
Sudah hampir jam 9 malam Mas Indra belum juga pulang. Pesanku dari tadi pun belum di balas. Mungkinkah Mas Indra sedang menyetir, sehingga tidak melihat chat di HPnya? Tidak mungkin kalau kehabisan baterai karena bisa mengisi baterai di mobil. Monster kecil ini dari tadi juga tak kunjung tidur. Meski tubuhnya sudah kupeluk, matanya masih sesekali terbuka. Sepertinya dia belum mengantuk.
"*Mau tidur apa nggak?"
"Mau tidur ...."
"Yaudah cepetan merem ... aku hitung sampai tiga, kalo nggak tidur, pulang aja dehh yaa satu ... duaa* ...."
"Iya aku mau tidur."
Setiap kali aku menggunakan senjata andalanku itu, Lea langsung menuruti apa yang kubilang. Kurang dari dua menit, dia sudah pulas tidur.
Kadang aku merasa bingung, kenapa bocah ini tidak mau pulang ke rumah Mamanya sedangkan disini, aku, Sasa Micin, Mominya yang galak ini pasti sering membuatnya jengkel. Belum lagi aku selalu menyuruhnya untuk membereskan mainan dan selalu bawel untuk menyiram setelah pipis maupun membuang sampah seperti tisu yang telah dipakai Lea pada tempatnya.
Kuperhatikan wajah polos itu, ku usap rambut dan kepalanya lalu kuciumi wajahnya berulang kali. Sama persis seperti yang biasa Mas Indra lakukan padaku setiap malam sebelum tidur.
Sebelum meninggalkan kamar, ku rapikan selimut yang menutupi tubuh anak itu. Jangan sampai dia kedinginan.
Aku memang punya kebiasaan menyiapkan barang yang akan dipakai besok pagi pada malam sebelumnya. Baju seragam Lea, tas, sepatu dan kaus kaki sudah ku siapkan sejak malam. Jadi meskipun jika ada drama telat bangun seperti hari Senin kemarin, semuanya sudah tidak perlu disiapkan lagi di pagi hari.
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ....
Ku lihat di layar HPku mas Indra mau melakukan 'video call',
"*Hun ... 'so sorry' (maaf banget) meeting nya baru kelar nih ... aku baru banget pegang HP, 'are you awake' (apa kamu belum tidur)?"
"Why so long, Hun ... I can't sleep alone, you know that (Kenapa lama banget, Hun.. kamu kan tahu aku nggak bisa tidur sendirian) ...."
"I'm on my way home, Hun ... See, I'm with Ferry here (Aku lagi dijalan mau pulang, Hun ... Lihat nih aku sama Ferry)."
"Hi, Sasa* ..." sapa Ferry dalam video call.
"*Halo Ferry ... Eh, Mas, mau gorengan donk ... mau ubi goreng yang kriuk-kriuk itu ...."
"Iya nanti kalau dijalan lihat ada yang jual yaa ...."
"Harus dapet pokoknya yah."
"Kalau nggak dapat gimana?"
"Hhaaa ... lagi pengen makan ituu ...."
"Kamu ngidam, Sayang?"
"Hah ...?? aku kan biasanya juga gitu Mas, kalau mau makan apa yaa minta kamu beliin."
"Kalau nggak ada, pesen aja yaa, Hun ... aku pengen cepet sampai rumah ... kangen kamu. Aku anterin Ferry dulu sebentar."
"Yaudah deh ... aku pesen aja daripada tar nggak dapat."
"Okay, Sayang ... I love you ... mwahh ...."
"Love youuu* ...."
Pengen makan ubi goreng kriuk, tahu goreng, tempe mendoan, bakwan, risol dan banyak lagi. Tapi enaknya beli langsung yang baru diangkat dari kolam minyak goreng gitu ... hmmm ... enaknyaa ....
Aku menunggu Mas Indra tiba dirumah sambil memakan ubi goreng kriuk yang kuinginkan.
Senangnya ... sekarang mau makan apa saja bisa pesan melalui handphone dan diantarkan langsung ke rumah. Tidak perlu aku sendiri yang keluar mencari makanan. Dengan semakin maju dan berkembangnya teknologi, semoga hidup akan menjadi lebih mudah untuk semua orang.
Bahkan saat ini berbelanja berbagai produk pun bisa dilakukan dengan HP dan dari rumah. Belanja di aplikasi marketplace online selain bisa memilih berbagai kebutuhan tanpa harus pergi ke toko karena semuanya akan diantarkan sampai rumah, kita juga bisa memilih harga termurah dari beberapa toko online untuk satu barang yang sama. Tidak perlu capek-capek karena semua bisa dilakukan dengan benda kecil bernama smartphone. Berbagai pembayaran juga dapat dilakukan secara online, mungkin dimasa depan, uang kertas tidak akan berlaku lagi.
"Hai, Hun ... kangeenn ..." Mas Indra masuk ke rumah dan langsung memelukku erat.
"*Miss you too (Kangen kamu juga) ... haiishhh ... kamu bau acemmm ... mandi dulu sanaa ...."
"Ntar ahh ... aku kangen banget sama kamu ...."
"Iya, Sayang, tapi kan lebih seger kalau kamu udah mandi dulu. Cepetan gihh mandi dulu biar makin ganteng dan wangi* ...."
Aku menunggu diatas kasur sementara Mas Indra sedang mandi. Kulihat ada pesan masuk dari sahabatku, Fani, yang berisi :
__ADS_1
[*Cin ... ponakan gue datengnya besok bukan lusa, hahahaa ....]
[Yaudah gakpapa, Fan ... berenangnya sore aja kan? gue juga mau jemput Maya habis jemput Lea sekolah.]
[Okay deh, Cin ... besok sore jadinya yahh ....]
[Iyee ....]
[Belum tidur lu, tumben? biasanya jam segini HP lu udah koid, terus gue baru dapat balasan besok siang.]
[Laki gue baru aja pulang tuh ... gue juga kagak bisa tidur kalau sendirian.]
[Hiliihh ... manja, lu ... dasar Micin ....]
[Kayak lu nggak sama aja? Lu manja sama suami lu, yyeekk!]
[Iya, yaa ... ya gakpapa sih, Cin ... manja sama suami sendiri yang penting ... bukan suami orang. Hahahha.]
[Manja sama suami orang, mau di labrak sama istri sah nya? wkwkwkwkk]
[Eh, Sa ... gue punya ghibahan baru soal si Nadia, lu udah denger belum ceritanya?]
[Belum ... eh, gimana, gimanaa?? ceritain donkk* ...] balasku antusias.
"Chat sama siapa, Hun?" Mas Indra yang baru saja keluar dari kamar mandi mendekatiku.
"Fani, Mas ..." jawabku jujur.
"*Udahan dulu, Hun ... lanjut besok yaa ... sekarang waktunya kita berduaan ...."
"Iyaa, Mas ... aku balas dulu terakhir yaahh ...."
[Fan, besok yee ceritanya ... Mas Indra udah disini.]
[Ho'oh, Cin ... met tidur yaa ... sering-sering dah lu berdua bikin baby biar cepet jadi. Hahhaha.]
[Iyaa nih lagi ngebut ... beberapa hari ini udah berapa kali aja dah ... wakakkaa.]
[Jiaahh ... parahh, lu, kipaasss ... good night (selamat tidur), Fan.]
[Good night (Selamat tidur), Micin*.]
Aku mematikan HP dan meletakkannya jauh dari jangkauanku.
"Hari ini Lea nakal apa nggak, Hun?" Mas Indra memulai pertanyaan 'pillow talk' kami.
"*Enggak kok, Mas ... tadi cuman takut aja ke toilet pipis sendiri, katanya takut ada hantu."
"Ohya?"
"Iyupz ... ditakut-takutin sama Mamanya kayaknya tuh ...."
"Kamu bilang aja kalau nggak ada hantu."
"Udah donk ...."
"Pinter deh istriku ... mwahh ...."
"Wohoo ... jelas ... siapa dulu suaminya?"
"Ohya, Sayang, Rabu depan kan harusnya aku ada meeting kerja ke Singapura, tapi karena status peringatan 'virus corona' disana udah sentuh garis oranye, jadi di batalkan dan pindah ke Bali. Kamu ikut aku yaa, Hun .. kita menginap beberapa malam disana?"
"Lea gimana, Mas?"
"Kalau Neneknya udah datang ya sama Neneknya."
"Udah pasti kan datangnya dalam minggu ini*?" tanyaku penasaran.
"*Kayaknya sih iyaa. Yaudah tidur yukk ... maaf ya, Hun ... kamu jadi nungguin aku tadi, mwahh ...."
"Iya nggak papa, Mas ... aku juga kan gak bisa tidur kalo sendirian, hahahha ...."
__ADS_1
"Kayak gitu suka sok-sok an ngunciin aku di luar, kamu nih yaa ... mwahh ... good night, Sayangku ... I love you."
"Night, Mas ... I love you*."
____________
• Hari ke 13
Teringat apa yang dikatakan Fani semalam, pagi ini saat Mas Indra sedang pergi berolahraga dan Lea belum ku bangunkan, aku bergegas ke kamar mandi dan melakukan tes urine. Hari ini memang sudah telat 3 hari dari jadwal mens ku tiap bulannya. Aku memang rajin menandai tanggal kapan aku datang bulan agar aku tahu kapan tamu itu kira-kira akan datang.
Aku deg-degan menunggu hasil tes itu ... Positif atau Negatif?
Sebenarnya sama dengan Fani, aku juga rutin mengecek jika telat lebih dari tiga hari dari jadwal tamu datang.
Dan ternyata hasilnya ....
Masih belum ada garis dua.
Perasaan cukup sedih dan gurat kecewa memang sering kurasakan saat melihat hasil itu, makanya terkadang aku tidak mengecek lagi.
Ku bisikkan pada diriku bahwa,
"Ini belum 'waktunya', Sa ... artinya emang mesti sering bikin nih ... xixixi," hiburku dalam hati.
Aku membangunkan Lea dan membuatkan roti coklat kesukaannya. Ku bilang padanya kalau siang ini kami akan menjemput Maya dan akan berenang sore ini dengan keponakan Fani juga, si Dinda. Aku meningatkan Lea untuk tidak nakal lagi pada Maya. Karena jika itu sampai terjadi, bukan hanya batal berenang, aku juga akan mengantarkan Lea pulang ke rumah Mamanya.
"*Aku nggak mau nakal lagi kok, Momi ...."
"Iyaa ... anak pinter ... kalau Lea sampai nakal lagi, akan apa?"
"Pulang*," jawab bocah itu sambil tersenyum.
"*Emang Lea mau pulang?"
"Nggak mau ...."
"Kenapa?"
"Aku sukanya disini sama Papa sama Momi ... sama Maya."
"Okay, tapi nggak boleh nakal lagi loh yah ... 'promise' (janji*)?" aku mengacungkan jari kelingkingku kepadanya pertanda mengajak untuk berjanji agar monster kecil itu tidak nakal lagi.
"Promise!" Lea juga mengulurkan jari kelingkingnya kepadaku.
"Promise of what? (Janjian apa?)" Mas Indra keluar dari kamar dan mendekati kami.
"It's a secret! (Ini rahasia!)" jawabku bercanda.
"*Yes, Papa ... it's a secret ... (Iya, papa.. ini rahasia) hihihihii."
"Tell me ... tell me ... (beritahu aku*) ..." Mas Indra menyerang aku dan Lea dengan menggelitik perut kami berdua.
"No ... (Tidak) ..." jawabku.
"We are going to swimming this afternoon (Kami akan pergi berenang sore ini)." Lea akhirnya menyerah dan membocorkan percakapan kami tadi karena terus di serang dengan gelitikan oleh Papanya.
Kulihat anak itu begitu ceria dan terlihat kebahagiaan di raut wajahnya mendengar Maya akan kesini dan kami hendak berenang bersama dengan Dinda juga sore ini.
Wajah bahagia dan ceria itu tidak pernah kulihat sebelumnya. Sebelum monster kecil itu tinggal disini beberapa hari ini, setiap akhir pekan dan kami pergi ke mall maupun jalan-jalan, mukanya selalu cemberut, cengeng, ngambekan, mudah marah dan selalu merengek minta dibelikan mainan yang jika tidak kami turuti, dia akan menangis dan membuat Mas Indra semakin merasa bersalah dan kemudian membelikan apapun yang Lea mau asal dia tidak menangis lagi.
Apakah beberapa hari tinggal disini dapat merubahnya secepat itu?
Apakah aku terlalu keras padanya?
Apakah aku terlalu berlebihan dan kejam pada anak tiriku itu?
Apakah yang aku lakukan sudah tepat?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di otakku saat aku dan Mas Indra mengantar Lea ke sekolahnya.
Tapi setidaknya dengan perubahan Lea kini, 'mood'ku juga jadi lebih baik, aku tidak lagi bete' dan kesal setiap kali aku melihat sosok monster kecil itu di hadapanku.
__ADS_1
Mungkin pelan-pelan aku sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Lea dan bisa jadi aku bisa menerimanya berada di tengah-tengah kami, meskipun sebenarnya aku tidak menginginkan hal itu.