihat sendiri."


"Dia kayaknya mau ngobrol sama kamu lohh, Mas ..."


"Ngobrol apa? kalau bukan tentang Lea juga nggak pernah aku balas."


"Ohh ...."


"Kamu nggak percaya sama aku, Hun?"


"Aku nggak bilang gitu kok."


"Kamu kan bisa bebas cek HP ku, kamu baca aja semua chat ku, bahas apa aja disitu, aku juga nggak pernah hapus-hapus chat."


"Mas, aku minta maaf ... aku nggak bermaksud buat kamu marah."


"Aku nggak marah, aku cuma nggak suka kamu menaruh curiga ke aku, apalagi sama Dewi? kamu kan tahu, Hun, kesalahan terbesar aku adalah mengenal Dewi. Jadi 'please' (tolong), aku mohon sama kamu jangan bawa atau bahas Dewi dan masa lalu ku."


"Aku nggak ada maksud kayak gitu, Mas .. aku cuma ...."


"Udahlah, Sayang, gak usah di bahas lagi, yang ada malah berantem kita nanti gara-gara hal kecil kayak gini*."


Salahku sih memang, berniat menggoda Mas Indra untuk sekedar bercanda, malah sepertinya dia tidak suka dan mungkin tersinggung bahkan marah padaku. Padahal kami sudah sepakat untuk tidak membahas masa lalu dan mantan. Begitu juga Mas Indra, dia tidak pernah mencoba sekalipun membahas tentang mantan atau masa lalu ku.


Aku takut Mas Indra benar-benar marah, makanya aku diam saja dari tadi.


"Sayang, kamu kenapa kok diem? lagi sariawan?" tanya Mas Indra membuyarkan kesunyian setelah kami masuk rumah.


"Emm ... enggak, Hun," jawabku agak ketakutan.


"Terus kenapa kok diem aja dari tadi? aneh tahu, Hun ... orang cerewet nan bawel kayak kamu, kalau lagi diem pasti ada sesuatu dehh ...."


"Apa sii, Mas ... nggak adaaa ...."


"Semalem kamu kan tidur duluan tuh, Hun ...."


"Hu'um?"


"Sekarang yuukkk?"


"Apaan?"


"Kamar, yuukk?"


"Ntar ahh, Mas. Mau nyuci."


"Tar aja nyucinya ...."


"Mau nyetrika, Mas ...."


"Besok aja nyetrikanya."


"Mau masak, Hun ...."


"Masih jam segini, masak apa?"


"Mau jemur baju ...."


"Emang udah nyuci?"


"Belum."


"Yaudah, kamar yukk ...."

__ADS_1


"Hwaa ... Mas?!"


Mas Indra membawaku ke kamar dan mengunci pintu. Aku tidak diijinkan pergi karena Mas Indra juga tidak harus ke kantor setiap hari. Jika ada dokumen yang perlu di tanda tangani atau ada hal yg harus diselesaikan sendiri oleh Mas Indra, baru lah dia pergi ke kantornya. Mas Indra memang lebih sering menghabiskan waktunya di rumah bersamaku, membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga berdua.


_______________


Di sekolah saat aku menjemput Lea, Miss Rahel memberiku kode bahwa ia ingin bicara.


Aku menunggu sebentar sampai semua anak-anak bubar, kemudian Miss Rahel menghampiriku.


"Mom, bukunya belum ada ya?" tanya Miss Rahel mengawali pembicaraan kami.


"Buku yang mana, Miss?" jawabku penasaran.


"Waktu itu yang pernah saya tanyakan," Miss Rahel kembali mengingatkan.


"*Sudah jadi menghubungi Mamanya Lea, Miss, untuk bukunya?"


"Sudah, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi. Masalahnya hanya Lea yang tidak mempunyai buku itu. Bulan depan juga ada tes, jadi diharapkan segera di usahakan untuk di kumpulka buku itu."


"Memang dua mingguan ini Lea sedang tinggal bersama Papanya, tapi untuk buku yang Miss Rahel tanyakan, tidak ada di tempat kami."


"Jika memang tidak ada, bisa tanya ke bagian admin untuk membeli buku yang baru lagi, karena buku itu tidak dijual di pasaran."


"Oh begitu ya ... bisa saya beli sekarang bukunya?"


"Silahkan langsung ke bagian Admin, yaa, Mom."


"Baik, Terima kasih banyak, Miss Rahel."


"Sama-sama, Mom*."


Aku langsung menuju bagian Admin dan menanyakan ketersediaan buku untuk Lea.


"Sekolah ini ribet banget sih ... bocah TK bukannya biarin aja main dan happy-happy, malah diberi tugas yang begitu banyaknya," gumamku dalam hati.


____________


Setiap jam menunjukkan angka 20:30, meskipun sedang asyik bermain, Lea memintaku mengantarnya ke kamar mandi untuk pipis, cuci tangan, cuci kaki dan gosok gigi lalu pergi tidur.


Aku dan Lea punya boneka masing-masing yang akan kami peluk saat mulai memejamkan mata, meskipun pada akhirnya bocah itu selalu memintaku untuk memeluk tubuhnya dan aku harus berpura-pura merem juga agar dia mengira aku tidur bersamanya sepanjang malam.


Beberapa saat kemudian, Mas Indra masuk ke kamar Lea dan membangunkanku yang ikut terlelap saat menidurkan monster kecil itu.


Sebenarnya aku malas sekali untuk beranjak dari hangatnya selimut yang menutupi tubuhku dan pindah kekamar kami. Tapi mas Indra bersedia menggendongku, jadi aku menurut saja. Hahaha.


Aku seperti berada dalam sebuah adegan di drama Korea dimana tokoh pria seringkali menggendong tokoh wanita pasangannya.


Setelah terlelap beberapa menit di kamar Lea tadi, rasa kantuk itu tidak muncul lagi. Aku juga perlu bicara dan membahas banyak hal dengan Mas Indra.


"Hun, tahu nggak, tadi pas kamu lagi masak buat 'dinner' (makan malam) dan aku main sama Lea, dia nunjukkin aku sesuatu." Mas Indra memulai duluan sesi 'pillow talk' kami, padahal tadi aku dulu yang mau cerita.


"Apaan, Mas?" tanyaku penasaran.


"Itu lho ... Lea ngasih lihat ke aku gambar yang dia bikin," jawab Mas Indra seperti menahan tawa.


"Gambar yang mana??" tanyaku semakin penasaran karena aku juga langsung teringat gambar yang kemarin kutemukan di kamar bocah itu.


"*Lea ngegambar kamu hamil, Hun. Hahaha."


"Aku hamil?"


"Iya ... katanya, ini 'baby boy' (bayi laki-laki) yang ada di perut Momi."


"Masa sih, Mas?"


"Ini lihat deh gambarnya* ..." Mas Indra menunjukan kertas yang kemarin hampir saja aku robek dan ku buang sejauh-jauhnya.


"Jadi ini aku yah Mas?" tanyaku sambil menunjuk gambar figur wanita memakai rok dan di bagian perutnya ada gambar figur anak kecil yang di lingkari bagaikan sedang berada di dalam perut sang ibu.


"*Iya, lucu kan ... kamu kalau hamil nanti semoga kita diberi anak laki-laki yah, Hun ... aku mau ajarin dia main bola dan dukung tim idolaku, bukan ikut Mominya mendukung tim bola yang nggak pernah juara. Yyeeekkk!"


"Yeee ... terserah dia mau dukung tim yang mana, tapi mendingan dukung timku aja karena masa depan tim aku sangat cerah, bukan kaya tim kamu yang tinggal sejarah. Yyyeekkk*!!" aku dan Mas Indra memang sesama penyuka bola. Terlebih tim idola kami juga menjadi rival satu kota, jadi setiap pertandingan antara dua klub ini, kami berdua sering menyaksikan bersama meski seringnya aku akan bete sepanjang hari jika timku tidak dapat mengalahkan tim idola suamiku.


"*Makanya sayang ... yuukk, sekarang, yuukkk?"


"Nanti kalau tiba-tiba Lea bangun terus dia kesini gimana, Mas?"


"Nggak ahh ... biasanya juga nggak bangun malem-malem."


"Kalau malam ini kebangun gimana?"


"Aku kunci deh pintunya, yaa ...."


"Tapi aku lebih tenang kalau kita lagi berdua aja , Mas ...."


"Kita kan emang lagi berduaan aja sekarang, Hun?"


"Kan ada Lea juga di rumah ini."


"Kamu yaa ... bawelll* ...."

__ADS_1


Mas Indra mengunci pintu dan mengakhiri sesi 'pillow talk' kami.


Humm ... padahal aku belum sempat bercerita tentang hari ini, tapi aku tidak diperbolehkan untuk bicara lagi.


__ADS_2